
"Hai Dea!" sapa Ariska,dia terlihat senang bertemu dengan temannya.
"Hai juga," balas gadis yang dipanggil dea.
"Ini sepupu aku,yang pernah aku ceritain sama kamu." Ariska memperkenalkan Diana. Diana terdiam,matanya tidak berkedip sama sekali,dia sangat senang melihat gadis di depannya. Dia adalah Dea,sahabat kecilnya. Tidak salah lagi dia tidak mungkin salah,ini benaran Dea,tapi Diana tidak boleh mengatakan hal ini di depan Ariska,dia tidak ingin Dea terjebak dalam masalahnya.
"Hai,kenalin aku Dea." Dea mengulurkan tangannya,Diana menyambut uluran tangan itu,dia berharap Dea mengingatnya juga.
"Diana."
"Jadi kamu yang namanya Diana itu? Ariska sering loh ceritain soal kamu di kampus,dia juga bilang kamu itu sangat pintar,kamu pasti yang sering mengerjakan tugas kampusnya dia kan?" ujar Dea,cara bicaranya masih sama seperti dulu,panjang dan lebar. Itu sih menurut pandangan Diana.
"Biasa aja kok,aku cuma membantu apa yang aku bisa." Jawab Diana merendah.
"Ngomong-ngomong,kamu kenapa tidak kuliah?" Dea bertanya penuh penasaran.
"Eh,kalian berdua keasyikan ngobrol malah ngelupain aku," sela Ariska merasa di abaikan hingga membuat Diana tidak bisa menjawab pertanyaan Dea.
"Eh iya,rupanya ada orang ketiga maaf aku lupa." Dea bergurau,Diana tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Tapi,benarkah Dea tidak mengenalinya?
"Gimana kalau kita ke pantai? Lumayan juga kan sore-sore begini menikmati pemandangan indah di pantai." Usul Ariska.
"Wah,ide bagus itu. Aku juga sudah lama tidak ke sana,kebetulan ada Diana,pasti akan lebih rame dan seru." Dea menerima dengan baik usulan Ariska.
Dea kemudian mengajak mereka berdua naik ke mobilnya,karena tadi Ariska datang di antar mang Ucok,sopir pribadinya.
Dari kejauhan ada seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam yang ternyata sudah sejak tadi memata-matai gerak gerik mereka,tanpa mereka sadari.
__ADS_1
"Tidak ada yang mencurigakan bos,mereka hanya duduk dan mengobrol saja,saya akan terus mengawasi mereka,jika ada sesuatu yang mencurigakan,nanti akan saya kabarkan lagi." Lelaki itu kemudian mematikan ponselnya
\*\*^^••••^^\*\*
Ketiga gadis itu duduk dengan santainya di bawah pohon palem yang tumbuh di dekat bibir pantai,menikmati keindahan alam seperti ini adalah keinginan Diana sejak kecil,dan hari ini setelah belasan tahun berlalu dia akhirnya kembali bertemu sahabat kecilnya,tapi sayangnya Dea tidak mengenalinya lagi.
"Kalian tahu,aku selalu ingin terbang bebas seperti burung." Ucapan Diana spontan saja membuat kedua temannya terkejut,dari tadi dia diam saja,eh sekalinya bicara malah ngomongnya kayak begitu.
"Kamu ngomong apa barusan?" tanya Dea,dia hanya ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya,kenapa bicara seperti itu,apa selama ini kamu merasa hidup kamu tidak bebas,kamu merasa di kekang?" tanya Ariska.
"Maaf,aku tidak bermaksud seperti itu,aku bahkan tidak tahu apa yang aku katakan," jawab Diana jujur.
"Ya ampun Dea,aku harus pulang sekarang,aku sudah janji sama mama cuma pergi selama 3 jam tidak lebih." Ucap Dea kaget saat menyadari kalau dia sudah lama berada di pantai itu.
"Kamu kenapa takut seperti itu,kayak orang ngelihat hantu saja." Ucap Dea,saat melihat reaksi Diana seperti orang takut.
"Iya kamu kenapa berlebihan seperti itu? Mama aku juga bukan monster kali,nggak perlu di takutin kayak gitu'' Ariska memasang wajah cemberutnya,melihat hal itu Dea hanya tersenyum,senyumnya terlihat sinis,sedangkan Diana hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam,dia tidak terlalu banyak bicara dia terlalu sibuk memikirkan banyak pertanyaan yang sudah menumpuk di otaknya.
.... \*\*\*°°°~~~~°°°\*\*\*....
"Kamu sudah bertemu dengan Diana?" tanya seorang lelaki sambil memainkan pulpen di tangannya.
"Sudah om."
"Menurut kamu bagaimana keadaannya? Apa dia terlihat baik-baik saja?" mendengar pertanyaan om Andra Dea terdiam sesaat,mencoba mengingat kembali senyum terakhir Diana saat dia mengantarkan mereka pulang.
"Kenapa tidak menjawab,apa yang kamu pikirkan?" tanya om Andra lagi saat Dea terdiam dan tampak memikirkan sesuatu.
"Aku jadi teringat Diana om,dia meminta aku untuk tidak pergi dan meninggalkannya." Jawab Dea pelan dengan wajah murung.
__ADS_1
"Kamu sama seperti papamu Dea,lain yang di tanya lain yang di jawab," lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya,tidak habis pikir dengan gadis di depannya itu.
"Memang tadi om Andra bertanya soal apa?"
"Tadi saya nanya sama kamu,menurut kamu bagaimana keadaan Diana? Apa dia terlihat baik-baik saja?" ucap pak Andra mengulang kembali pertanyaannya.
"Dia tidak terlihat baik-baik saja om,lebih tepatnya dia tidak bahagia" jawab Dea,ya Diana memang tidak bahagia,dia bisa melihat dengan jelas dari gerak-gerik sahabatnya. Tatapan Diana yang sering kali menatap kosong,hampa,dia seperti tubuh yang tak bernyawa. Dea tidak salah menilainya,dia sudah kenal Diana sejak kecil,meski mereka telah berpisah bertahun-tahun lamanya dan baru bertemu lagi tadi siang.
"Lalu kapan dia meminta kamu untuk tidak pergi?"
"Tadi om" jawab Dea
"Apa kamu sudah mengatakan yang sebenarnya,kalau kamu mengenal dia?"
"Tentu saja tidak,aku tadi mengetahui keinginan Diana yang meminta aku untuk tidak pergi saat dia tersenyum." Jawab Dea sedikit menyombongkan diri di hadapan lelaki itu.
"Heh,sombong!" tatapan mata pak Andra sedikit merendahkan,tapi sebenarnya dia merasa bangga dengan Dea,dia memiliki kepekaan yang sangat baik,sepertinya lelaki itu memilih orang yang tepat untuk membantu Diana keluar dari rumah Indra Alexander.
"Tapi Dea hebat kan?" Dea memuji dirinya lagi,dengan senyum bangga mengembang di bibir seksinya.
"Ya,saya akui itu. Tapi kamu harus berhati-hati Dea,jangan sampai ada orang yang tahu tentang hal ini,termasuk papa kamu." Pak Andra mengingatkan.
"Om tenang aja,papa tidak bakalan tahu soal ini." Dea meyakinkan.
"Kamu jangan meremehkan papa kamu,sedikit saja ada hal yang terlihat mencurigakan maka dia akan menyelidikinya,dia itu sebenarnya lebih pintar dari apa yang kita lihat." Ungkap pak Andra, apa yang di katakannya memang benar,pak Doni itu seperti detektif saja.
"Iya om,Dea bakal bertindak dengan sangat hati-hati."
"Bagus kalau begitu,dan sebaiknya kamu segera pulang,sudah saatnya makan malam pasti orang tua kamu sudah menunggu kamu di rumah. Dan ingat! jangan membuat papa kamu curiga," pak Andra mengingatkan sekali lagi.
Dan setelah berpamitan Dea langsung keluar dari ruang kerjanya pak Andra dengan sangat hati-hati,dia tidak mau jika salah satu karyawan yang ada di sana melihatnya,dan mengenalinya sebagai anak dari Doni Saputra,karena kalau ada yang tahu,maka mereka akan mempertanyakan ada urusan apa Dea datang ke kantor itu,hingga pada akhirnya membuat sang papa tahu kalau dia dan Andra bekerja sama.
Tapi dia tidak boleh lengah,dia harus benar-benar berhati-hati,sebab om Andra sudah mengatakan bahwa ini untuk keselamatan Diana,meski dia belum tahu semuanya,apakah Diana di sana disiksa.
Kali ini dia akan berusaha mencaritahu dengan jelas,tanpa harus minta persetujuan dari pak Andra,dia sudah bertekad untuk bertindak sendiri.
....
__ADS_1