Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Perencanaan


__ADS_3

"Angga nggak tahu,mau mulai dari mana pa," ujar Angga,dia bingung tidak tahu bagaimana cara menceritakan tentang nasib buruk Diana pada papanya.



"Ya,kamu cerita aja apa yang ingin kamu ceritakan sama papa,apa yang membuat kamu terus memikirkan si dia." Ujar papanya.



"Jadi,tadi teman Angga itu yang namanya Diana,dia jatuh pingsan dan akhirnya kami membawanya ke rumah sakit,terus Dea mencoba membuktikan kebenaran ucapan aku,bahwa Diana memiliki bekas luka di punggungnya dan papa tahu apa yang terjadi?" tanya Angga melihat ekspresi serius ayahnya saat mendengar ceritanya itu.



"Memang apa yang terjadi?"



"Dea benar-benar melihatnya dan ternyata luka itu masih ada dan sangat banyak,luka seperti bekas cambuk gitu," ungkap Angga,wajahnya terlihat sangat khawatir.



"Maksud kamu dia di aniaya oleh keluarganya begitu?"


"Iya,sepertinya memang begitu,apa lagi dia tinggal sama om dan tantenya." Mendengar penuturan Angga pak Johan teringat seseorang.


"Apakah nama lengkapnya Diana Putri?"


"Kenapa papa tahu namanya?" kini Angga menatap papanya dengan penuh tanda tanya.


"Owh benarkah?" pak Johan kelihatannya sangat bahagia.


"Jadi selama ini dia tinggal bersama Indra Alexander?" tanya papanya setengah bergumam,bahkan Angga sendiri hampir tidak mendengarnya.


"Iya,dia tinggal bersama om Indra dan tante Sofia."


"Akhirnya om menemukan kamu nak!" desis pak Johan,matanya terlihat berkaca-kaca dia sangat terharu,lelaki itu melepaskan kacamatanya dan menyapu air matanya yang sudah jatuh membasahi pipi.


Spontan Angga kaget melihat reaksi papanya yang menurutnya itu terlalu berlebihan,seumur hidupnya cowok itu tidak pernah melihat papanya menangis,apakah papanya sesedih itu mendengar kisah Diana.


"Kenapa papa menangis? Apa papa mengenal Diana?"


__ADS_1


"Papa pernah beberapa kali bertemu dengannya,saat dia masih tinggal bersama dengan pak Doni. Diana,dia gadis yang kurang beruntung,masa kecilnya tidak seindah anak-anak yang lain,dia harus kehilangan ibunya saat masih kecil dan papanya juga pergi entah kemana,setelah ibunya meninggal dia di rawat oleh pak Doni dan Anita," ungkap papanya. "Dan Dea teman kamu yang pernah beberapa kali kamu ajak ke rumah,kamu tahu kalau dia itu anaknya pak Doni," lanjutnya kemudian.



Angga benar-benar syok di buatnya,dia tidak menyangka kalau sebenarnya Dea sudah mengenal Diana sejak dulu.


"Jadi,selama ini Dea sudah mengenal Diana? Lalu kenapa mereka seolah baru saling kenal,apa dia berpura-pura di depan Ariska.?" Angga semakin penasaran akan hal ini,dia sudah tidak sabar menunggu hari esok,ingin menanyakan segalanya sama Dea.


"Mungkin teman kamu sedang berusaha untuk mencari peluang agar bisa membawa Diana keluar dari rumah itu." Jelas pak Johan sepertinya lelaki itu tahu banyak hal tentang Diana.


"Pa,tolong ceritakan pada Angga ada apa ini,bagaimana papa bisa begitu kenal dengan Diana,papa juga tahu masa kecilnya dia,jangan bilang kalau papa..." Angga menatap papanya dengan tatapan curiga. "Selingkuhan ibunya." Lanjut cowok itu tertawa lucu.


"Hus... sembarangan kalau ngomong,ceritanya panjang Ga,nggak bakal habis dalam semalam,kalau kamu memang sangat ingin mengetahui semuanya,tanyakan saja pada mama kamu setelah mama kamu kembali dari Singapura. Sudah malam sebaiknya kamu tidur sana! Papa juga sangat ngantuk," pak Johan langsung pergi meninggalkan Angga seorang diri,Angga tahu papanya itu pasti memiliki rahasia yang mendalam dengan keluarga Diana,dia bisa merasakan setiap kali papanya menyebut nama Diana,papanya itu seperti tengah menyesali sesuatu.


\*\*\*\[\[^^^•••^^^\]\]\*\*\*



"Sudah seperti ini masih saja kamu menyembunyikannya dari aku,kamu ini bagaimana sih mas." Omel wanita itu,Andra dan Andriana mereka berdua adalah kakaknya Naumi.




"Kamu sudah memata-matai mereka lebih dari 10 tahun,sampai sekarang masih saja sama,tidak ada perkembangan sama sekali,ayo lah mas Andra,apa yang kamu takut kan,kamu takut sama si tua bangka Abraham itu?" tanya Andriana sedikit meninggikan suaranya.


"Entahlah,rasanya sangat sulit bergerak,kita ini hanya seekor semut kecil bagi si lelaki tua Abraham itu," desah pak Andra,semangatnya mulai hilang,beberapa hari yang lalu ketika bertemu dengan Dea bukan main semangatnya untuk bisa membawa Diana keluar dari rumah itu,tapi sekarang dia sendiri tidak yakin bisa melakukannya.


"Selamat siang om Andra tercinta!" ucap Dea begitu memasuki ruangan lelaki itu,suaranya terdengar begitu genit. Andriana menatap kakaknya dengan pandangan aneh.


Pak Andra tidak menyangka kalau Dea akan datang tanpa membuat janji dulu.


"Mas,jangan bilang kalau kamu sedang menjalin hubungan dengan gadis ini!" tunjuk Andriana,dia memasang ekspresi jijiknya.


"Wah,tante ini mirip sekali sama om Andra,tante cantik sekali," puji Dea,dia kagum melihat wajah Andriana.


"Saya Andriana saudara kembarnya pak Andra." Andriana mulai memperkenalkan dirinya.


"Apa..? Saudara kembar? Tapi tante terlihat lebih muda,om Andra sudah berumur 46 tahun sama dengan ayahku,tapi tante terlihat seperti masih berumur 38 tahun" puji Dea. ya,dia memang sedang berkata jujur,nona Andriana memang cantik,wanita itu sama sekali belum menikah,dan pak Andra sudah menikah,namun akhirnya harus menjadi duda karena sang istri meninggal saat melahirkan. Anaknya juga tidak tertolong,sampai sekarang lelaki itu masih tetap betah hidup sendiri tanpa pendamping. Mungkin cintanya pada sang istri terlalu dalam,hingga kepergiannya meninggalkan trauma.


"Benarkah? Saya tidak merasa semuda itu,meskipun semua orang mengatakan hal yang sama seperti kamu." Andriana tersipu malu dan raut wajahnya itu seperti gadis remaja saja,Andra sendiri sangat muak melihat gayanya itu.

__ADS_1


"Sudah..! Jangan membahas hal-hal yang tidak penting di sini,sebenarnya apa tujuan kamu ke sini Dea?" tanya om Andra memutuskan obrolan mereka yang di anggapnya hanya membuang waktu sia-sia.


Dea mulai mengambil sebuah kursi yang ada di sudut ruangan itu,dan duduk tepat di depan om Andra.


Dia menarik nafasnya pelan-pelan sebelum bercerita.


"Kita harus membawa Diana keluar dari rumah itu sesegera mungkin." Dea mulai bicara.


"Jadi kau menyuruh anak kecil untuk melakukan hal seperti itu?" tanya Andriana tatapan matanya sedikit merendahkan.


"Diam...!!" Suruh Dea dan Andra bersamaan,mereka sama-sama tidak menyukai jika ada orang yang menyela omongannya saat sedang bicara.


"Iya,saya diam." Andriana akhirnya hanya bisa tertunduk,tidak berani menatap tatapan dua orang di depannya yang seperti sedang mengintimidasinya dirinya.


"Apa terjadi hal buruk lagi?"


"Kemarin saat mengantarkan Diana ke rumah sakit,saya melihat ada banyak bekas pukulan di punggungnya,kalau saja Diana tidak pingsan waktu di pantai hari itu,mungkin saja kita tidak akan pernah tahu akan hal ini. Dokter bilang,dia tidak makan dengan teratur." Dea menatap om Andra berharap lelaki itu mau mengikuti kemauannya.


"Apa? Pukulan?" Andriana sontak saja kaget mendengar cerita Dea. "Berani-beraninya mereka melakukan hal sekejam itu sama keponakan aku? Wanita itu mengepalkan tangannya,ingin sekali di bunuhnya seluruh keluarga Alexander yang telah membuat hidup Diana menderita.



"Mereka benar-benar menyiksanya," desis pak Andra. "Diana pasti sangat kesakitan,entah berapa puluh kali pukulan yang dia terima dari keluarga siluman itu,tunggu saja aku akan membalasnya!" sorot matanya terlihat berapi-api,dia tidak bisa lagi hanya duduk diam dan menunggu informasi dari anak buahnya.


"Mas aku rasa sebaiknya kamu tidak perlu lagi ikut campur dalam hal ini,serahkan saja pada kami." Ucap Andriana,meski terdengar konyol tapi dia sebenarnya memiliki bakat terpendam dalam hal ini.


"Iya om,melihat om yang hanya duduk-duduk saja dan pandai menyuruh orang lain apa gunanya? Om sama papa,sama aja. Sama-sama nggak bisa di harapkan," kali ini Dea sependapat dengan tante Andriana,apa yang mereka katakan memang tidak salah,sudah belasan tahun mereka melakukan hal sia-sia,bukan menyelamatkan Diana tapi malah membuat gadis itu tambah sengsara.


"Kalian jangan gegabah dulu,saya bukannya tidak mampu untuk menolongnya,hanya saja saya sedang menunggu waktu yang tepat."


"Jangan di tunggu om,dia tidak akan datang,tapi om sendiri yang harus mencarinya,mencari kesempatan untuk bisa membawa Diana keluar dari rumah itu." Ujar Dea,dia sangat geram dengan sikap santai om Andra.


"Jangan pedulikan duda tua satu ini Dea,bagaimana kalau kalau kita berdua kerja sama?" tanya Andriana meminta persetujuan dari Dea,mendengar ajakan Andriana


Dea mengangguk setuju. Pak Andra marah saat mendengar adiknya itu mengatainya duda.


"Sialan kalian berdua,keluar sekarang juga dari ruangan saya!!!" pekik pak Andra seraya melempar kotak pensil yang ada di atas mejanya, Dea dan tante Andriana keluar dari ruangan itu sambil tertawa.



"Dasar perawan tua!!!" tambahnya lagi,dia masih kesal dengan ucapan Andriana,pak andra paling tidak bisa di katai duda meski dia memang duda.

__ADS_1


__ADS_2