
Hampir saja Mentari menyambut uluran tangan dari Juan. Beruntung sebelum ia melakukan hal tersebut otaknya sudah bisa berpikir realistis.
Mentari tahu jika ia menyambut uluran tangan Juan, itu sama artinya dia menyeret laki-laki yang dicintainya tersebut masuk ke dalam masalahnya. Dia tidak mau membuat pria itu kesulitan karena yakin Bos Frengky tidak akan melepaskanya begitu saja.
"Maaf, aku tidak bisa ikut," jawab Mentari dengan wajah datar.
"Tari, aku tahu kamu terpaksa berada di tempat ini. Jadi, ayo ikutlah denganku!" pinta Juan.
"Tari, maaf kalau aku ikut campur. Tapi, aku rasa ini kesempatan terbaikmu untuk pergi dari tempat ini. Selama ini kamu terpaksa tetap berada di sini karena takut Bos Frengky membawa adikmu ke sini untuk menggantikanmu kan? Dan sekarang, adikmu sudah ada yang melindungi. Lagi pula aku yakin Bos Frengky tidak akan berani mengusik Keluarga Wijaya." Susan ikut berbicara.
Iya, meski hidup jauh dari keluarganya Mentari selalu memantau kehidupan Bintang dari jauh. Dia merasa lega ketika tahu bahwa adiknya menikah dengan keluarga ternama itu.
"Jadi, kamu tetap berada di sini demi melindungi adikmu?" tanya Juan lagi.
"Sebenarnya beberapa kali Tari mencoba kabur dari tempat ini dan hampir berhasil. Tapi, Bos Frengky mengancam akan membawa Bintang ke sini jika dia berani melarikan diri. Jadi, dia terpaksa bertahan di sini," jelas Susan.
__ADS_1
"Tari aku mohon ikutlah denganku!" pinta Juan dengan sungguh-sungguh.
Mentari menatap Susan. Susan menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Baiklah," jawab Mentari kemudian. "Tapi, San. Kamu juga harus ikut denganku. Aku tidak mungkin membiarkanmu tetap berada disini. Aku ingin kita berdua pergi dari tempat ini sama-sama." Mentari menggenggam kedua tangan Susan.
"Tidak, Tar. Aku tidak punya siapa-siapa di luar sana. Kamu saja yang pergi!" Susan melepaskan genggaman tangan Mentari.
"San, kamu adalah sahabatku. Bagaimana aku bisa keluar dari sini tanpamu? Ayo ikutlah denganku! Jika kamu merasa tidak punya siapa-siapa diluar sana, maka anggaplah aku dan keluargaku sebagai keluargamu juga. Jadi, aku mohon ikutlah pergi bersamaku!" Sambil menangis Mentari meminta agar Susan ikut dengannya.
"Tapi, kenapa?"
"Karena orang yang aku cintai berada di sini," jawab Susan.
"Apa maksudmu?" Mentari memicing.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu, tapi yang jelas aku tidak bisa pergi dari sini. Sekarang cepatlah kalian pergi sebelum Bos Frengky dan anak buahnya datang ke sini untuk pengecekan rutin!" suruh Susan.
Setiap pagi, Frengky dan anak buahnya akan mendatangi satu per satu kamar untuk mengecek keberadaan wanita-wanita itu. Dia tidak akan membiarkan para wanitanya kabur dari tempat tersebut. Jika ada yang ketahuan, maka tak segan Bos Frengky akan memberikan hukuman kepada mereka.
"Susan, tapi.... "
Susan memeluk Mentari. "Tari, aku benar-benar tidak bisa pergi. Aku ikut senang karena sebentar lagi kamu akan berkumpul dengan adik dan ibumu. Aku berharap kamu bisa kembali hidup normal seperti sebelum kamu terjebak disini," ucap Susan. Ia kemudian melepaskan pelukanya.
"Juan, aku titipkan sahabat terbaikku kepadamu. Jaga dia, lindungi dia, dan bahagiakanlah dia! Selama di sini, tidak satu hari pun dia melupakanmu!"
Juan mengangguk. "Tanpa kamu minta pun aku pasti akan melindungi dan menjaganya. Aku pasti akan menebus kesalahanku karena pernah melepaskanya," jawab Juan.
"Cepat! Pergilah!" Susan mendorong Mentari dan Juan agar secepatnya pergi dari sana.
Namun, baru saja mereka membuka pintu Frengky dan beberapa anak buahnya sudah berada di depan pintu.
__ADS_1