
"Apa?! Kamu dan Mentari mau langsung ke luar negeri? Kenapa mendadak? Bukankah kamu bilang akan membawa istrimu berkunjung ke rumah papa dulu?" suara menggelegar Handoko dari ujung sana membuat Iwan sedikit menjauhkan benda pipih di tangannya dari telinga. Dia sudah tahu Sang papa pasti akan menyakan alasan tentang perubahan rencananya tersebut.
"Pa, tapi itu keinginan Tari. Dia bilang dia akab berkunjung ke tempat papa setelah kami pulang dari bulan madu. Bukankah Papa ingin agar kami secepatnya memiliki anak? Kami akan berikan itu saat pulang nanti." Iwan beralasan. Tidak ada suara apa pun dari ujung sana untuk sekian detik.
"Baiklah, tidak apa-apa kalau kalian memang ingin pergj berbulan madu dulu. Tapi, izinkan papa berbicara dengan menantu papa sekarang." Sudah Iwan duga sang papa pasti akan meminta untuk berbicara dengan Mentari. Untungnya Iwan sudah merencanakan semuanya.
"Oke, Papa boleh berbicara dengan Tari sendiri. Tapi, papa jangan marahi dia ya. Aku takut kalau papa marahi dia atau tanya macam-macam dia justru akan sedih."
"Iya-iya, cepat berikan teleponnya kepada menantuku!" seru Handoko.
Iwan memberikan benda pipih di tangannya kepada wanita yang saat ini duduk di pangkuannya.
"Assalammualaikum, Pa. Ini Tari. Mas Iwan bilang Papa mau berbicara dengan Tari ya." Wanita itu menyapa dengan lembut.
"Nak, kenapa kamu merubah jadwal kalian? Bukankah kamu udah janji mau ke tempat papa dulu?" tanya Handoko. Dia penasaran dengan alasan yang membuat menantunya tersebut tiba-tiba mengganti jadwal.
Wanita yang duduk di pangkuan Iwan itu melihat kertas yang Iwan sodorkan.
"Pa, kebetulan ada temanku yang juga tinggal di luar negeri menikah dan aku diundang ke sana. Daripada aku bolak-balik ke rumah papa dulu terus menghadiri acara pernikahan temanku kemudian pergi bulan madu, bukankah lebih efisien kalau aku dan Mas Iwan menghadiri acara itu sekalian bulan madu? Jadi, saat aku dan Mas Iwan pulang nanti siapa tahu kami sudah bisa memberikan kabar bahagia buat papa." Wanita itu membaca tulisan yang tertera di kertas tersebut.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu memang keinginanmu. Rencananya berapa lama kalian akan pergi berbulan madu?" tanya Handoko lagi.
"E... 2-3 bulan, Pa. Tidak apa-apa kan?" jawab wanita yang mengaku sebagai Mentari itu.
Helaan napas terdengar dari ujung sana. "Tidak apa-apa. Papa akan segera transfer uang ke rekening suamimu. Gunakan uang itu untuk bekal kalian berbulan madu," ujar Handoko.
"Terima kasih, Pa. Maaf karena aku dan Mas Iwan belum bisa mengunjungi Papa." Sekali lagi wanita berkata dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
"Hm. Jangan lupa terus kabari papa saat kalian berada di luar negeri!" Handoko mengingatkan anak menantunya.
"Pasti, Pa. Sudah dulu ya, Pa. Aku mau bantu Mas Iwan buat siap-siap dulu," pamit wanita itu.
"Ada apa, Pa?"
"Iwan tidak berbuat macam-macam kepadamu kan?" Handoko ingin memastikan jika anaknya tidak melakukan hal yang menyakiti Mentari.
Wanita itu melirik ke arah Iwan. "Tidak, Pa. Mas Iwan baik kok, dia baik banget malah," jawabnya.
"Sungguh?" kembali Handoko memastikan.
__ADS_1
"Sungguh, Pa."
"Ya sudah, kamu bersenang-senanglah. Papa senang, setidaknya meski kalian menikah karena perjodohan, akhirnya kalian bisa menerima satu dengan yang lain." Sebelumnya Handoko memang sudah khawatir kalau Mentari tidak bisa menerima putranya.
"Iya, Pa. Aku tutup ya. Assalammualaikum."
"Tunggu!" Sekali lagi Handoko menginterupsi saat Mentari palsu ingin menutup telepon.
"Ada apa lagi, Pa?"
"Suaramu beda. Terakhir kali papa mendengar suaramu tidak seperti ini."
Deg. Iwan dan Mentari palsu saling tatap. Degup jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Bisa kita video call!"
Permintaan Handoko semakin membuat Iwan dan Mentari palsu cemas.
"Papa ganti ke video call sekarang ya."
__ADS_1
Dan benar saja panggilan itu sudah berubah ke panggilan video.