
Iwan mengerang kesal karena kegiatannya harus diganggu oleh sang adik ipar. Iya, saat Iwan sedang berada di puncak kenikmatan semua buyar karena adanya panggilan masuk di nomor ponsel Mentari. Ia terpaksa menghentikan kegiatannya padahal tinggal sedikit lagi kenikmatan dunia itu akan direngkuh olehnya.
"Siapa?" tanya si wanita bayaran tanpa bersuara. Wanita itu pun kesal karena kesenangannya diganggu oleh hal-hal yang tidak penting.
Iwan tidak menjawab, dia hanya menempelkan jari telunjuknya di bibir sebagai tanda bahwa wanita yang dari tadi bersamanya itu harus diam.
"Eh, kamu Bintang. Maaf ya Tari bilang dia tidak mau diganggu. Dia juga berpesan kalau mulai sekarang jangan menghubunginya lagi. Dia malu memiliki keluarga miskin seperti kalian. Apalagi setelah ini rencananya kami akan menetap di luar negeri," jawab Iwan tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi Bintang untuk menanggapinya. Iwan memberikan kode kepada wanita yang ada diatas ranjang untuk bersuara. Sebelumnya Iwan menulis sesuatu di atas kertas dan ditunjukannya kepada wanita itu.
"Mas Iwan, itu dari adikku ya? Bilang saja aku udah bosan hidup miskin. Jadi, aku tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi. Udah, Mas, kalau mereka menghubungimu lagi, jangan pernah dijawab." Wanita itu membaca tulisan yang Iwan tulis.
"Kamu udah dengar kan, Kakakmu ngomong apa barusan? Udah ya, kami nggak ada waktu buat meladeni kalian!"
Tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya, Iwan langsung menekan tombol berwarna merah. Dia kembali naik ke atas ranjang dimana wanita dengan tubuh polos menanti dengan tidak sabar. Keduanya melanjutkan pergumulan mereka yang sempat terhenti tadi.
*
"Bintang. Ada apa, Nak? Apa yang terjadi dengan Kakakmu?" untuk kesekian kalinya Ratih kembali bertanya kepada putri keduanya.
"Bu.... " Bintang tidak melanjutkan perkataannya. Dia takut sang ibu akan shock, jika ia menyampaikan pesan dari kakaknya barusan.
"Ada apa, Nak?"
"Tidak ada apa-apa, Kak Tari dan Mas Iwan bilang mereka terlalu sibuk, makanya belum sempat menghubungi kita," jawab Bintang berbohong.
Helaan napas keluar dari mulut Ratih. Dia merasa lega karena tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada putrinya. "Syukurlah kalau Kakakmu tidak kenapa-napa," ujar Ratih. Bintang hanya menanggapinya dengan senyum yang dipaksakan.
"Tapi, Sayang. Kenapa tadi kamu terlihat shock Kamu tidak sedang membohongi ibu kan?" Ratih kembali bertanya. Dia ingat sesaat setelah panggilan putrinya itu terjawab, Bintang terlihat seperti orang linglung.
"Tidak kok, Bu. Tadi... tadi perut Bintang tiba-tiba perih. Bintang baru ingat, kalau Bintang tidak makan sejak kemarin." Lagi Bintang terpaksa harus membohongi sang ibu. Dia tidak mungkin mengatakan semua hal yang didengarnya di telepon barusan.
"Kak, kenapa kamu berubah? Kenapa kamu jadi setega ini sama kami? Padahal baru kemarin Kakak pergi meninggalkan rumah ini. Apa kekayaan keluarga Mas Iwan sudah membutakan mata hati Kakak sekarang?" Bintang membatin. Ingin sekali dia menangis sekeras-kerasnya dan memaki kakak yang selalu disayanginya tersebut. Bintang mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
__ADS_1
"Nak, kamu nangis?" tanya Ratih yang semakin cemas melihat putrinya tiba-tiba saja menangis.
Bintang memeluk ibunya tanpa bersuara. Dia menumpahkan segala rasa kecewa dan sakit hati dalam bentuk tangisan.
"Sayang, katakan sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Ratih membalas pelukan Bintang sambil mengusap rambut putrinya tersebut.
Bintang hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya.
***
Di tempat lain....
"Cepat pakai baju itu! Mulai hari ini kamu sudah harus melayani pelanggan!" seru seorang perumpuan dengan pakaian seksi. Perempuan itu melempar pakaian minim bahan ke Mentari.
"Apa maksudnya?" tanya Mentari bingung.
"Kamu sudah dijual oleh suami sebagai pelunas utang. Mulai sekarang kamu harus bekerja melayani para pelanggan! Ingat! Jangan macam-macam di tempatku karena anak buahku tersebar di segala penjuru tempat ini," jawab laki-laki yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
"Aku tidak mau! Iwan yang punya hutang, kenapa aku yang harus menanggung hutangnya!" tolak Mentari, dia melempar baju minim bahan yang diberikan.
"Karena kamu adalah istrinya," jawab laki-laki itu sambil memiringkan kepala dan tersenyum.
"Aku tidak mau!" Mentari tetap menolak.
Laki-laki berjalan mendekat ke arah Mentari. Dia mencengkeram rahang Mentari dengan keras. "Lakukan perintahku selagi aku masih menggunakan kata-kata! Jangan sampai aku melakukan seduatu untuk memaksamu!" ancamnya dengan wajah mengerikan. "Pakai baju itu dan bekerjalah dengan baik!" Dia melepaskan cengkeraman tanganya.
Takut. Itulah yang Mentari rasakan. Dia tidak pernah menyangka kalau Iwan akan menjualnya ke tempat seperti ini.
"Bantu dia memakai baju itu!" suruh laki-laki itu kepada wanita tadi. Setelah itu dia keluar meninggalkan tempat tersebut.
"Kamu sudah dengar perintah Bos besar barusan kan? Cepat pakai bajumu itu, sebelum aku menyuruh orang untuk menyiksamu!" Wanita itu menghardik Mentari dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Madam, biar aku yang membantunya," seorang wanita yang datang bersama wanita mengerikan itu menawarkan diri.
"Baiklah, Susan. Kamu bantu dia dan katakan semua hal yang harus dia lakukan saat menemui pelanggan!" jawab wanita yang dipanggil dengan sebutan Madam.
"Iya, Madam," jawab wanita yang diketahui bernama Susan.
Wanita yang dipanggil Madam itu pun keluwr dari kamar tersebut.
Wanita yang bernama Susan itu berjalan mendekati Mentari.
"Hai, aku Susan. Siapa namamu?" Susan memperkenalkan diri.
"Mentari," balas Mentari singkat.
"Sebaiknya kamu turuti perintah mereka karena kalau tidak mereka akan menyiksamu, Tari." Susan memberikan saran.
"Apa kamu dulu juga korban?" tanya Mentari. Wanita bernama Susan itu mengangguk.
"Aku juga sama sepertimu dulu, berusaha memberontak dan kabur dari sini. Tapi, aku tidak bisa. Yang ada semua tubuhku babak belur. Jadi, jangan melakukan hal yang sia-sia. Sekali kamu masuk ke tempat ini, selamanya kamu tidak akan bisa keluar." Susan menceritakan pengalamannya dulu.
"Tapi.... "
"Cara aman kabur dari sini adalah mencari pelanggan loyal dan buat dia membelimu," potong Susan. "Cepat pakai bajumu dan aku akan membantumu merias wajah!"
Mentari benar-benar bingung. Haruskah dia menyerah dan menerima dirinya dijadikan seorang PSK?
"Susan, cepetan! Sebentar lagi akan ada pelanggang yang ingin melihat barang baru!" Suara madam terdengar dari luar. "Kalau dia masih keras kepala, biar aku suruh anak buah Bos Besar menyiksanya!"
"Kamu dengarkan? Cepat pakai bajumu! Jangan sampai mereka menyiksamu!" seru Susan.
Mentari meremas baju di tangannya. Inikah awal penderitaannya karena telah terburu-buru mengambil keputusan?
__ADS_1
"Juan... Juan dimana kamu? Tolong lepaskan aku dari sini Juan!" jerit Mentari dalam hati. "Ibu, Bintang... tolong, Tari!" lirihnya.