Kami Ini Villian

Kami Ini Villian
22


__ADS_3

Pagi baru hari baru betapa bahagia masih bisa menikmati hari yang indah tanpa ada masalah sedikitpun. Gaji baru saja dia dapatkan, dan majalah superhero langka sedang dia baca sembari menikmati secangkir air hangat tak berasa. Senyuman terlukis di wajah pria dengan rambut agak berantakan dengan mata yang akan selalu terbuka ketika membahas superhero.


“Nikmatnya hari libur. Tidak ada pekerjaan memang mantap.”


Dia kembali menyeruput air hangat tersebut. Mata dia langsung kembali menikmati majalah hasil pemberian dari Ilmuwan. Wajah dia akan selalu berkilauan ketika ada gambar keren dari Superheroes, dan itu tanpa pikir panjang selama superheroes dia akan semangat.


“Apa ini? Seorang Ilmuwan muda berumur 17 tahun berhasil membuat material sekeras baja tetapi sangat ringan.”


Wajah dia langsung terfokus membaca majalah tersebut, mata dia terus mencari tahu siapa ilmuwan yang berhasil membuat bahan metal tersebut, tetapi usaha dia tidak membuahkan hasil apapun. Ilmuwan itu tidak disebutkan namanya, tetapi ada gambar seorang gadis cilik dengan jas Lab, tetapi wajah dia tertutupi oleh rambut.


“Candra. Main yuk.” suara yang tidak asing bagi Candra.


Suara wanita yang meminta tumpangan untuk pergi ke sekolah adiknya untuk bertemu dengan Si Putih. Dia datang dengan tas tenis lapangan pada bahu pakaian dia juga sudah menggunakan jaket olah raga dengan celana training panjang. Tentu dia itu masih memiliki masalah dengan cara berpakaian. Dia masih saja menggunakan jas Lab padahal dia mengenakan jaket olah raga.


“Izinkan diriku menikmati liburan. Dasar ilmuwan.”


“Gak usah malu gitu. Nih ada barang langka mau enggak.”


Sebuah kipas dengan gambar Driverman dan itu bertanda tangan langsung oleh Driverman


“Bagaimana kau suka?”


“Itu tidak akan membuatku tunduk.” sesekali dia melirik kipas tersebut..


“Begitukah, bagaimana dengan ini?”


Ilmuwan langsung mengeluarkan sebuah action figure dari magical Girl bersayap kecil dengan halo imut di atas kepala gadis sihir tersebut. Action Figure yang sedang mengenakan pakaian badminton dan posenya adalah siap menerima Smash.


“Oke Deal.”


Sebuah tatapan seorang pemangsa yang akan menerkam mangsanya, itulah tatapan sekarang Candra yang tidak mau melepaskan Action Figure Magical Girl yang sangat imut dan cantik.


“Matamu bagus juga Candra. Ini benar-benar barang langka loh. Untung saja dulu sempat dapat.”


“Cepat berikan Action Figure itu dan kita berangkat sesegera mungkin.”


“Baik.”

__ADS_1


Ketika Action Figure sudah ditangan Candra. Wajah si pemegang langsung menunjukan senyuman lebar yang merobek bibirnya. Sebuah senyuman yang benar-benar menjijikan dengan mata yang hampir tertutup karena senyuman lebar dia.


“Tunggu, aku ambil raket dulu.”


“Ohh. kau peka juga.”


“Melihat dirimu membawa Tas raket mana mungkin tidak peka.”


Tentu kejadian tersebut tidak lama, akhirnya mereka menuju lapang badminton yang dibuka untuk umum. Lapangan outdoor dengan angin sejuk membuat dedaunan pohon bergerak berirama. Banyaknya pepohonan membuat panas mentari tidak menyentuh langsung kulit mereka.


“Pantas saja cepat. Kau gak niat olah raga yah?”


Ilmuwan angkat suara soal pakaian Candra yang dia kenakan sekarang. Dia masih menggunakan pakaian santainya. Sebuah kaos dengan celana sayur yang tidak cocok untuk bermain badminton. Pada dasarnya dia hanya membawa raket dan pergi begitu saja.


“Sebaiknya kau lihat cermin sana!”


Candra juga angkat suara soal cara berpakain aneh Ilmuwan. Memang dia mengenakan celana olah raga, tetapi melihat bagian atas, benar-benar mimpi buruk bagi orang yang mau berolahraga. Kaos panjang dengan Jas Lab yang berisi penuh dengan pulpen pada bagian kirinya dan Kok pada kanannya. Belum kacamata tebal masih dia pakai, kemudian rambut yang mengganggu pandangan benar-benar tidak cocok untuk olahraga.


"Ada masalah?”


“Tentu saja tidak kok. Cuma jangan nangis kalau kalah!”


“Mana mungkin kalah dari seorang Ilmuwan yang mudah lelah.”


Mereka langsung mengambil posisi untuk menentukan siapa yang kalah, dan siapa yang menang. Tatapan mereka benar-benar membara akan semangat tidak mau kalah.


Servis pertama diambil oleh Candra. Tanpa ada ragu Candra melakukan servis ringan yang langsung mengarah pada Ilmuwan. Tentu dengan cepat Ilmuwan melakukan pukulan ringan agar kok pada posisi Candra harus melakukan pukulan tinggi.


“Kena kau.”


Ketika Kok melambung tinggi dengan segera Ilmuwan melakukan Smash kencang dan langsung terbang tipis pada telinga Candra. Ilmuwan berniat untuk mengenai Smash tersebut pada kepala Candra.


“Sial dikit lagi.”


“Boleh juga kau ini.”


Tentu Candra yang kesal dengan segera melakukan Servis. Dia yang tahu bahwa ilmuwan memancing dirinya untuk melakukan pukulan tinggi. Tetapi pukulan Lob adalah keahlian Candra dengan segera dia melambungkan sangat tinggi, sampai kok tersebut tertutupi oleh sinar mentari.

__ADS_1


“Apa?”


Ketika sudah siap melakukan Smash, dia sadar bahwa Kok menghilang di tengah sinar mentari. Sadar-sadar bahwa Kok sudah menyentuh kening ilmuwan.


“Apa gak kena? Padahal sudah ku kasih tinggi-tinggi loh.”


“Cih.”


Ilmuwan dengan segera melakukan Servis jauh ke belakang mendekat garis Out dengan segera Candra mengejar kok tersebut dan memberikan serangan tinggi layaknya tadi, tetapi ide Ilmuwan tidak mati.


Dia tahu bahwa Candra akan melakukan Lob lagi, dia memutuskan melakukan Netting dan memberi. Candra yang pada posisi jauh dibelakang akan sangat sulit untuk mengejar pukulan Netting Ilmuwan.


“2-1, masa kalah sama Cewek.”


“Ilmuwan kau.”


Pertempuran panas tidak terelakan lagi. Kecepatan dan kelincahan dimiliki oleh Candra, tetapi ilmuwan memiliki mata yang bagus untuk memilih posisi yang pas untuk menyerang. Mereka benar-benar mengutamakan kelebihan mereka, dan sadar bahwa poin sudah mendekati angka 20.


Semakin dekat dengan babak akhir, sebuah Rally panjang terjadi. Keringat mereka benar-benar bercucuran jatuh ke lapangan membuat sebuah jejak basah pada setiap gerakan mereka.


Candra yang terus memberi bola tinggi dan memberi kesempatan Smash pada Ilmuwan. Candra dengan maksud untuk membuat lelah Ilmuwan yang dasarnya lemah di stamina. Tetapi Ilmuwan bermain Agresif dengan memberi pukulan akurat mendekat Out, setiap Kok langsung mengarah pada garis Out. sebuah cara untuk mengalahkan Candra yang hanya memiliki Kecepatan dan kelincahan saja, dia tahu bahwa Candra masih lemah di Footwork.


“Cih. gak ada Deucu oke?”


“Oke. 20-20.”


Mereka akhirnya melanjutkan Rally terakhir mereka. Kejadian panas terjadi terulang dengan segera.Candra terus memberi serangan tinggi, tetapi Ilmuwan melakukan Smash cepat pada posisi tidak nyaman untuk Candra.


Rally kali ini benar-benar sangat lama, bahkan para warga sekitar melihat pertarungan Badminton mereka dengan sangat serius. Ilmuwan yang sangat lemah soal stamina masih belum jatuh, Candra yang hanya unggul di kecepatan dan tanpa ada Footwork dia masih bisa mengejar Kok dengan Refleks cepatnya.


Semua Rally tersebut akhirnya hancur karena Kok berakhir mengerikan. Akhirnya yang sangat tidak pantas untuk mereka yang sudah bertarung dengan serius. Benar-benar akhir yang sangat klise dan bahkan terbilang agak lucu.


“Ini salahmu!”


“Woy. kau yang selalu Smash loh.”


Pada akhirnya Kok tersangkut Di pohon karena Lob tinggi dari Candra.

__ADS_1


Para penonton pun kecewa dengan akhir yang tidak memuaskan ini.


__ADS_2