
Pagi sekali Mentari dan Iwan sudah bersiap untuk pergi. Setelah sarapan keduanya pun berpamitan.
Bintang terus saja merajuk meminta Sang Kakak untuk tidak pergi dari rumah ini. Dan hal tersebut membuat Mentari terpaksa harus menunda keberangkatannya untuk beberapa saat. Dia ingin membujuk adiknya terlebih dulu. Mentari tidak mau meninggalkan adik semata wayangnya itu dalam keadaan bersedih.
Dalam hal penampilan, Bintang memang lebih condong ke arah tomboy. Namun, dari segi yang lain dia tetaplah remaja belasan tahun yang masih suka merengek dan menangis kala meminta sesuatu atau kala ia tidak mau ditinggalkan seperti sekarang ini.
"Bintang sayang, Kakak sayang banget sama kamu. Kalau bisa Kakak pasti akan terus bersamamu dan ibu selamanya. Tapi, bagaimana pun Kakak ini seorang istri yang harus mengikuti kemana pun suami pergi. Jadi, aku mohon, jangan halangi Kakak pergi dengan Kak Iwan ya. Kakak janji setiap hari Kakak akan menelponmu dan Ibu. Kakak juga janji saat ada waktu senggang Kakak akan datang ke sini untuk mengunjungimu dan Ibu," bujuk Mentari. Dia memeluk adiknya sambil menangis.
"Kakak janji akan melakukan itu semua? Kakak janji tidak akan melupakan aku dan ibu?"
Mentari mengangguk. "Kakak janji, Bi. Kakak janji. Jadi, kamu jangan nangis lagi ya!" pinta Mentari. Dia mengusap rambut adiknya dengan lembut.
"Tenang saja Bintang, ibu, saya pasti akan sering mengajak Mentari berkunjung ke sini," Iwan yang berdiri tidak jauh dari Mentari itu pun ikut berbicara.
"Kami percaya padamu, Nak. Ibu titip Tari ya, jaga dia baik-baik, bahagiakanlah dia. Jika dia salah, tegurlah dengan lembut, jangan pernah mengangkat tangan kepadanya ya," pinta Ratih kepada menantunya, Iwan.
"Iya, Bu. Saya pasti akan menjaganya dengan sangat baik," jawab Iwan sambil tersenyum.
Tin!
__ADS_1
Terdengar klakson mobil dari luar.
"Spertinya taksi yang kita pesan sudah datang," ujar Iwan. "Ayo, Tar, takutnya kalau kesiangan kita kena macet lagi. Rumah papa kan agak jauh."
"Iya, Mas," jawab Mentari.
Bintang membantu membawakan barang bawaan milik kakaknya sampai di depan teras. Dia kembali memeluk kakaknya.
Entah kenapa Bintang merasa kepergian kakaknya kali ini terasa berbeda, tidak sama seperti perpisahan mereka sebelum-sebelumnya. Padahal ini bukan kali pertama Mentari akan meninggalkan rumah. Setiap musim kuliah kembali tiba dan Mentari harus kembali ke negara tempat ia menimba ilmu, mereka pasti akan berpisah seperti ini. Namun, kali ini semua terasa sangat berbeda.
"Jangan nangis lagi ya, Bi. Ingat! Jangan suka bikin masalah, belajar lah yang bener! Bukan kah kamu bilang ingin menjadi seorang dokter? Kakak doakan kamu bisa meraih impianmu itu," ujar Mentari lagi.
"Iya, Kak. Bintang akan belajar yang bener agar bisa mendapatkan bea siswa. Bintang pasti akan menjadi dokter. Lihat saja! Aku akan menyuntik Kakak saat Kakak sakit. Jadi, berjanjilah padaku untuk tidak sakit. Kakak harus selalu sehat dan kuat." Bintang mengatakan itu sambil menangis. Dia sudah berusaha menahan agar air mata itu tidak lagi keluar, tapi kenyataannya air mata itu jatuh dengan bebas di kedua pipi.
Bintang mengangguk. Mentari kembali berpamitan sebelum ia masuk ke dalam taksi.
Setelah taksi yang ditumpangi kakaknya tak lagi terlihat, Bintang menghela napas panjangnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Bu. Rumah ini mendadak sepi ya. Padahal belum ada lima menit Kak Tari pergi, tapi aku sudah sangat merindukannya," jawab Bintang. "Entah kenapa kepergian Kakak kali ini membuat hatiku merasa tidak tenang."
"Itu karena kamu tidak mau pisah dengan Kakakmu. Doakan saja yang baik-baik pada rumah tangga Kakakmu. Hm?"
Bintang mengangguk mengerti.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Ratih.
"Sekolah lah, Bu. Ini bentar lagi Dewi dan Ana mau datang menjemput," jawab Bintang.
Baru saja Bintang selesai berbicara, Dewi dan Ana sudah datang menjemput. Bintang pun segera berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
***
"Mas, ini mau kemana? Katanya mau ke rumah mama-papamu dulu, kok kesini?" tanya Ratih ketika menyadari jalan yang dilalui taksi itu bukan lah jalan menuju ke alamat rumah mertuanya.
"Kita memang tidak akan kesana sekarang kok, aku mau mengajakmu ke rumah temanku. Waktu kita menikah dia tidak bisa datang karena ada urusan, dan karena kebetulan dia lagi ada sini, makanya kita mampir ke sini dulu sebentar," jawab Iwan beralasan.
Entah lah, Mentari merasa ada yang aneh dengan suaminya.
__ADS_1
"Ayo keluar, kita bertemu dengan temanku itu dulu!" ajak Iwan ketika mereka tiba di depan sebuah rumah.
Awalnya Mentari merasa ragu. Namun setelah berapakali Iwan meyakinkan kepada dirinya bahwa mereka hanya mampir sebentar. Mentari pun setuju untuk turun.