
Keadaan makin panas semua perhatian langsung berpusat pada Ilmuwan dan Driverman yang saling beradu tatapan.
Beberapa orang terlihat merekam kejadian di depan mereka, tentu karena kejadian seperti didepan mereka cukup jarang ditemui, apalagi salah satu dari mereka menggunakan kostum tempur mereka.
“Bagaimana kalau kita pindah tempat?”
“Baiklah.”
“Oy, jangan lupa kalau kaki ku sedang sakit. Bisa tidak untuk diam dulu.”
Candra yang terbaring lemah karena kedua kakinya terluka parah.
“Jangan bodoh, aku ini sudah siap membawamu, makanya meminta orang itu pindah tempat.”
Ilmuwan langsung membangunkan Candra dan langsung memangku Candra ala tuan Putri.
“Entah kenapa kesannya aneh?”
Wajah Candra merasa ada yang salah. Melihat dirinya yang di Gendong alat Tuan Putri oleh seorang wanita membuat dirinya kehilangan harga diri. Tetapi dia tidak bisa melawan karena kedua kakinya yang sedang dalam keadaan kritis.
“Papa, Mama?”
“Intan, hentikan sebutan itu?”
“Tidak, Suka.”
Suara kecil yang membuat Driverman hanya bisa mengangguk lembut dengan wajah yang kesal karena dirinya tidak bisa melawan.
“Wah, Baik banget,” Sindiran Ilmuwan yang sedang memangku Candra.
Tentu Driverman langsung memperlihatkan sebuah lukisan wajah yang sangat buruk dan sangat siap untuk membunuh mereka berdua yang berpose ala Couple.
“Akhirnya ketemu juga. Jangan Bikin Panik!”
Seorang gadis yang ditunjuk Intan dengan sebutan Mama langsung muncul dengan nafas terengah-engah. Dia juga langsung menopang tubuhnya dengan kedua tangan pada pahanya.
“Oke kenapa tidak ajak dia juga.”
“Baiklah.”
Tanpa pikir panjang mereka langsung mengikuti Ilmuwan dengan sangat cepat, dan meninggalkan orang yang baru datang tersebut.
“Ahhhh, lihat saja nanti, dasar Arogan itu,” ucap kesal gadis tersebut.
***
Mereka langsung dibawa ke sebuah toko yang sering dikunjungi oleh Ilmuwan. Toko terkecil yang menyediakan barang-barang elektronik dan menyediakan jasa memperbaiki alat.
“Kek, kau didalam?”
__ADS_1
Semua orang disana hanya bisa terdiam melihat Ilmuwan membawa mereka ke sebuah toko kecil yang agak tersembunyi. Mereka yang mengenal sikap Ilmuwan yang terasa egois karena segala hal dimata dia untuk penelitian dan hanya untuk karya emas miliknya.
“Bisa diam tidak, ini masih siang loh.”
“Gara masih siang, makanya jangan tidur.”
Terlihat sang pemilik toko yang sudah membukukan tubuh karena tulang punggung yang sudah melemah, dan rambut putih yang menandakan umur yang sudah menyentuh angka 70-80. Kemudian semua mata langsung tertuju pada kaki kakek tersebut yang terlihat sudah menggunakan kaki buatan.
Masalah utama yang paling mengganjal mereka adalah bukan karena menggunakan kaki buatan. Di Negeri ini kaki buatan atau alat bantu kaki sudah tidak asing, bahkan seorang biasa bisa mendapatkan karena sudah mengalami kemajuan teknologi. Sebagai contoh saat insiden perampokan bank yang Candra terjebak disana dan melihat sang bos menggunakan tangan buatan yang berbentuk mesin.
“Siapa mereka?”
Ilmuwan sudah tidak menggunakan armor tempur tapi wajah dia masih ditutupi dengan kacamata khusus yang berasal dari armor tempur miliknya.
Candra yang sudah menempati kursi yang ada di toko tersebut, tetapi kaki Candra masih belum terlihat membaik.
“Soal itu tidak penting, sesuai janji aku akan membenarkan kaki itu?”
Ilmuwan mengabaikan pertanyaan dan langsung meminta kakek tersebut agar segera duduk, agar dirinya bisa memperbaiki kaki buatan tersebut.
“Kenapa, tidak disembuhkan saja kakinya, atau malah bisa aja tanam baru,” Driverman langsung memberikan ide agar bisa memiliki kaki yang normal.
“Soal itu, tentu saja tidak mungkin,” bantah Ilmuwan dengan cepat.
“Kenapa?”
“Entah, Sejak merawat ku, dia sudah menggunakan kaki itu.”
Driverman langsung menjauh dan mulai mendekati gadis yang ikut bersamanya, atau lebih enaknya disebut Aurora.
Dia membisikan sesuatu pada Aurora.
“Kau bisa lihat masa lalu dia?”
“Kenapa?”
“Lihat saja!”
“Asal kau tahu, aku melihat masa lalu seseorang benar-benar acak loh. Gak bakal sesuai perkiraan.”
“Maka dari itu sekarang coba intip, mungkin memiliki hubungan dengan Merial.”
“Baiklah.”
Aurora langsung maju dan mulai menatap mata Kakek tersebut. Dia terlihat menatap agar tidak saling adu tatapan, hal tersebut bisa membuat kakek tersebut curiga jika mereka saling menatap dalam waktu yang lama.
Ketika mata Aurora melihat mata tersebut, seketika sebuah penglihatan langsung masuk dalam otak Aurora.
Sebuah penglihatan masa lalu dari sudut pandang yang entah dari siapa, tetapi melihat seorang gadis yang berdiri didepan pintu, tetapi gadis tersebut penuh dengan darah dan luka. Tatapan yang mengalir dengan air mata, tetapi tidak terlihat karena menyatu dengan darah dari wajahnya.
__ADS_1
Gadis tersebut hanya terdiam dan tidak bisa berbicara karena tidak terdapat lidah. Mata kanan gadis tersebut terlihat memerah karena darah, kemudian setiap bagian lain hanya terlihat bekas sayatan.
Dia kemudian mulai melangkah mendekat secara perlahan, tidak terlihat ada sebuah langkah. Tetapi itu sangat yakin bahwa gadis kecil tersebut mendekat. Langkah tersebut membuat lantai mengalir dengan darah dan air hujan.
Malam membuat segala hal tidak terlihat dengan jelas, tetapi hal tersebut sangat yakin menunjukan bahwa gadis penuh luka tersebut memiliki rambut hitam panjang dan sangat berantakan.
“Tolong!” gadis tersebut hanya bisa mengatakan sepatah kata itu.
“WAHhhhhh.”
Seketika semua kembali seperti semula. Aurora langsung tersadar bahwa dia sedang pada sebuah toko elektronik kecil. Dia melihat keadaan sekitar yang sudah sangat cerah karena masih siang dan cuaca tidak hujan.
“Kau tidak apa-apa?’ Driverman langsung mendekat pada Aurora.
Nafas Aurora yang masih tidak beraturan membuat Driverman panik. Dia sadar bahwa tindakan tersebut tanggung jawabnya, dan jika terjadi apa pada Aurora, Driverman yang harus mengatasinya.
“Ahh, tidak apa-apa cuma. Panik saja.”
Candra yang tidak paham akan sesuatu yang bisa diam sembari matanya melihat pada HP yang sedang menyetel lagu pembuka dari suatu serial superhero. Dia mendengarkan menggunakan Earphone.
“Begitukah, dia menggunakannya,” Ucap dari Ilmuwan yang tidak terdengar oleh siapapun.
Ilmuwan yang sudah berhasil mencabut kaki tersebut, karena kaki buatan tersebut sangat mudah lepas pasang, tetapi karena sedang rusak mungkin bisa saja mengancam syaraf pada kaki sang pengguna apalagi yang menggunakan seorang yang sudah berusia.
“Driverman keluarkan kotak peralatan milik mu.”
“Kenapa yang aku, gunakan milikmu sendiri!”
“Aku meminta datang kesini karena aku ingin meminjam kotak mu.”
“Apa untungnya untukku?”
“Tidak ada, aku cuma mau pinjam.”
“Sikapmu benar-benar tidak berubah.”
‘Cepat keluarkan.”
“Tidak akan !”
“Kalau seperti itu.”
Seketika sebuah kotak berukuran lemari langsung muncul di samping Driverman. Ketika tangan Ilmuwan menyentuh pegangan pada Kotak lemari tersebut, seketika semua bagian langsung terbuka. Setiap isi dari kotak tersebut langsung muncul, semua bercahaya layaknya neon, dan setiap alat terlihat sangat futuristik dan bahkan ada layar monitor.
“Selamat datang kembali, Nyonya Merial.” suara dari monitor tersebut.
“Ohh, kau tidak merubah.”
“Kau yang tidak memberikan akses untuk pengubahan.”
__ADS_1
“Benar juga, nanti aku berikan aksesnya.”
Ilmuwan langsung mengeluarkan semua alat yang dibutuh untuk membenarkan kaki buatan milik kakek tersebut.