
Berkali-kali Ratih menghela napasnya. Entahlah sejak kepergian Mentari bersama dengan Iwan beberapa hari yang lalu perasaannya tidak tenang.
"Ada apa, Bu?" tanya Bintang yang sudah memakai seragam putih birunya.
"Beneran kakakmu baik-baik saja?" Ratih menatap putri keduanya itu dengan tangan yang sibuk memasukkan kue ke dalam keranjang. Kue tersebut adalah kue buatannya yang akan dibawa oleh Bintang untuk dijual di sekolah.
Bintang terdiam. Dia tidak mungkin bercerita bahwa kakaknya sudah tidak lagi mau berhubungan dengan keluarga mereka lagi karena mereka miskin.
"Kok malah bengong, Nak?" kembali Ratih bersuara.
"Iya, Bu. Kak Tari baik-baik saja, dia dan Mas Iwan sedang liburan. Kak Tari pasti lupa ngehubungi ibu karena terlalu asik lagi bulan madu. Ibu doain aja semoga pulang dari bulan madunya mereka langsung ngasih Ibu cucu," jawab Bintang. Dia ikut memasukkan kue ke dalam keranjang.
"Ibu cuma berdoa semoga dimana pun kakakmu berada dia selalu dilindungi sama Allah dan semoga dia selalu bahagia." Ratih tersenyum menatap putri keduanya itu.
__ADS_1
"Amin." Bintang mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Ibu curang, kenapa cuma kakak yang didoain supaya bahagia," protes Bintang dengan memasang wajah cemberut.
"Tentu saja kamu juga, Bintang. Ibu berdoa semoga putri Ibu yang bernama Bintang Permata Putri bisa menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab, tampan, kaya raya, pemilik perusahaan yang mencintai dan menyayangi kamu, tentu saja yang kamu cintai juga," ujar Ratih. "Bagaimana? Doa ibu buat kamu banyak kan?"
"Masih kurang dong, Bu," protes Bintang lagi.
"Kurang?" Bintang mengangguk.
Ratih menggeleng. "Dasar! Baiklah tambah yang tampan juga," balas Ratih.
"Nah gitu baru bener."
"Memangnya ada pria tampan yang akan menyukai gadis tomboi seperti kamu?" tanya Ratih bercanda.
__ADS_1
"Ibu!" Bintang mencebik. "Kelak aku akan jadi wanita yang sangat cantik," jawab Bintang penuh percaya diri. "Salah deng, dokter wanita yang cantik," ralat Bintang penuh percaya diri.
"Amin." Ratih mengaminkan doa putri bungsunya itu. Meski saat ini Ratih merasa tidak akan mampu menyekolahkan putrinya di sekolah kedokteran, ia berharap suatu saat nanti akan ada keajaiban untuk putrinya bisa meraih mimpinya itu.
"Ya udah ya, Bu, Bintang berangkat ke sekolah dulu takut telat," pamit Bintang.
"Lho nggak nungguin Ana dan Dewi?"
Bintang melihat ke arah jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu. Jam itu sudah menunjuk pukul 06.45 WIB. "Kayaknya mereka langsung berangkat ke sekolah," jawab Bintang.
"Ya udah ya, Bu. Bintang berangkat, assalammualaikum." Bintang mencium punggung tangan sang ibu. Tidak lupa ia membawa keranjang berisi kue yang akan dijualnya di sekolah nanti.
Bintang memang gadis yang tomboi, tetapi soal pelajaran otaknya boleh diadu. Sejak duduk di bangku SD, ia sudah menjadi langganan juara kelas bahkan hingga sekarang. Bintang memiliki cita-cita yang dari kecil tidak pernah berubah yaitu ingin menjadi seorang dokter. Sejak ayahnya meninggal sang nenek yang saat ini tinggal di kampung sering sakit-sakitan dan seringkali menolak untuk berobat dengan alasan tidak memiliki biaya dan takut merepotkan ibunya. Bintang ingin menjadi dokter karena ia memiliki keinginan bisa mengobati orang sakit yang tidak memiliki biaya secara gratis. Bahkan mimpi terbesarnya adalah memiliki rumah sakit pribadi yang diperuntukkan untuk orang-orang miskin yang sakit dan tidak memiliki biaya untuk berobat.
__ADS_1