Juan Dan Mentari

Juan Dan Mentari
J & M - Bagian 15


__ADS_3

Mentari mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah tersebut. Dia agak kaget ketika melihat rumah yang terlihat seperti bangunan sederhana dari luar, namun di dalamnya justru dihuni banyak orang dan mayoritas adalah perempuan.


Mentari menarik ujung kemeja yang dipakai oleh suaminya. "Mas, beneran ini rumah teman kamu?" tanyanya.


"Iya, kenapa?" jawab Iwan yang justru balik bertanya.


"Kenapa disini banyak perempuan ya, Mas? Sebenarnya pekerjaan teman kamu itu apa sih?" tanya Mentari penasaran.


"Temanku penyalur TKW," jawab Iwan. "Jangan khawatir usahanya legal kok," tambah Iwan.


"Terus untuk apa kita kesini?"


"Hanya mampir saja sebelum kita ke rumah. Soalnya sudah lama aku nggak ketemu teman lama ku ini," jelas Iwan sambil tersenyum. "Ayo, masuk! Kata temenku tadi, dia sudah ada di ruang kerjanya!" ajaknya.


Meskipun merasa ada sesuatu yang menurutnya janggal, Mentari berusaha untuk berpikiran positif. Orang tua Iwan adalah orang yang baik, jadi Mentari juga yakin kalau suaminya juga pasti orang yang baik.


Seorang laki-laki bertato dan berbadan besar mempersilakan Iwan dan Mentari untuk masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang kerja dari teman yang dimaksud oleh Iwan.


"Tunggulah di sini sebentar lagi Bos akan datang!" ujar lelaki berbadan besar tersebut. Laki-laki itu kemudian keluar dari sana.


"Duduklah, Tar!" suruh Iwan. "Santai saja, meski dia kelihatan sangar, dia baik kok," ujar Iwan. Dia tahu hal yang menjadi sumber keresahan Mentari.


Tari ikut duduk di sebelah suaminya. Sekitar sepuluh menit kemudian datanglah orang yang dipanggil dengan sebutan Bos Besar.


"Bos kenalkan dia istriku, namanya Mentari." Iwan memperkenalkan Mentari kepada lelaki yang dipanggil Bos tersebut.


"Jadi kamu setuju?" tanya Bos Besar tersebut kepada Iwan.

__ADS_1


"Aku masih memikirkannya. Kalau semua cocok akan aku lepas," jawab Iwan.


Mentari yang tidak mengerti maksud pembicaraan itu hanya diam sambil mencoba menyimak hal yang sedang dua laki-laki tersebut bicarakan.


Mentari merasa risih ketika lelaki yang disebut sebagai teman suaminya itu menatapnya dari atas hingga bawah. "Boleh juga. Masih segel?" tanyanya kepada Iwan.


"Masih. Tapi, aku tidak mau menyerahkannya dalam keadaan bersegel. Karena aku mau, akulah orang yang pertama memilikinya," jawab Iwan.


"Baiklah, tidak masalah. Tapi, kapan kamu akan menyerahkannya?" tanya lelaki itu kepada Iwan.


"Secepatnya," jawab Iwan.


"Baiklah, aku tunggu. Aku akan anggap impas saat semuanya sudah berada di sini," ujar lelaki itu lagi.


"Mas, kalian membicarakan apa sih?" tanya Mentari dengan berbisik.


"Kamu sudah lihat kan? Sekarang aku cabut dulu setelah semua selesai akan aku serahkan kepadamu." Iwan kemudian bangun dari tempat duduknya.


"Oke. Tapi, jangan terlalu lama atau harganya akan turun dan kamu tetap harus membayar sebagian hutangmu itu."


"Sip." Setelah mengatakan itu, keduanya berjabat tangan.


Iwan kemudian membawa istrinya keluar dari sana.


***


"Mas, kamu kenal dia dimana sih?" tanya Mentari ketika keduanya sudah berada di dalam taksi kembali. "Teman kamu itu kayak aneh gitu deh. Kamu yakin dia penyalur TKW legal? Bukan ilegal?"

__ADS_1


"Yakin. Usahanya sudah jalan lebih dari sepuluh tahun kok dan sudah banyak TKW yang diberangkatkan ke luar negeri," jawab Iwan.


"Tapi, kenapa aku tetap merasa dia aneh ya? Dia itu kayak sindikat perdagangan manusia. Lihat saja! Di rumahnya tadi rata-rata isinya perempuan dengan usia yang relatif muda. Dan aku perhatikan tadi di setiap sudut rumah itu selalu dijaga oleh pria-pria aneh." Mentari mengutarakan keanehan yang ia rasakan kepada Sang Suami.


"Jangan berasumsi macam-macam! Belum tentu yang kamu lihat sama seperti yang ada dipikiranmu!" tegur Iwan.


"Ohya, Mas, apa yang kamu bicarakan tadi? Memang kalian sedang melakukan bisnis apa? Dan kenapa kamu memanggilnya Bos?" Mentari masih penasaran dengan hal yang dibicarakan oleh Iwan bersama dengan laki-laki yang dikatakan sebagai temannya itu.


"Bukan apa-apa, Sayang. Dari dulu dia itu suka bayarin semua teman-teman sekelas, makanya kami semua memanggilnya dengan sebutan Bos Besar. Meski terdengar negatif dan menakutkan, dia itu sangat baik Sayang. Dia sering bantu orang yang kekurangan," jelas Iwan.


"Ohya?"


"Iya. Makanya jangan nilai orang melalui tampangnya, karena tampang bisa menipu," jawab Iwan lagi.


"Lho Mas, katanya mau ke rumah orang tua kamu kok malah sekarang berhenti di hotel sih?" tanya Mentari lagi ketika taksi yang ditumpangi mereka berhenti tepat di depan hotel.


"Sebelum ke rumah papa aku ingin mengajakmu menginap di sini. Tidak apa-apakan?" Mentari sontak terdiam.


"Ya... Tidak apa-apa sih," jawab Mentari lagi.


"Ayo masuk! Aku sudah pesan kamar untuk kita!" ajak Iwan lagi.


Mentari kembali menurut. Dia mengikuti Iwan masuk ke dalam hotel tersebut.


"Sebelum aku menyerahkanmu kepada Bos Besar, aku harus mencicipi tubuhmu terlebih dulu Tari. Tadinya aku tidak mau menjadikanmu sebagai alat untuk membayar hutang, tapi aku berubah pikiran setelah melihatmu berciuman dengan pria itu semalam. Jadi, jangan salahkan aku karena ini!" ucap Iwan dalam hati.


Dia merangkul pundak istrinya dan membawanya masuk ke dalam hotel tersebut.

__ADS_1


__ADS_2