
Meskipun tidak percaya, Iwan kembali menanyakan hal yang sama kepada Mentari, "Tari, apa kamu masih mau menikah denganku?"
"Aku ...."
"Bagaimana apa kalian masih mau melanjutkan pernikahan ini?" tanya Sang Penghulu.
Iwan kembali menatap Mentari dan memberinya kebebasan untuk memilih.
"Aku … aku akan tetap akan menikah denganmu," jawab Mentari.
"Semoga keputusanku ini tepat ya Tuhan," ucap Mentari dalam hati.
Akhirnya prosesi ijab pun dimulai. Penghulu yang menjadi wali dari Mentari pun menjabat tangan Iwan. "Saudara Iwan Mahendra Bin Handoko, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Mentari Raisya Putri Binti Suhendra almarhum dengan mas kawin emas 50 gram dan uang dua puluh juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Raisya Putri Binti Suhendra almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Iwan mengucapkan kalimat ijabnya dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Sah?
"Sah."
Setelah semua saksi mengatakan SAH, saat itulah Mentari melihat Juan menatapnya dari luar. Dia memang tersenyum, tetapi sorot matanya menampakkan kesedihan yang teramat karena harus kehilangan dirinya.
"Juan," lirih Mentari sambil terus menatap ke arah mantan kekasihnya itu.
"Sayang, ayo cium punggung tangan suamimu!" seru Ratih kepada putrinya. Namun, Mentari masih diam, tatapan matanya terus menatap ke luar rumah dan tentu saja itu membuat Iwan ikut melihat ke arah yang sama.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa Tari terus menatapnya?" batin Iwan.
"Kak," panggil Bintang sambil menyenggol lengan kakak perempuannya.
"I_iya, Bi. Ada apa?" tanya Mentari terbata, dia menatap adiknya dengan tanda tanya.
"Kakak di suruh cium punggung tangan Kak Iwan," bisik Bintang.
"Iya," jawab Mentari. Sebelum dia mencium punggung tangan Iwan, Mentari kembali melihat Juan di luar. Namun, pria itu sudah tidak ada di sana.
Entah kenapa gara-gara melihat Juan, Mentari menyesali keputusan yang dia ambil.
"Maaf, aku ijin ke belakang sebentar." Tari berpamitan kepada semua yang ada di tempat acara. Dia memilih lari masuk ke dalam toilet.
"Saya juga permisi sebentar ya Nak Iwan, Pak Handoko." Pamit Ratih. Dia mengikuti putrinya ke toilet.
"Tari, Tari Sayang, buka pintunya, Nak!" seru Ratih. Dia terus mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Mentari masih membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Dia tidak ingin suara isakan tangisnya di dengar oleh orang lain terutama sang ibu. Dia yakin kalau ibunya tahu, dia akan bersedih atas pernikahan ini dan akan lebih sedih melebihi kesedihan yang dia rasakan.
"Tari, buka pintunya Sayang!" suruh Ratih yang semakin panik.
Mentari tetap berusaha menahan isakannya.
"Tari sayang, ada apa, Nak? Apa yang terjadi?"
Setelah sedikit merasa tenang, Mentari membasuh mukanya dengan air. Dia tidak ingin ibunya tahu kalau dia baru saja menangis.
Kriet.
Bunyi pintu terbuka dan Mentari keluar dari dalam kamar mandi sambil menampakkan senyum manisnya. "Ada apa, Bu? Kenapa Ibu sampai mengikuti Tari ke sini? Tari tidak apa-apa, kok."
"Benar, Nak, kamu tidak apa-apa?" Ratih memperhatikan putrinya dengan seksama.
"Benar, Bu. Tari tidak apa-apa," jawab Mentari berbohong.
"Lalu kenapa kamu lari ke kamar mandi, Nak? Kamu sakit?" selidik Ratih.
"Ti_tdak, Bu. Tari tidak sakit. Tari hanya ... kebelet tadi," jawab Mentari yang kembali berbohong.
"Kamu tidak sedang membohongi, Ibu, kan?"
"Baiklah, Ibu tinggal ya Nak. Kalau ada sesuatu cerita sama ibu."
Mentari mengangguk. Setelah ibunya pergi, Mentari kembali masuk ke kamar mandi. Dia kembali menangis di sana.
Hampir setengah jam Mentari berada di dalam kamar mandi, meratapi keputusannya yang salah. Dia memutar tuas kran air untuk kembali membasuh mukanya. Setelah itu dia membersihkan sisa air di wajahnya menggunakan tisu.
Mentari menarik napas kemudian menghembuskannya. Tarik napas lagi, dan menghembuskannya kembali. Dia melakukan itu berkali-kali untuk sedikit mengurangi kesedihan yang dia rasakan. Setelah merasa tenang dan bisa mengendalikan emosi di dalam hati, dia melihat wajahnya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Mentari mencoba tersenyum, meski itu terasa sangat sulit. Padahal semalam dia sudah yakin dengan keputusan yang dia ambil, tapi, begitu melihat wajah Juan tadi, membuat hatinya kembali goyah. Namun, semua sudah terjadi. Sekarang dia adalah istri orang lain, pantang baginya untuk memikirkan laki-laki selain suaminya.
Setelah merasa sudah tidak ada lagi air mata yang menetes, Mentari melangkah ke luar dari kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika ada yang memegang pundaknya dari belakang.
"Apa kamu baik-baik saja?" suara itu mengagetkan Mentari.
"Mas Iwan." Mentari mengusap dadanya. "Kamu hampir saja membuatku jantungan, Mas," ucap Mentari.
"Kenapa kamu begitu lama berada di kamar mandi? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Iwan. Dia juga mengkhawatirkan keadaan wanita yang sekarang menjadi istri sahnya.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja kok," jawab Mentari sambil tersenyum.
"Lalu kenapa matamu terlihat sembab? Apa kamu habis menangis?" tanya Iwan, dia menelisik menatap jauh kedalam manik sang istri.
__ADS_1
"T_ti_tidak, tadi mataku hanya sedikit terkena debu. Makanya berair dan terlihat sembab." Untuk yang kesekian kalinya Mentari kembali berbohong.
"Benarkah? Lalu apa sekarang matamu sudah tidak kenapa-napa?" tanya Iwan lagi. Terlihat kalau pria itu sangat mengkhawatirkannya.
"Iya, mataku baik-baik saja sekarang," jawab Mentari. Ada perasaan bersalah dihati Mentari saat melihat Iwan mengkhawatirkan keadaan dirinya.
"Ayo, kembali ke tempat acara, semua orang sudah menunggu kita!" ajak Iwan.
"Iya."
Mentari dan Iwan meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju ke tempat pesta pernikahan mereka di selenggarakan.
****
Di apartemen Rangga….
Rendi dan Nino seketika menghentikan aktivitas mereka saat melihat wajah murung sahabatnya. Sebelum Juan datang, mereka sedang sibuk dengan layar laptop masing-masing. Keduanya sedang menyelesaikan pekerjaan mereka di sana. Setelah meletakkan laptop di atas meja, Rendi dan Nino menghampiri Juan yang telihat murung.
"Juan, ada apa?" tanya Rendi. Dia menepuk pundak sahabatnya tersebut.
"Hari ini Tari resmi menjadi milik orang lain," jawab Juan. "Dan inii semua salahku, andai aku tidak mementingkan egoku, saat ini Tari pasti masih berada di sisiku. Sekarang, aku benar-benar sudah kehilangan dia."
Juan tersenyum miris, dia menertawakan kebodohannya sendiri.
"Juan," lirih Rendi. Dia ikut prihatin dengan nasib percintaan sahabatnya.
"Besok aku akan kembali ke Amerika. Dan kemungkinan aku akan menetap di sana dalam kurun waktu yang lama," jelas Juan.
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu, apa kamu sudah membicarakan keputusanmu ini dengan mereka?" tanya Nino.
"Papa dan Mama pada dasarnya setuju, karena sejak awal mereka memang menyuruhku untuk berkarir di sana dan kembali setelah aku sukses," jawab Juan.
Juan mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Rendi dan Nino tidak bisa berkata apapun lagi, mereka hanya bisa mendukung keputusan yang diambil oleh sahabatnya tersebut.
"Kamu yakin dengan menjauhi Mentari, kamu bisa melupakan perasaanmu padanya?" kini Nino yang ikut bertanya. Bukannya dia tidak yakin dengan keputusan yang diambil oleh sahabatnya tersebut. Namun, Nino sudah sangat hapal dengan watak sahabatnya. Mau ribuan mil bahkan jutaan mil dia pergi menjauh, hati sahabatnya itu tidak mungkin dengan mudah berpaling, apalagi Mentari adalah satu-satunya wanita yang berhasil meluluhkan hatinya dari ratusan wanita yang mengejar-ngejar cintanya dulu.
"Memang akan sulit bagiku untuk melupakan Tari, tapi bukan berarti tidak bisa kan?" jawab Juan sembari bertanya.
"Kamu benar, sulit bukan berarti tidak bisa. Rasanya aku tidak ikhlas harus berpisah denganmu secepat ini," ujar Nino.
"Kenapa aku geli ya mendengar hal itu dari mulutmu," canda Juan.
"Ternyata aku juga geli saat membayangkannya," sahut Nino lagi.
__ADS_1
Juan, Rendi dan Nino, ketiganya kembali tertawa bersama. Untuk sesaat, Juan bisa melupakan kegundahan hatinya.