
Si Putih langsung menunjukan wujud seorang pria yang seumuran dengan Candra dan Driverman.
“Wajah ini, aku pernah lihat.”
“Tidak mengejutkan juga jika Candra tahu tentang wajah ini.”
“Apa maksudnya itu?”
Si Putih langsung membuat kursi dari daging putih yang muncul dari dalam tanah. Sebuah Kursi yang terlihat diukir oleh seorang seniman, dan bahkan memiliki kesan sebuah barang antik.
“Apa kalian ingin mendengar dongen, atau ada urusan lain?”
“Soal wajah bodo amat, kau si putih kan? Terus kau pemilik sekolah ini? Kemudian apa Intan sekolah disini.”
“Benardiriku adalah si Putih, tentu ini pemiliknya adalah diri ini, jawabannya tentu saja bisa,tapi harus melakukan tes kecil dulu untuk menentukan dia masuk SD, SMP, atau SMA.”
Wajah mereka langsung tertulis kalimat kebingungan.secara fisik terlihat jelas bahwa Intan adalah seorang anak SD, dan kenapa harus memikirkan bisa masuk SMA.
“Kalian terlihat bingung, mari jelaskan saja. Candra mungkin tahu kalau sekolah ini menerima siswa dengan kekuatan aneh.”
“Benar. Tapi kenapa adikku bisa masuk. Padahal dia tidak memiliki…”
Ucapan Candra langsung dipotong.
“Sebenarnya Adikmu bisa masuk karena memiliki kekuatan aneh, tentu seperti dirimu.”
Ilmuwan langsung paham maksud ucapan dari Si Putih. Dia sadar pemulihan tubuh Candra yang tidak normal, dan tubuhnya tidak bisa menerima sihir atau energi.
“Baiklah mari kembali kenapa harus tes atau semacamnya kan? Simpelnya karena sekolah ini menerima orang dengan kekuatan aneh. Tes juga hanya tes untuk mengukur mental dan pengetahuan saja.”
“Lebih baik mari langsung saja tes sekarang juga.”:
Driverman dan Aurora hanya bisa terdiam dengan keputusan cepat Si Putih.
“Dia benar-benar tidak memikirkan sekitar.” Driverman benar-benar mengerutkan keningnya atas sikap tidak jelas Si Putih.
“Apa kita perlu ikut dia?” Tentu Aurora merasa ragu melihat tindakan tidak jelas Si Putih.
Candra yang sudah biasa melihat tingkah aneh Si Putih hanya bisa duduk diam sambil menidurkan kaki di jalanan karena tidak bisa berdiri.
“Candra apa boleh ikut dengan mereka?”
“Silahkan.”
“Baiklah, dadah.”
Ilmuwan berlari mengejar Driverman dan Auroa, meninggal Candra sendiri.
“Woy, kau membiarkan ku tetap seperti ini.”
Seketika Candra langsung melayan dengan posisi duduk tersebut.
“Tunggu, kenapa melayang.”
Ketika mata Candra melihat kebawah, dia melihat sebuah Hoverboard yang digunakan Ilmuwan saat insiden di bank. Dia langsung terbang dan mulai mendekat kearah Ilmuwan.
__ADS_1
***
Ruangan tes ternyata ruang guru yang bahkan para guru terlihat sedang makan, dan mengerjakan pekerjaan mereka.
“Bukannya guru terlalu sedikit?”
“Sebenarnya ada guru yang rangkap jadi murid juga?”
Intan yang fokus mengerjakan lembaran soal, terlihat para orang dewasa sedang membahas sesuatu.
“Rangkap jadi murid?” tentu semua orang bingun dengan kalimat itu.’
“Benar, 80% guru disini memiliki umur tidak jelas, ada yang baru umur 5 tahun tapi memiliki kemampuan seorang guru, jadi dia menjadi guru. Kemudian ada orang yang umurnya sekitar 500 tahun tapi karena bosan jadi tua dia malah ikut jadi murid.”
Seketika wajah mereka hanya bisa berkata,”ini benar-benar sekolah?”
Melihat Intan yang mengerjakan tugas di ruang guru terlihat seperti seorang murid yang sedang Remedial
“Tenang, ini benar-benar terdaftar sekolah resmi loh. Kalian pasti tahu sekolah yang agak aneh di negeri lain, contoh sekolah Ninja, Sekolah Penyihir, atau bahkan sekolah yang dengan jurusan aneh. Tenang sekolah kami juga masuk ke dalam sana.”
“Jadi hal yang ingin kau ucapkan adalah, sekolah ini adalah sekolah yang menerima mahluk aneh.”
“Tidak juga sih, lebih kayak siap menerima murid apapun meskipun latarnya aneh-aneh.”
“Baiklah, aku paham dengan itu. Satu pertanyaan dan tidak akan bahas lain lagi.”
“Silahkan?”
“Apa sekolah ini benar-benar aman?”
Driverman terlihat lebih tenang, tetapi dia terlihat masih memiliki perasaan curiga dengan siap mengeluarkan senjata kecil driverman berbentuk sarung tangan blaster yang siap menembak kapan saja.
“Ilmuwan dari TPL dan Candra, kenapa kalian tidak berkeliling sekolah, terutama Ilmuwan dari TPL bukanya kau akan menjadi guru pembimbing untuk ekstrakulikuler Magical Girl.”
“Ahh benar, mari jalan-jalan. Aku juga belum tahu tentang sekolah ini.”
Ilmuwan langsung jalan dan kemudian menekan sesuatu dari jam tangan dan hoverboard langsung terbang mengikuti Ilmuwan. Candra yang hanya bisa diam karena kaki terluka, tentu hanya bisa pasrah.
“Jadi mari bahas hal penting.”
*****
“Candra lebih tahu dari diriku, maka dari kau jadi pemandu.”
Candra yang hanya bisa pasrah dan menganggukan kepala.
“Baiklah, jadi tujuan pertama kita kemana?”
“Benar juga, mari langsung ke tempat Magical Girl.”
“Soal itu saya juga kurang tahu, mungkin mari tanya seseorang.”
Candra memutuskan untuk melihat sekitar dan langsung melihat gadis yang sedang berjalan dilorong yang sama dengan mereka. Mereka langsung pergi berusaha bertanya pada gadis tersebut.
“Dek, tahu ruang eksul Magical Girl dimana.”
__ADS_1
Seketika teriakan dari jauh terdengar.
“Ryn, awas kepala.”
Entah ada apa seketika kepala gadis itu langsung pecah menjadi debu putih mirip dengan bedak. Kepala dari gadis tersebut langsung pecah layaknya sebuah gelas yang ditembak oleh peluru caliber besar/
Tatapan Candra dan Ilmuwan langsung membuka melihat adegan tersebut. Bagaimana tidak terkejut, sebuah adegan mengerikan seketika muncul di hadapan mereka.
“Maaf, tadi ingin tanya apa?”
Kepala yang berubah menjadi bedak putih tersebut mulai pulih kembali, setiap serbuk bedak langsung berkumpul layaknya ingin membuat kepala pada tanah lihat. Adegan tidak begitu mengerikan tapi melihat secara langsung benar-benar suatu yang jijik.
“Kenapa cuma diam?”
“Kepalamu tidak apa-apa?” Ilmuwan hanya bisa bertanya soal keadaan gadis berumuran SMA tersebut.
“Tenang saja, saya ini seorang manusia tepung terigu.”
“Begitukah? Benar ini sekolah supernatural, hal aneh pasti sering.”
“Kakak, semua baru mampir kesini.”
“Begitulah.”
“Tenang nanti juga terbiasa. Tadi kakak mau nanya apa?”
“Tahu dimana lokasi ruang ekskul Magical Girl.”
“Soal itu. Mudah.”
Kembali teriakan terdengar dengan keras.
“Ryn, kepala New meledak lagi.”
“Apa, maaf kakak, saya harus pergi.”
Candra dan Ilmuwan hanya bisa terdiam mendengar kalimat kepala seseorang meledak lagi, dan baru saja dia melihat kepala meledak.
Tetapi mata ilmuwan langsung melihat seorang seumuran mereka berjalan begitu saja. Tetapi mata Ilmuwan langsung tahu siapa orang tersebut, dan sangat kenal dengan dia. Hanya saja terlihat tidak tahu siapa orang tersebut.
“Yo, kenapa kau ada disini?”
“Ilmuwan kenapa kamu ada disini?”
“Itu pertanyaan ku!.”
“Aku Kerja disini, kan di kontrak aku hanya kerja di beberapa saat saja.”
“Tetapi kau masuk pekerja tetap loh di TPL, kenapa kamu ada di sekolah ini.”
“Kalian bisa diam dan beri tahu siapa orang ini.”
Candra hanya bisa bingung melihat seorang yang tidak jelas kelaminnya karena memiliki tubuh agak feminim tetapi wajah dia terlihat sangat gelap membuat kesan pria yang yang suram.
“Dia? Benar juga kau belum pernah melihat wajah setiap Kroco.” Ilmuwan langsung menarik orang tersebut dan langsung menunjukan wajahnya.
__ADS_1
“Dia Kroco 2.”