Kami Ini Villian

Kami Ini Villian
57


__ADS_3

Sebuah ruangan gelap berdiri seorang pria yang tidak asing. Dia menatap kosong di kegelapan. Tidak terlihat dia sadar apa yang dia lihat. Tubuh dia yang terlihat diam membatu.


Candra yang diam di sana tidak terlihat hidup sampai dia mengedipkan mata. Ketika kedipan pertama dia tidak bergerak. Ketika sampai kedipan keempat dia mulai menggerakkan jari kecilnya.


"Mimpi?"


Dia mencoba mencubit pipinya, secara kasar dia tidak merasakan sakit. Tetapi tekstur kulit terasa nyata baginya.


"Yo akhirnya bertemu?"


Sosok yang sama persis dengan Candra muncul dalam kegelapan. Sebuah penampilan yang tidak asing, bukan tidak asing melainkan sosok Candra itu sendiri.


Satu pembeda yaitu Candra yang muncul memiliki rambut putih pekat dengan corak hitam berkebalikan dengan Candra yang asli.


"Siapa? Jangan bilang kayak Zanp**** dari anime Ble****."


"Ahaha tentu saja bukan." Tawa kecil itu membuat ruangan bergetar.


"Oke sebut saja diriku adalah dirimu yang lain."


"Kayak klise banget."


"Mau dijelaskan bagaimanapun diriku dan dirimu sama."


"Hmm. Meragukan sekali."


"Tentu saja begitu sih. Tapi mari jelaskan aku ini apa lebih ribet."


"Baiklah mohon penjelasannya." Dia duduk di lantai gelap pekat itu.


"Di luar aku memperkenalkan diri sebagai White First. Itu kayak terlalu ribet."


Sosok itu langsung memiringkan kepala dan sadar kalimat yang tepat.


"Aku adalah Gen si Putih yang tertanam dalam dirimu."


Si putih atau White Meet salah sosok yang dikenal di negara ini yang merupakan sosok paling bahaya. Si Putih menjadi sosok paling ditakutkan karena kekuatan misterius dia.


Kemudian Gen atau sel dari si putih ada pada Candra. Padahal dia tidak terlibat akan sesuatu dengan si putih sampai dia masuk TPL.


"Jadi kenapa dirimu ada di dalam diriku."


"Kenapa bisa disini. Benar juga, paling mungkin karena orang tuamu."


"Ayah dan Ibu ku?"


"Benar, aku tadi bilang kan aku adalah Gen si putih darimu."


"Hmmm?." Candra memasang wajah bingung dengan jawaban itu.

__ADS_1


"Ahaha. Ibu mu punya gen si Putih dan melahirkan dirimu. Gen si putih menjadi bagian dari tubuhmu. Kemudian tumbuh perlahan menjadi diriku."


Candra mulai paham kenapa dia mengaku Kalau dia gen si putih. Tetapi Candra baru tahu soal orang tuanya memiliki hal seperti itu.


Walaupun begitu dia masih tidak ada maksud apa mereka dipertemukan.


“Jadi kita ini berada di semacam alam mimpi atau kesadaran kan?”


“Benar sekali. Cepat paham juga dirimu.”


“baiklah mari jelaskan sesuatu yang penting dan akan menjadi perubahan besar.”


Candra dengan sadar berdiri dan merasa ini akan jadi penting sekali.


“Candra Patian aku akan mengambil tubuhmu sekarang juga.”


Sebuah gerakan cepat langsung menusuk perut Candra tanpa dia sadari. Darah tidak keluar dari perut dan mulut Candra, bahkan dia juga tidak merasakan sakit dari tusukan perut tersebut.


“Hei mari bertarung untuk tubuhmu.”


“begitu itu alasanmu.”


Candra langsung melemparkan pukulan pada kepala Si Putih itu. Tetapi Si putih dengan mudah mengelak dan membalas pukulan dengan tendangan keras membuat Candra terpental.


“tenang saja di sini tidak merasakan sakit.” Dia mendekat ke arah Candra dengan perlahan.


“Hei kau tahu dari mana kenapa kamu tidak bisa melakukan dengan kontak energi. atau bahkan Energi yang ada malah hilang ketika di dekat dirimu.”


“Kau akhirnya muncul perasaan itu kan.”


“benar sekali. Ini perasaan takut yang sudah lama hampir hilang.”


“Ihihi benar.semua perasaan yang merugikan dirimu hilang karena diriku yang memotong itu.”


Candra yang bisa berdiri kembali langsung mengambil posisi siap tempur.


“Selama perasaan takut belum mengambil alih diriku. Aku akan tetap bertarung.”


“Bersikap layaknya pahlawan. padahal kau tahu dirimu ini hanya sosok yang masuk kelompok Villain.”


“Tentu saja aku tahu itu. tetapi kali ini saja biarkan aku menjadi sosok pahlawan bagi diriku sendiri.”


“Ihihihi. Benar ini sikapmu yang sebenarnya. Sosok yang muncul disana hanya sosok palsu dirimu.”


Si Putih langsung melayangkan pukulan dan langsung mengarah pada kepala Candra. Tetapi sekarang Candra bisa menghindari dengan mudah.


“Kenapa kau memiliki kekuatan untuk menghindari itu?”


Candra dengan sombong mengatakan bahwa dirinya bisa menghindari itu karena.

__ADS_1


“Plot armor seorang Hero.”


“Cih Hero Heart itu. Kenapa didunia ini ada kekuatan tidak stabil itu.”


Si putih dengan segera merubah wujudnya menjadi sosok monster. Wajah dia layaknya di tutupi topeng rata. Tubuh dia terlihat layaknya lilitah pohon berwarna putih. pada tangan kanan dia terlihat jelas kuku jari dia layaknya cakar.


“Waktunya serius.”


Candra hanya bisa terdiam melihat wujud baru Si putih menjadi monster mengerikan itu. Kaki dia langsung gemetar karena melihat wujud dan aura itu. sebuah pengalaman yang lama hilang.


“Mati sana.”


Dia langsung melakukan perpindahan cepat. sekali kedip saja dia sudah dibelakang Candra, selain itu kepala Candra langsung lepas dan melayang.


Ketika kepala Candra lepas, tangannya langsung sigap mengambil kepala dan menempelkan kembali ke leher.


“Tidak semudah itu.”


Tangan Candra terputus dan jatuh ke lantai karena tidak sempat mengambil kembali. dia juga langsung memotong kedua kaki Candra dengan mudahnya.


Sekarang Candra hanya bisa terkapar melihat tubuhnya dimutilasi oleh sosok si Putih. Si Putih yang merupakan dirinya yang lain.


Sekarang dia merasakan detak jantung. Candra seketika sadar dirinya merasakan jantung dalam keadaan ini. detak jantung tersebut sangat cepat, sebuah keadaan tidak normal, dia merasakan dirinya layaknya kehabisan nafas.


“Kau tidak bisa menang dengan kekuatan manusia dirimu saja. kau bisa bertarung karena kekuatan ku.”


“Ini benar-benar menakutkan.” ucap kecil Candra yang sadar akan keadaan ini.


Dia mulai merasakan hal ini dengan sangat kuat. Dia yang dulu hanya merasakan senang, dan itu hanya ketika berbau Hero, sosok penyelamat orang tanpa tanda jasa, dan perasaan senang ketika bersama Adiknnya.


“Ini kah rasanya takut akan kematian.”


Dia merasakan detak jantung yang tadinya cepat secara perlahan denyut itu turun secara perlahan. Tidak bernafas terasa sesak, dia terlihat hidup di dalam ingatan dan jiwa.


“Takut? kenapa kau terlihat senang?”


“Tidak. Aku ingin tetap bersama Adikku, semua koleksi tidak ingin dibiarkan begitu saja, aku masih belum minta tanda tangan Pahlawan lain, dan aku ingin lebih menikmati hidup.”


“Kau gila kenapa kamu tersenyum gila itu.”


Wajah Candra terlihat sangat jelas bahwa dia tersenyum. Dia bahkan terlihat sangat senang akan keadaan ini. Si Putih saja sampai mengira kalau Candra sudah rusak secara mental.


“Aku akan akhiri disini.”


Kuku tajam itu langsung di arahkan pada kepala Candra. Tetapi ketika tepat pada kepala Candra. seketika tangan nya di tahan, Candra langsung mengarahkan pukulan tepat pada kepala Si Putih.


“Uhkkks.. Kau kenapa kamu bisa memukulku.”


Candra dengan percaya diri mengatakan kembali.

__ADS_1


“karena kamu meremehkan ku.”


__ADS_2