
"Tidak! Jika gue bilang sepertinya Tari tidak bahagia, bisa-bisa Juan nekat nyusulin dia," batin Rangga.
"Ngga, kok diem?" tanya Juan lagi.
"E... barusan sinyal disini agak kurang bagus, makanya suara lo putus-putus," jawab Rangga. "Oh iya, tadi gua ngomong apa ya. Gue kok lupa." Bintang terpaksa harus berbohong.
"Masih muda, udah mulai pikun aja lo. Makanya jangan pacaran mulu!" Juan mencibir. "Tadi... Lo bilang kalau Tari sepertinya kenapa gitu? Lo curiga sesuatu, Ngga?" Juan kembali ke pokok pembicaraan mereka.
"E... Lo salah denger kali. Tadi, gue cuma bilang kalau sepertinya Tari udah lupa sama lo. Makanya lebih baik lo segera move on, lupain Mentari! Gue yakin, di sana banyak cewek cantik yang bisa lo jadiin pacar." Lagi, Bintang harus berbohong. Tetapi, soal Juan harus move on, itu adalah harapan Rangga. Dia tidak mau melihat sahabatnya terus-terusan memikirkan wanita yang sudah menjadi istri pria lain dan terus menyesali tindakan bodohnya dulu.
Juan terdiam. Memang benar hingga detik ini, hati dan pikirannya masih milik Mentari. Dan setiap memikirkan itu, ia jadi terus menyesali tindakan bodohnya.
__ADS_1
"Juan, gue rasa sudah waktunya lo move on. Lupain Tari. Lo juga berhak bahagia, jangan siksa diri lo dengan terus menyesali tindakan bodoh lo waktu itu. Mulai lah menerima kenyataan bahwa lo dan Tari memang tidak ditakdirkan bersama. Kalian hanya ditakdirkan untuk saling singgah dan memberikan warna dalam hidup kalian." Kali ini Rangga sedikit memberikan masukan kepada sahabatnya tersebut.
Kembali Juan terdiam. Dia juga ingin move on dari cintanya itu. Namun, semakin dia mencoba melupakan Mentari, semakin dia ingat akan wanita itu. Kemudian penyesalan itu kembali muncul berlipat-lipat ganda.
"Juan. Cobalah menjalin hubungan baru, mungkin dengan begitu lo bisa lupain perasaan lo ke Tari." Rangga memberikan masukan lagi.
Juan menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Gue akan coba," jawabnya kemudian.
"Baguslah. Gue doain semoga lo bisa dapat cewek yang bisa bikin lo jatuh cinta lagi dan bisa bantu lo buat lupain, Tari." Rangga menyampaikan harapannya.
"Ya udah ya, Juan. Gue tutup dulu, gue masih ngantuk."
__ADS_1
"Iya-iya. Maaf ya, Ngga, karena gue ganggu waktu istirahat lo."
"It's Ok. No problem. Lo bisa ngehubungi gue kapan aja, asal nggak tiap detik lo ngehubungi gue aja. Kalau lo ngelakuin itu, kita berdua bisa dianggap pasangan pelangi," jawab Rangga. Juan hanya terkikik mendengarnya.
"Sekali lagi thank ya, Ngga. Gue akan coba lakuin saran dari lo. Good night, Ngga," ucap Juan sebelum menutup sambungan teleponnya.
Juan kembali meletakkan benda pipih yang baru saja digunakannya di atas meja. Helaan napas kembali keluar dari mulutnya. Meski dia sudah bilang akan mencoba melakukan saran yang diberikan oleh sahabatnya barusan, rasanya terlampau sulit untuk ia lakukan saat ini.
Juan melihat ke arah jam tangannya sebentar, ini sudah waktunya ia berkeliling mengunjungi pasiennya. Juan bangun dari tempat duduknya, dia kemudian memakai jubah putih kebanggaan dan menggantungkan stetoscop di leher.
Juan mulai mengunjungi dan memeriksa pasiennya satu per satu hingga tanpa ia sadari sudah waktunya ia pulang. Sebelum pulang, Juan mengganti baju dinasnya dengan pakaian biasa.
__ADS_1
"Semoga malam ini nggak ada panggilan operasi, jadi gue bisa sedikit mengistirahatkan badan." Juan berbicara keada dirinya sendiri. Dia melangkah ke luar dari rumah sakit.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika seseorang tiba-tiba menghalangi jalannya.