Kami Ini Villian

Kami Ini Villian
21


__ADS_3

Seorang pria muda sedang duduk menghadap gadis bernama Aurora. Rasa bosan datang membuat pria tersebut mulai mengantuk dan mulai ingin terlelap dalam mimpi. Tidak terlihat dia ingin pergi pulang, dan lebih memilih menunggu Aurora bangun di depan kasur tersebut.


Semakin lama ayunan kepala pria tersebut makin jatuh pada kasur. Ketika kepala hendak menyentuh kasur perasaan bahaya membuat dia bangun dan mulai mengambil posisi tegak agar tidak jatuh kasur, tetapi rasa kantuk membuat pria tersebut mengayunkan kepalanya kembali. kejadian tersebut terus berulang sampai mata sang gadis mulai buka.


“Kenapa kau tidak tidur saja, Driverman. Tidak maksudku Diva.”


“Akhirnya bangun juga lo. Cepat jelaskan apa yang kau lihat!”


“Ayolah, aku ini baru bangun, dasar bodoh.”


“Cih, ku beri 5 detik.”


“Baiklah, mari jawab singkat saja.”


Diva langsung mengambil posisi duduk tegak dan bersiap untuk menerima informasi apa yang diberikan Aurora. Mata dia juga benar-benar menatap wajah Aurora, tatapan tersebut penuh dengan makna penasaran akan kebenaran apa yang terjadi.


“Sebenarnya, diriku agak lupa. Tetapi satu hal yang bisa kukatakan. Pemandangan pembedahan tubuh.”


“Maksudmu melihat seseorang sedang membedah.”


“Bukan. Kau tahu kekuatanku bisa melihat ingatan dari orang yang berkontak mata denganku.”


“Begitulah. Terus.”


“Aku melihat diriku di bedah.”


“Tunggu, proses pembedahaan harus dibius tidak sadarkan diri.”


“Tepat sekali. Berarti anak tersebut tidak dibius dan operasi dilakukan dengan kesadaran penuh sang anak.”


“Kemudian, apa kau tahu orang tua gadis itu?”


“Tidak tahu yang ku lihat hanya orang-orang dengan masker.”


Perasaan tidak enak Diva langsung muncul ketika sang gadis kecil muncul di belakang mereka. Dia sudah bangun dan sang gadis menunjukan tatapan mati kembali layaknya seorang ingin membunuh Aurora. Tangan gadis tersebut sudah berubah menjadi gumpalan daging yang siap menusuk Aurora.


Bagian armor dari Driverman langsung muncul bertebangan mengelilingi Diva. Setiap bagian langsung menempel dengan segera ke seluruh tubuh. Pelindung wajah yang menunjukan Driverman langsung membuat aura Driverman kembali dari Diva.


Gadis kecil dengan tatapan dingin langsung mengeluarkan senyuman mentari kepada Driverman yang baru datang. Dia juga langsung melompat senang dengan tangan monsternya pada Driverman. Tangan monster tersebut semakin menyusut ketika mulai mendekat dan akhirnya kembali menjadi tangan gadis kecil.


“Maksudnya apa ini?” Alis Aurora langsung terangkan sehabis melihat kejadian tersebut.


Tanpa ada suara gadis kecil tersebut langsung memeluk erat Driverman. Senyuman penuh bintang dari gadis tersebut langsung memberi kehangatan untuk Aurora dan Driverman yang menangkap gadis tersebut.

__ADS_1


“Div…Driverman sebaiknya kau rawat anak itu.”


‘Kenapa?”


“Kau lihat dia bukan manusia. Intinya jika dilepaskan begitu saja dia pasti menjadi ancaman.”


“Lu kelihatan panik banget?”


“Ingatan tadi baru muncul lagi.”


“Apa itu? Katakan!”


“Driverman kau pernah dengar si Putih?”


“Sering dengar kok, semacam keberadaan yang bisa menghancurkan bumi.”


“Benar, anak itu dibuat khusus untuk membunuh si Putih.”


“Ahh. Si Putih itu cuma mitos kan? gak usah panik loh.”


“Enggak, Si Putih memang nyata, diriku pernah bertemu dengannya.”


“Yang bener. Lu Pernah bertarung dengan nya.”


Driverman terkejut bahwa Si Putih bukan keberadaan jahat yang bisa menghancurkan. Melihat dari Reaksi Aurora Driverman sadar bahwa Si Putih menyelamatkannya, tetapi kenapa dia bisa terkenal dengan keberadaan berbahaya bagi Bumi, padahal dia menyelamatkan seseorang.


“Jadi, soal si putih nanti lagi. Intinya kau harus jaga anak itu, soal orang tua akan ku carikan.”


“Kenapa tidak panti asuhan saja.”


“Kau bisa bayangkan.”


Driverman langsung membayangkan anak-anak panti asuhan langsung di bunuh ketika bermain-main dengan Gadis kecil ini. Akan lebih aman bagi banyak pihak anak ini dijaga oleh orang yang memiliki kekuatan, ditambah gadis kecil tersebut menyukai Driverman.


.”Baik, tapi biaya perawatan dari lu!”


“Ahhh, kau ini. Gaji ku sama kau ini beda jauh loh. Gaji kau 5 kali dari ku loh.”


“Tetapi kebutuhan gue lebih banyak.”


“Aku hanya membantu dikata cukup saja. Plus saran hidup dariku, jangan banyak poya-poya.”


“Bukan poya-poya, itu kebutuhan.”

__ADS_1


Driverman langsung pergi membawa gadis tersebut. Dia mengabaikan Aurora yang sudah memberi saran.


“Si Bodoh itu. Padahal setiap ada masalah uang datang padaku. Tapi biarlah dia orang yang seperti itu.”


Entah kenapa wajah Aurora terlihat mulai memerah ketika Driverman sudah menjauh. Mata dia terlihat mengingat kejadian sebelum bangun. Mengingat kejadian tersebut membuat Aurora terasa panas sampai telinga dia memerah karena suhu badan yang tinggi.


“Jarang-jarang, aku lihat wajah ngantuk dia. Hehehe.” tawa kecil Aurora ketika mengingat itu kembali.


***


Sebuah pagar putih besar menjadi tatapan Driverman dan Gadis kecil monster. Pagar putih tersebut langsung terbuka secara otomatis. Mata sang gadis langsung berkilauan melihat rumah yang sangat besar, mobil dengan merek ternama berjajar di depan garasi, kolam ikan dengan jembatan yang mengikuti gaya modern dicampur eropa membuat pemandangan menjadi satu.


Ketika masuk ruang tamu, sebuah alat elektronik dengan gaya modern benar-benar tersusun rapih. Lukisan abstrak dengan warna cerah menyatu dengan cat putih lembut. Televisi tipis yang membentang lebar dengan speaker modern di kedua sisinya. Beberapa perhiasan rumah dengan gaya eropa kuno tercampur piagam penghargaan Pahlawan Driverman.


Dia langsung menurunkan anak tersebut dari gendongannya. Wajah anak tersebut langsung membintang melihat lukisan Driverman yang terpanjang indah. Senyuman dia layaknya seorang bayi baru melihat ayahnya.


“Diam disini akan kuberikan baju!”


Driverman tidak melepas wujud pahlawannya, karena sangat berbahya jika dia melepas sekarang dan membuat anak tersebut mengamuk. Dia masih khawatir bahwa anak tersebut masih seperti seorang balita yang masih sulit menilai.


Tentu perintah Driverman hanya sebatas ucapan bagi anak gadis ini. Dia langsung berjalan pada rak penghargaan miliki Driverman, mata dia tertuju pada setiap benda yang berkilauan seperti emas tetapi ada satu hal yang membuat gadis tersebut tidak berhenti.


Sebuah kalung penghargaan yang terbuat dari emas dan tepat di kalung tersebut sebuah permata intan menempel indah. Pada sisi emas bertuliskan, terima kasih Driverman telah menyelamatkan negara kami.


Tanpa Ragu anak tersebut langsung memunculkan lengan iblisnya. Kekuatan tinju dia langsung menghancurkan kaca khusus Driverman untuk menyimpan semua penghargaan tersebut. Semua akhirnya pecah menjadi serpihan kaca yang berkilauan karena sinar lampu.


Dia mulai mengambil kalung permata tersebut dengan tangan monster. Tangan mulai mengecil dan mulai kembali menjadi tangan imut nan lembut. Penuh rasa penasaran dia mulai menjilat permata tersebut layaknya bayi yang penuh dengan penasaran dengan dunia.


“Sudah ku bilang. Wahhhhhh. Piagamaku, dan penghagaan ku.”


Mimpi buruk Driverman langsung terjadi tepat di depan matanya. Semua hasil usaha dia hancur karena seorang anak. Rasa yang sama persis seperti keponakan menghancurkan gundam yang sudah disusun rapi.


“Tunggu, jangan yang itu juga.”


Anak tersebut tanpa ragu menjilati, secara bertahap mulai masuk kedalam mulut, setengah yang terlihat. Tanpa dalam hitungan detik kalung penghargaan masuk ke dalam tenggorokan sanga gadis kecil tersebut.


“Sialan lu. Permata Intan ku. Sialan kau.”


Sebuah pintu depan terbuka dan seorang gadis tidak asing masuk kedalam rumah dan berkatan.


“Diva, kau pasti tidak punya baju anak perempuan kan, aku belikan untukmu.”


Aurora langsung sok melihat pemandangan indah yang terjadi di rumah Driverman.

__ADS_1


“Apa yang terjadi sih?”


__ADS_2