Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Kemarahan Om Indra


__ADS_3

Pak Indra menuntun Ariska untuk membantunya duduk di sofa,lelaki itu berusaha menenangkan anaknya,dia tahu Ariska pasti sangat shock melihat perlakuan mamanya kepada Diana.


"Maafkan Ariska pa! Ariska terpaksa membiarkan Diana pergi sendirian,Ariska semalam sangat takut. Aku takut dia kehilangan nyawanya di sini karena perbuatan kejam mama." Ucap Ariska masih di sela-sela isak tangisnya.


"Ya papa mengerti,papa tahu kamu sangat menyayangi Diana,tapi apa kamu tahu dia pergi ke mana?" pak Indra masih berusaha mencari informasi dari anaknya.


Menjawab pertanyaan papanya Ariska hanya menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak mempercayai papanya,saat itu di pikirannya hanya ada satu pertanyaan,siapa yang lebih kejam? Mama atau papa? Konyol memang,bahkan dia yang sebagai anak tidak bisa percaya begitu saja kepada orang tuanya.


"Percaya atau tidak Ariska,itu terserah kamu,mungkin papa memang tidak pernah membela Diana di depan mama,tapi jika mama sampai menyiksanya separah itu,papa pasti akan sangat marah,kamu tidak tahu kan mengapa papa takut sekali kalau Diana keluar dari rumah ini?" tanya pak Indra.


Ariska menatap papanya,kini tangisnya sudah mereda,dia mulai fokus menunggu apa yang akan di katakan sang papa.


"Tidak... Memang kenapa pa?"


"Kalau dia keluar dari sini,nyawanya sudah pasti dalam bahaya,kakekmu akan melakukan hal yang lebih buruk lagi pada Diana." Mendengar ucapan papanya,kini Ariska yakin apa yang di dengarnya malam itu,saat mamanya sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone,ternyata benar kakeknya adalah dalang di balik semua ini.


"Mungkinkah apa yang di lakukan mama juga atas perintah kakek?" tanya Ariska memastikan



"Iya,dan menurut papa,kakek kamu itu sengaja menyuruh mama kamu untuk terus menyiksa Diana,dengan begitu dia tidak akan sanggup lagi tinggal di sini,dan akhirnya dia memilih kabur,dengan dia kabur dari rumah ini kakek akan lebih mudah mengambilnya dan kemudian memperlakukannya dengan lebih buruk dari pada apa yang di lakukan mamamu," jelas pak Indra panjang lebar,mendengar hal itu membuat tubuh Ariska bergetar,sekejam itukah opanya?



"Tapi pa,malam itu yang Ariska dengar mama bilang gini. "Aku yang akan melakukan semuanya papa jangan takut,dia tidak akan bisa pergi dari rumah ini." Ujar gadis itu mengulang kembali kata-kata yang di ucapkan mamanya.



"Itu cuma alasan saja Ariska,opa kamu itu pintar,menyuruh mama kamu untuk menyiksa Diana seperti itu karena opa ingin dia kabur dari rumah,dengan Diana keluar dari rumah ini maka dengan mudahnya opa bisa membawa pergi Diana."



"Apa karena hal ini juga yang membuat papa takut membiarkan Diana kuliah?"



"Iya,selama dia berada di rumah ini,opa tidak berani bertindak macam-macam." Desah lelaki itu,pikirannya kacau sekarang dia benar-benar pusing mau cari Diana ke mana.



Ariska sendiri sebenarnya tahu kalau Diana pergi menuju rumah bi Murni,tapi dia tidak ingin mengatakan hal ini pada papanya,dia masih kurang yakin.



Ternyata opa memang sangat pintar menjalankan misinya.


"Papa menyesal tidak terlalu memperhatikan Diana hingga mama kamu bisa melakukan hal sekejam itu," ucap pak Indra penuh sesal.


    \*\*\*\*\*\*



"Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan ini bagus atau tidak,tapi yang pasti kita sudah bertindak terlalu jauh." Lirih lelaki itu sambil menatap pria di depannya yang kini masih terbaring lemah tidak sadarkan diri.



Andriana sama sekali tidak menyesal dengan apa yang telah di lakukannya tanpa perintah dari saudara kembarnya itu. "Mas tahu,aku melakukan semua ini sudah memikirkan konsekuensinya,yang aku lakukan ini adalah untuk kita juga."


__ADS_1


"Masud kamu?"



"He is the witness of all the crime,of lord Abraham."



"Kamu yakin dia mau memberitahukan segala kejahatan si tua itu?" pak Andra masih kurang yakin.



"Ya,kita coba saja dulu."



"Pak Andra,Andriana...!" Panggil Winda,seorang dokter yang mereka tugaskan untuk menjaga lelaki yang di tembak oleh suruhannya Abraham. Wanita itu terlihat ketakutan dengan nafas yang memburu,dia seperti sedang di kejar perampok.



"Ada apa? Kamu kenapa ngos-ngosan gitu?" tanya Andriana tersenyum lucu melihat kepanikan di wajah temannya.



"Saat ini kamu masih bisa tersenyum karena tidak tahu masalah yang terjadi di luar,tapi kamu tidak akan bisa tersenyum lagi setelah mengetahui berita apa yang aku bawa." Ucap Winda berusaha mengatur nafasnya.



"Berita apa yang kamu bawa?" tanya pak Andra dingin." Winda tidak langsung menjawab,tatapannya ke pak Andra juga sama dinginnya.


Melihat hal ini,Andriana semakin yakin mereka ini pasti punya masa lalu,karena setiap kali bertemu juga tidak pernah akur,saling cuek,nyindir,segala macam lah,yang sebenarnya hal seperti itu lebih cocok di lakukan oleh para remaja,sedangkan mereka? hemp... Sudah mau jadi nenek-nenek masih aja begitu.


"Duh,kalian ini kayak anak kecil,mas Andra pun kalau bertanya sama orang itu biasa saja,nggak usah bersikap sok dingin lah,mas itu harus sadar sudah tua bukan remaja lagi," cibir Andriana.




Mereka kemudian sama-sama keluar dari kamar tersebut dan membiarkan lelaki itu beristirahat dengan tenang.



\*\*\*\*\*\*



"Tadi aku bertemu pak Abraham di rumah sakit,dan kamu tahu siapa yang dia cari?" tanya Winda ingin membuat mereka penasaran.



"Tentu saja mencari Aldo." Jawab Andriana santai.



"Kamu sudah tahu hal ini?" tanya Winda tidak percaya. "Apa mungkin kamu juga yang sudah memalsukan kematiannya?"



"Iya,benar sekali." Andriana masih terlihat santai. Winda membelalakkan matanya,tidak menyangka sahabatnya ini akan melakukan hal sehebat itu,ya menurutnya sangat hebat,Andriana selalu bisa mengatasi masalah dengan sangat cepat.

__ADS_1



"Kamu merasa takjub dengan apa yang di lakukan Andriana?" tanya pak Andra,kelihatannya dia tidak suka dengan ekspresi wajahnya Winda,dia terlihat seolah-olah sangat mengagumi Andriana.



"Kenapa,apa aku tidak bisa memperlihatkan kekagumanku pada Andriana,dia memang sangat hebat sejak SMA dulu,aku bangga sama kamu!" puji Winda.



"Bukan tidak suka,hanya saja wanita ini jangan sering-sering di puji,karena nanti dia akan merasa dirinya paling hebat," ungkap pak Andra,hal begitu doang mah saya juga bisa," tambahnya lagi.



"Mas cemburu sama aku,karena Winda muji aku bukannya mas Andra iya,kan?" Andriana tersenyum menggoda,dia ingin mengetahui isi hati kakaknya itu,apa dia sebenarnya menyukai Winda,kan kasian terlalu lama menduda,dan lagian Winda juga belum menikah,walaupun pak Andra duda dia itu tetap tampan,duda tampan.



"Ih,sembarangan kalau ngomong."


"Eits... Bentar dulu deh," Winda menyela obrolan mereka,dia seperti teringat sesuatu. "Tadi kamu bilang Aldo,apa nama pasien itu Aldo?" tanya Winda memastikan.


"Ya Aldo,salah satu anak buahku mencari informasi tentang dia dan keluarganya,kita tunggu saja sampai dia sadar,semoga saja akan ada titik terangnya untuk masalah ini," ujar Andriana penuh harap.



"Na,kamu yakin lelaki itu bakalan aman di sini? Aku tinggal sendiri di rumah ini,bagaimana kalau pak Abraham sampai mencari dia di sini,lalu dia akan membunuh kami berdua?" Winda mulai takut,wanita itu mulai membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.



"Kamu tidak perlu takut akan hal itu,mereka tidak akan ke sini karena tidak ada yang tahu kalau kamu itu sahabatnya Andriana." Pak Andra menenangkan,kali ini nada bicaranya tidak sedingin tadi.



"Kan kalau kayak gini enak di lihatnya," kata Andriana,tapi Winda tidak memberi respon apapun saat mendengar perkataan pak Andra.



"Oh iya,saat kamu bawa dia ke sini kamu sudah memastikan tidak ada yang melihatnya,kan?"



"Kamu tenang saja Winda,semua aman! Aku juga sudah menelpon keluarganya yang ada di bogor,mereka juga akan ikut membantu asalkan kita bisa menjamin keselamatan Aldo,jika ada yang bertanya mereka juga akan mengatakan bahwa Aldo sudah tiada,dengan begitu anak buahnya pak Abraham akan yakin kalau mereka sudah berhasil membunuhnya." Andriana menjelaskan panjang lebar.



"Kalau sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi,saya akan langsung kembali ke kantor." Ucap pak Andra beranjak bangun dari duduknya dan hendak keluar. "Oh ya,saya hampir lupa nanti akan ada orang-orang suruhan saya yang akan berjaga di sini,tidak banyak hanya sekitar 15 orang." Pak Andra memberitahu,gaya bicaranya tampak sedikit sombong.



"Saya permisi dulu,silahkan kalian lanjutkan obrolan kalian yang tidak bermanfaat itu!" lanjutnya lagi dengan sinis sebelum akhirnya pergi,setelah membuat Andriana dan Winda kesal.



"Pak Andra memang benar-benar nyebelin,kalau dapat suami kayak gitu mah,lebih baik saya jadi perawan tua aja."



"Hati-hati kalau bicara,nanti mas Andra jadi jodoh kamu gimana?" tegur Andriana mengingatkan.

__ADS_1


"Nggak mungkin!" hanya itu yang di jawab Winda,setelah itu mereka diam membuat suasana menjadi hening.


-----


__ADS_2