
Tari begitu terkejut ketika ada yang berteriak memanggilnya di luar rumah. Apalagi ia tahu siapa pemilik suara itu. Ia kemudian melihat Iwan.yang sedang tidur di sebelahnya, beruntung pria yang berstatus sebagai suaminya itu masih terlihat begitu nyenyak. Dengan sangat pelan, Mentari bangun dari tempat tidurnya. Dia harus segera turun untuk menemui Juan agar pria itu segera pergi dari sana. Mentari tidak mau Juan menjadi bulan-bulanan warga yang merasa terganggu dengan teriakannya.
"Juan, ngapain sih kamu ke sini?" tanya Mentari begitu ia berhasil keluar dari rumah.
"Tari, kenapa kamu tega ninggalin aku? Kenapa kamu harus menghukumku dengan menikahi orang lain. Aku sangat mencintai Tari, sangat mencintaimu. Dadaku sesak melihatmu menjadi milik pria lain." Juan yang mabuk merau tidak jelas.
"Juan, kamu mabuk?" tanya Mentari dengan marah.
"Aku hanya minum sedikit tadi, aku tidak mabuk, Tari. Aku masih bisa mengenalimu," jawab Juan.
Laki-laki yang masih menjadi pemilik hati Mentari itu berjalan sempoyongan.
"Juan, cepat pergi dari sini! Jangan bikin keributan disni! Aku tidak mau warga merasa terganggu dan akhirnya kamu jadi bulan-bulanan mereka. Aku mohon Juan pergilah!" suruh Mentari.
"Kalau bisa, aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu Mentari. Rasanya hidupku tidak ada artinya tanpa dirimu," oceh Juan.
Tangan Juan terulur dan menyentuh pipi wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Tari. Kenapa kamu harus menikah dengan orang lain?" Juan masih saja meracau.
Tak membuat warga, keluarga, dan suaminya terbangun dengan teriakan.Juan, Mentari segera membawanya ke tempat yang sepi.
"Juan diam lah di sini, aku akan menelpon Nando atau Rangga untuk menjemputmu!" suruh Mentari.
Mentari segera menghubungi nomor Rangga dan Nando.
"Hallo, Ngga, ini aku Tari. Juan ada di sini sekarang. Kelihatannya dia mabuk berat, jadi tolong jemput dia." Pinta Mentari kepada sahabat dari mantan kekasihnya itu.
"Cepet ya, Ngga. Aku gak mungkin kelamaan nahan dia disini!"
"Iya-iya, gue otw ke sana. Jangan lupa share lock," jawab Rangga lagi.
"Ok, aku akan kirim lokasinya setelah matiin telepon." Mentari segera menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilannya. Tidak lupa, ia mengirimkan lokasinya saat ini kepada sahabat dari Juan itu.
"Tari, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," lagi Juan meracau.
__ADS_1
"Juan, plis, diam lah! Aku nggak mau warga dengar suara teriakan kamu. Aku nggak mau kamu dipukuli," pinta Mentari.
Juan menatap wanita yang masih sangat dicintainya itu. Dia mengulurkan tangannya. Ia membelai pipi mulus Mentari dengan lembut.
"Aku sungguh sangat menyesal karena tidak segera mengejarmu dan meminta maaf. Jika saja aku lebih cepat mengejarmu, aku pasti tidak akan kehilanganmu, Tari. Aku sungguh sangat mencintaimu, rasanya aku ingin mati saja," ucap Juan dengan sungguh.
"Juan, jangan begini. Jangan buat aku semakin menyesali keputusanku. Aku mohon Juan, lupakan aku! Hiduplah dengan baik tanpaku. Aku yakin, suatu saat kamu akan menemukan wanita yang bisa menggantikanku," ucap Mentari. Tanpa sadar air matanya ikut jatuh membasahi pipi.
Sama halnya dengan Juan, Mentari pun masih sangat mencintainya. Dia bahkan tidak tahu apa dia bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah ia nikahi. Tetapi, dirinya sadar bahwa secinta apa pun dia dengan Juan, status dia sekarang adalah istri orang dan tidak mungkin dia bersatu kembali dengannya.
"Tolong Juan, pergi.... "
Sebelum Mentari menyelesaikan kalimatnya, Juan sudah menempelkan bibirnya di bibir Mentari. Perasaan keduanya yang masih sangat dalam membuat Mentari membalas pagutan bibir Juan itu.
Dari kejauhan orang yang sejak tadi mengikuti Mentari itu mengepalkan tangannya.
"Aku pasti akan membuatmu sangat menderita Mentari, lihat saja!" gumam orang tersebut
__ADS_1