
Akhirnya, proyek yang ditangani oleh Rangga dan Nando berhasil dengan sukses. Sesuai janji, Harryangga menyetujui putranya untuk menikah dengan Livya. Tanggal pernikahan Rangga dan Livya pun sudah disepakati yaitu dua bulan lagi, tepatnya tanggal 21 maret. Sebelum itu, Rangga diharuskan menyelesaikan proyek baru yang kembali dipasrahkan oleh papanya.
Hal itu tentu langsung diiyakan oleh Rangga. Dia begitu bahagia karena akhirnya sang papa mengizinkan dirinya menikah dengan Livya. Selama ini, Harryangga selalu melarang putranya tersebut berhubungan dengan Livya.
Tidak hanya papanya, mama, dan kakak Rangga pun juga menentang hubungannya dengan Livya. Mereka beralasan bahwa Livya tidak mencintai Rangga dengan tulus, wanita itu tidak benar-benar mencintai Rangga dan hanya mencintai hartanya. Namun, Rangga tetap kekeh dengan pendiriannya. Ia yakin Livya benar-benar mencintainya dan semua hal buruk yang dikatakan oleh mereka tidaklah benar. Dan malam ini akhirnya restu itu didapatkannya.
"Pa, Ma, Kak Rania. Kenalkan ini Livya, Via ini mama-papaku dan yang ini kakakku." Rangga memperkenalkan satu per satu anggota keluarganya.
"Salam kenal Tante, Om, Kakak," balas Livya dengan ramah.
"Duduklah!" Miaa mempersilakan Livya untuk duduk.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante." Livya pun duduk di bangku kosong sebelah Rangga.
"Livya, dimana mamamu? Bukankah kamu bilang akan datang bersama dengan mamamu?" tanya Mia. Dia ingat kalau tadi siang Rangga memberitahu bahwa Livya akan datang untuk makan malam bersama dengan mamanya.
"E... Mami tiba-tiba tidak enak badan, Tante. Makanya cuma aku yang datang. Maaf ya sudah mengecewakan," jawab Livya seraya meminta maaf.
"Tidak perlu minta maaf, aku bertanya karena Rangga bilang kamu akan datang bersama dengan mamamu, tapi ternyata kamu datang sendirian. Semoga mamamu cepat sembuh ya," ujar Mia.
"Terima kasih, Tante."
"Ternyata Rangga nggak sekaya yang aku bayangkan. Rumahnya gede sih dan ada banyak perabotan mewah. Tapi, di beberapa bagian masih memajang perabotan yang begitu usang." Livya membatin. "Apa aku ikuti tawaran mami saja ya untuk menikah dengan Hans? Sepertinya Hans lebih kaya dari pada Rangga. Bahkan hadiah perkenalan saja dia ngasih aku tas bermerk seharga ratusan juta. Nggak kayak Rangga, padahal dia anak orang kaya, tapi ngasih hadiah ulang tahun dan anniversary saja cuma emas yang harganya nggak sampai puluhan juta."
__ADS_1
"Via, bagaimana menurutmu? Keluargaku baik kan?" tanya Rangga kepada sang kekasih. Dia ingin tahu pendapatnya setelah bertemu dengan semua anggota keluarga.
"Baik, kok. Mamamu juga ramah," jawab Livya. Dia terlihat malas menanggapi pertanyaan Rangga. Pikirannya kini beralih kepada Hans. Pria tampan yang beberapa hari yang lalu baru dikenalnya. Apalagi sang mami, Widya, baru saja mengiriminya foto pertemuannya dengan Hans dan keluarga di sebuah hotel mewah.
"Ehm... Nggga, aku pulang sekarang ya. Mami baru saja mengirim pesan. Katanya dia minta dianterin ke rumah sakit buat periksa," pamit Livya. Dia sudah tidak sabar ingin bergabung dengan mamanya.
"Ya udah, kita pamit sama anggota leluargaku dulu yuk! Nanti aku sekalian ikut kamu buat nganterin mamimu ke rumah sakit," jawab Rangga.
"Tidak usah," jawab Livya dengan cepat.
"Lho kenapa? Bukannya kamu bilang mamimu minta diantar ke rumh sakit?" tanya Rangga heran.
__ADS_1
"Aku nggak enak kalau kamu ikut aku pergi dari acara makan malam ini. Apalagi kamu bilang kakakmu Rania sengaja pulang dari luat negeri cuma buat acara malam ini. Nanti aku salamin aja buat mami, mami pasti ngerti kok," jelas Livya. Tentu saja dia tidak mu Rangga ikut, bisa-bisa kebohongannya kebongkar dong. "Udah nggak apa-apa kok, aku bisa pulang naik taksi. Oke,"
"Baiklah, tapi kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah." Livya mengangguk.