Kami Ini Villian

Kami Ini Villian
23


__ADS_3

Kehidupan meriah seperti tadi bukan kehidupan Candra dan Ilmuwan. Mereka adalah anggota organisasi kejahatan yang bisa mengacaukan keadaan kota dengan keberadaannya saja. Sekarang mereka malh menikmati badminoton dan membuat semua orang bersemangat untuk bermain badminton juga.


Cerita ini bukan kisah kehidupan sehari-hari Candra dan Ilmuwan yang bercita-cita menjadi pemain badminton, atau bahkan cerita tentang kehidupan santai para pemain Badminton. Pada dasarnya cerita ini adalah cerita kisah Candra yang berusaha menikmati anggota organisasi penjahat yang agak aneh.


Tentu sekarang mari buat bumbu superheroes kembali. Sebuah Gerbang dimensi hitam yang seketika muncul disebut dinding tembok lapangan badminton yang membatasi lapangan dengan kebun. Lubang tersebut tidak menghisap sesuatu, tetapi sebuah lengan raksasa dengan tangan yang habis di borgar baja berukuran besar, dan rantai masih terlihat jelas.


Semua penonton langsung panik dan melarikan diri. Mereka semua yakin bahwa ancaman di dunia ini pasti muncul dan tidak tahu kapan. Betapa seringnya ancaman bumi pasti terjadi dan tidak perlu waktu lama, dan hal itu pasti sering terjadi dalam waktu dekat.


Berbeda bagi Candra dan Ilmuwan, mereka tetap menetap karena tujuan masing-masing. Ilmuwan yang kagum dengan lubang hitam yang muncul di tengah lapangan dan ingin segera meneliti walaupun itu tempat munculnya monster. Candra yang sangat suka ketika penjahat menyerang karena pada saat itu pahlawan pasti datang menyelamatkan mereka.


“Ilmuwan, kau sembunyi. Berbahaya ini.”


‘Tidak, malah kau yang harus pergi.”


Mereka tidak ingin ada pengganggu untuk menikmati tujuan mereka. Entah ada apa mereka semua langsung saling paham ketika tatapan mereka saling bertemu.


“Begitukah.”


“Paham juga kau ini.”


Ketika mereka sepakat monster hitam raksasa layaknya Orc muncul dengan tangan kanannya yang berupa sebuah tangan buatan dari mesin. Pada tangan yang terbuat dari besi tersebut terlihat bawah pedang berukuran besar sudah dipegang.


Tinggi yang sampai dengan pohon membuat ukuran dia benar-benar sebuah raksasa. Monster tersebut tidak melihat Candra karena mereka tepat dibawah monster tersebut. Tetapi sekali langkah saja sudah bisa membuat Candra dan Ilmuwan mati karena terinjak.


“Lihat Candra, monster itu keluar dari lubang sekecil itu.”


“Woy jangan berisik.”


Teriakan semangat Ilmuwan dan bentakan Candra membuat monster tersebut langsung melihat kebawah.


Sebuah raungan keras membuat Candra dan Ilmuwan tutup telinga dan matanya. Tetapi merasakan angin mengenai tubuh Candra, dia sadar bahwa penghalang angin sudah hilang berarti kaki monster tersebut mengangkat.


“Ilmuwan cepat menghindar!”


“Apa?” tidak ada tanda-tanda kalau Ilmuwan mendengar.


Secepat mungkin Candra melompat dan membawa Ilmuwan dengan cara yang sama seperti saat Di bank. Di langsing mengangkat Kaki dia dan membiarkan kepala Ilmuwan dibawah kepala dia juga langsung terbentur ke tanah. Entah ada apa kepala ilmuwan tetap sehat tanpa ada luka.


“Woy, bisa tidak pake metode lain.”

__ADS_1


“Tidak ada.”


Ketika hentakan kaki tersebut membuat hempasan angin cukup kencang, tetapi tidak membuat mereka terpental, hanya saja debu bertebaran ke seluruh lapangan. Pada akhirnya mereka hanya bisa diam karena penglihatan mereka tertutupi oleh debu.


“Sial, Candra gunakan ini!”


Ilmuwan langsung melemparkan sebuah koper hitam yang mirip dengan tas armor tempurnya. Tetapi ini berbeda sedikit, terlihat lebih simpel daripada sebelumnya.


“ini armor yang sama dengan milikku?”


“Tidak. Armor tempur kroco biasa.”


Sebuah teriakan dari jauh terdengar ketika Candra hendak menggunakan armor.tempur. Suara yang tinggi dan terasa sangat muda dibanding umur Candra dan Ilmuwan. Tetapi Telinga Candra langsung bergerak ketika mendengar suara tersebut.


“Kakak disana segera menjauh. Biarkan kami yang mengatasinya.” nada semangat yang penuh aura kepemimpinan muda.


“Sebaiknya kakak-kakak pergi.” Suara seorang bangun tidur.


Wajah Candra langsung penuh bintang ketika melihat gadis yang terbang diatas mereka. Ketinggian yang tepat pada wajah monster yang sedang menyerang Candra dan Ilmuwan. Tanpa ragu lagi mata Candra penuh bintang melihat gadis-gadis dengan pakain imut dengan tongkat sihir yang bercahaya sesuai warna kostum mereka.


Gadis yang memiliki kharisma seorang pemimpin memiliki tema warna berwarna putih dengan aksesoris berwarna biru muda. Gadis dengan wajah mengantuk memiliki warna utama biru yang sama dengan langit yang menunjukan ketenangan dia.


“Berisik.” Sesegera mungkin Ilmuwan memukul Candra.


Injakan monster masih belum berhenti. Tapak kaki raksasa langsung mengarah tepat pada kedua kepala Candra dan Ilmuwan. Mereka tidak sempat bereaksi karena mereka habis melakukan adegan komedi. Untung saja Para para gadis dengan pakain imut langsung menyelamatkan mereka.


“Kyah, di gendong ala tuan putri sama Magical Girl.” pikiran Candra memang konslet ketika membahas pahlawan pelindung.


“Mana laki-laki mu Candra?”


‘Ahhh,” Candra langsung angkat suara terdalamnya,”kapan lagi bisa digendong sama Magical Girl.”


Wajah Magical putih terlihat sangat menunjukan rasa jijik pada Candra. Untung saja dia tidak menggendong Candra. Magical Girl biru lah yang membawa Candra, dia terlihat sangat biasa dan wajah dia terlihat normal saja.


Mereka menurunkan Candra dan Ilmuwan dan langsung berkata untuk pergi.


“Kakak, disini bahaya sebaiknya kalian pergi!”


Tentu mereka tidak menjawab dan berpura-pura kabur. Pada akhirnya mereka melakukan jalan memutar dan kembali keposisi awal. Mereka sejak awal memiliki tujuan dan maksud untuk tetap tinggal. Candra ingin melihat aksi Pahlawan dengan matanya sendiri, dan Ilmuwan ingin meneliti lubang hitam yang memunculkan monster besar tersebut.

__ADS_1


Sebuah batang pohon menjadi tempat mereka bersembunyi dari para Magical Girl. Candra sudah mengeluarkan HP dan mulai melakukan sesi foto aksi pertarungan Magical Girl dengan monster raksasa. Ilmuwan masih harus bersabar sampai pertempuran mereka selesa, tentu akan sangat berbahaya meneliti lubang hitam ketika ada pertempuran di dekatnya.


Para Magical Girl terlihat masih belum bisa memberi dampak serius pada monster tersebut. Mereka malah membuat keadaan sekitar makin rusak dan hancur. Keadaan yang tidak mendukung untuk pertempuran mereka akhirnya menggunakan kekuatan untuk menanggulangi dampak pertarungan.


“Magi Gladius.”


“Mengerti Magi Soleil.”


Semua pemandangan lapangan badminton berubah menjadi pemandangan warna cerah dan terlihat sangat kartunis. Mereka semua terlihat sudah berpindah dunia hanya dalam satu detik saja. Tetapi keadaan sekarang bisa membuat mereka bertarung dengan bebas karena tidak perlu memikirkan bangunan rumah. Sekarang mereka berada pada lapangan yang terlihat terbuat dari coklat kue dan bangunan sekitar sangat penuh gambaran seorang gadis imut.


“Mantap, akhirnya bisa masuk semacam dunia pertarungan para Magical Girl.”


Candra langsung menggunakan HP untuk melakukan Selfie dengan gaya yang serius. Tentu ada seseorang yang seketika muncul di belakang dirinya. Senyuman dari gadis dengan kacamata berjas lab datang tanpa diundang dan dia malah ikut masuk foto.


“Cih, malah ikutan jadi gak keliatan pemandangannya.”


“Lihat aku bawa ini.”


Dari kantung sihir Ilmuwan terlihat sebuah kamera bermerek langsung terlihat jelas. Bukan hanya kamer Tripod juga sudah menempel pada kamera.


Hal Tersebut langsung Candra naik semangat dan langsung menyetel kamera untuk melakukan sesi foto dengan latar belakang pertarungan magical Girl yang sedang melawan monster raksasa. Sinar laser berterbangan layaknya kembang api. Getaran kekuatan membuat efek pada kamera terasa begitu hidup. Ledakan-ledakan juga sudah menjadi Background yang sangat indah.


Suara hitungan dari Kamera terdengar dengan jelas bagi Candra dan Ilmuwan. Mereka yang mendengar hitungan tersebut langsung melakukan pose keren mereka. Candra terlihat sangat keren dengan pakaian santainya yang tidak cocok untuk olahraga. Ilmuwan sama tidak mau kalah hanya saja dia agak kontras karena menggunakan pakaian yang aneh..


“3”


“2’”


“1”


Suara dan kilatan kamera langsung terdengar.


Tanpa ragu mereka melihat hasilnya.


Mereka melihat hasil gambar yang benar-benar bagus. Pemandangan belakang yang penuh dengan aroma fantasi ringan ala magical Girl penuh fantasy. Ledakan, Laser, dan kilatan membuat kesan pertarungan terasa indah dan sangat cocok untuk genre Magical Girl yang penuh harapan dan mimpi. Fokus kamera pada mereka berdua membuat hasilnya sangat sesuai keinginan tetapi Candra ingin lebih menonjolkan Background.


“Boleh juga.”


“Tepat, sekali-sekali harus main sini lagi.”

__ADS_1


__ADS_2