Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M Bagian 36


__ADS_3

"Sendirian saja, mau saya temani?" tanpa menunggu jawaban dari Juan, Susan langsung duduk di bangku kosong yang ada di sebelah pria itu.


Juan hanya diam. Pria itu masih sibuk dengan minuman di tangan.


"Tari, dimana kamu? Maafkan aku, gara-gara kebodohanku, aku mendorongmu ke lembah penderitaan. Andai saja aku tahu pria itu akan menjualmu, aku tidak akan menyerah dan membiarkanmu menikah dengan dia. Maafkan aku Tari, maafkan aku." Juan terus meracau.


"Siapa Tari? Kekasihmu?" tanya Susan yang berpura-pura tidak mengenal Mentari. Dia ingin tahu sebesar apa perasaan pria itu terhadap sahabatnya.


"Dia adalah mantan kekasihku. Wanita satu-satunya yang aku cintai. Seandainya aku bisa memutar waktu, tidak akan aku melakukan kebodohan itu. Andai bisa memutar waktu, aku akan terus berlutut sampai dia mau memberikan aku maaf, andai aku bisa memutar waktu tidak akan aku biarkan dia menikah dengan pria brengsek tersebut. Tapi sayang, aku Tuhan yang bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu."


"Memang kenapa sampai kamu ingin memutar waktu demi dia?" tanya Susan lagi.


"Gara-gara aku dia menderita dan sampai sekarang aku belum menemukan keberadaannya.


"Maksudmu apa?"


"Mentari dijual oleh suaminya entah kemana. Aku sudah mencarinya ke berbagai tempat hiburan malam. Tapi, hingga saat ini aku belum menemukannya."


"Jika benar dia sudah dijual berarti dia sekarang mungkin sudah menjadi... maaf seorang psk, memangnya kamu masih mau menerima dia? Padahal tahu sendiri wanita seperti itu sering gonta ganti pasangan. Kalau aku jadi kamu, aku sih ogah bersama dengan wanita kotor seperti dia." Susan sengaja memancing emosi Juan. Dia penasaran apa pria itu masih akan tetap mencintai Mentari saat tahu Mentari adalah seorang wanita malam?


"Aku tidak peduli itu, asal aku bisa menemukannya. Selamanya aku akan mencintai dia, aku akan berusaha membahagiakan dia sampai aku mati," jawab Juan.


Tari meneteskan air mata mendengar kata-kata Juan barusan. Ternyata perasaan Juan terhadapnya masih sama seperti dulu, pria itu tetap mencintainya, meski tahu sekarang dia bukan lagi Mentari yang dulu.


"Sudah hentikan!" Susan merebut botol minuman dari tangan Juan. "Kamu sudah terlalu mabuk. Kamu tidak akan bisa jalan kalau terus-terusan minum."


Juan merebut kembali botol minuman dari tangan Susan. "Aku tidak peduli," jawabnya sambil kembali menenggak minuman tersebut. Dan benar, setelah beberapa menit Juan benar-benar tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dengan bantuan orang-orang di bar, Susan membawa Juan ke salah satu kamar yang ada di sana. Dia segera memberitahu Mentari tentang keadaan Juan sekarang.


"San, bagaimana keadaan dia?" tanya Mentari begitu ia berhasil meloloskan diri dari tamunya.


"Sepertinya dia mabuk berat," jawab Susan sambil menatap Juan yang terbaring di tempat tidur.


"Ohya, bagaimana dengan tamumu? Apa dia tahu kalau kamu ke sini?"


Mentari menggeleng. "Tidak. Tadi, aku beralasan kalau aku tiba-tiba halangan dan sakit kepala. Aku bilang, aku ingin beristirahat di kamar," jawab Mentari.


"Terus anak buah Bos Frengky?"


"Tadi setelah mengantarku ke kamar dia pergi. Setelah itu barulah aku ke sini. Semoga saja, anak buah Bos Frengky tidak memeriksa kamarku," jawab Mentari.


"Tar, malam ini kamu temani saja dia di sini. Biar aku yang tidur di kamarmu. Jadi, kalau anak Bos Frengky memeriksa kamarmu mereka tidak akan curiga kalau kamu berada di sini."


"Aku tahu, sama halnya seperti pria itu kamu juga merindukan dia kan?" sela Susan.


Mentari masih diam. Jujur melihat Juan berada dekat dengannya membuat Mentari merasa sangat bahagia. Tapi, di sisi yang lain, dia juga takut kalau Juan akan terkena masalah karena dirinya.


"Nikmatilah kebersamaanmu dengan dia malam ini. Kamu tidak akan tahu kapan lagi kamu bisa sedekat ini dengan dia kan?" ucap Susan lagi. "Besok aku akan ke sini sebelum subuh, jadi dia tidak akan tahu kalau kamu menemaninya malam ini."


Susan langsung meninggalkan kamar tersebut dan membiarkan Mentari bersama dengan Juan. Meski sekali, Susan ingin sahabatnya tersebut kembali merasakan kebahagiaan. Sejak masuk ke tempat ini, tidak satu haripun Mentari bisa tersenyum. Dia berusaha menelan kepahitan yang terjad di dalam hidupnya seorang diri.


"Juan, akhirnya setelah sekian lama aku bisa kembali melihat wajahmu." Mentari menyentuh wajah tampan Juan dengan menggukan jari telunjuk.


"Kamu tetap sama seperti dulu, tetap tampan dan menawan. Aku sangat merindukanmu, Juan," gumam Mentari. Dengan sangat berhati-hati dia mengecup pipi Juan.

__ADS_1


Mata Mentari membulat saat tiba-tiba Juan membuka matanya.


"Tari, apa itu kamu? Jangan pergi lagi, Tari! Jangan tinggalkan aku!" Juan membawa Mentari ke dalam pelukannya.


"Juan... lepaskan aku! Jangan seperti ini, aku tidak pantas untukmu!" Tari berusaha melepaskan diri dari pelukan Juan.


"Jangan katakan itu, Tari. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Dengan rakus Juan melahap bibir berwarna pink milik Mentari. Bibir yang sudah sangat lama ia rindukan.


Awalnya Mentari berusaha menolak dengan mendorong tubuh pria itu. Sayangnya tidak berhasil, serangan Juan justru semakin ganas dan membuat Mentari akhirnya tidak bisa mengendalikan diri. Dia pun membalas kecupan dari Juan tersebut.


Kerinduan yang mendalam dan hasrat keduanya yang membuncah membuat dua orang yang memang saling mencintai itu akhirnya terbawa dalam buaian gairah. Malam itu keduanya melewatkan malam panas bersama.


*


Keesokan paginya....


Juan bangun dengan kepala yang terasa sangat berat. "Pusing sekali," ujarnya.


Saat berusaha bangun dari posisinya, bayangan kejadian semalam samar-samar berputar di kepala. Iya, Juan ingat kalau malam itu ia melihat Mentari dan keduanya kemudian menghabiskan malam bersama. Satu sisi Juan bahagia karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan wanita yang menjadi penguasa di hatinya. Namun, disisi lain dia menyesal karena tidak mampu mengendalikan nafsu.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Bisa-bisanya aku berbuat seperti itu kepadanya?" rutuk Juan.


"Tidak! Ini bukan waktunya aku merutuki diri sendiri, sebaiknya aku segera menemui Tari dan membawanya pergi dari sini." Buru-buru Juan memakai semua pakaiannya.


Juan cukup senang saat melihat wanita dengan jubah mandinya duduk di depan meja rias membelakangi dirinya. Juan langsung memeluk wanita itu dari belakang.


"Tari, akhirnya aku menemukanmu. Kali ini tidak akan aku biarkan kamu pergi dari sisiku lagi." Pelukan Juan semakin erat.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?"


__ADS_2