Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Menjelaskan Kesalahpahaman Di Masa Lalu


__ADS_3

"Aku tahu aku salah,tapi aku juga tidak rela jika keponakanku di siksa dengan kejamnya oleh istri kamu." Andriana yang sejak tadi hanya diam saja kini angkat bicara.


"Itu urusan kamu sama Sofi,kamu mau pukul dia seperti dia memukul Diana,aku tidak keberatan,itu bukan lagi urusanku." Pak Indra berkata dengan ekspresi tenang,dia terlihat tidak peduli sama sekali.


Eh tunggu dulu,Sofi itu istrinya benarkah lelaki itu tidak peduli jika nona Andriana memberinya pelajaran yang setimpal? Heh,yang benar saja.


"Mas Indra berkata seperti itu kepada Andriana apa mas tidak---"


"Sudah hentikan!!!" teriak pak Doni,mereka terdiam sesaat,kenapa juga lelaki itu harus berteriak? Apakah dia kesurupan setan? Bu Anita bahkan tidak sempat menyelesaikan ucapannya,kan jadi penasaran.


"Mas ini kenapa teriak sekencang itu?" Anita marah melihat suaminya yang bertingkah konyol.


"Kuping aku sudah gatal dari tadi,kamu memanggil Indra dengan sebutan mas mas,kamu tidak lihat dia itu bahkan tampak lebih tua dari pada aku,panggil saja pak Indra!!" suruh suaminya.


Pak Indra dan Andriana yang mendengar omongan pak Doni hanya bisa tertawa,rupanya lelaki itu sejak tadi terus menahan rasa cemburunya.


"Haha." Mereka bertiga tertawa.


"Kamu itu sudah tua,tapiĀ  masih cemburu juga rupanya," sindir pak Indra.


"Pak Doni jangan takut,Indra juga tidak akan merebut istri kamu,Sofia juga masih cantik meski hatinya seperti penyihir haha..." Andriana tertawa lepas,wanita itu begitu tenangnya memanggil Sofia dengan sebutan wanita penyihir,padahal suaminya ada di sana. Ah,masa bodoh dengan suaminya memang kenyataannya begitu kan?


"Em maaf,aku tidak tahu mas Doni cemburu,tapi kamu ini sudah tua,masih saja bersikap ke kekanak-kanakan." Keluh Anita.


Dea yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok,di samping ruang tamu juga ikut tertawa,dia cekikikan mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Dari tadi aku ingin menanyakan hal ini,aku rasa kedatangan kamu ke sini sangat aneh,bagaimana bisa kamu tahu kalau saya juga ada di sini?" tanya pak Indra.


"Dea yang mengatakannya padaku,kebetulan sekali tangan ini lagi gatal pengen mukul orang,kan kesempatan bangat tuh."


Mendengar namanya di sebut,tanpa sadar Dea tertawa,dan suaranya itu di dengar oleh mereka,apes benar memang.


"Dea?" Kamu sudah sejak kapan ada di sana? tanya mamanya penasaran.


Dengan malu-malu,Dea keluar dari tempat persembunyiannya dan menampakkan wajah polosnya seolah-olah dia tidak berdosa sama sekali,setelah menguping pembicaraan orang tuanya.


"Sudah sejak tadi,ma." Jawab Dea,suaranya hampir tidak terdengar sama sekali."


"Eh,tante Andriana ada di sini? Kok Dea nggak tahu," sambung Dea gugup dan salah tingkah dia benar-benar terpojokkan saat itu,apa lagi mata orang-orang di depannya juga menatapnya dengan pandangan tajam,seperti ingin memakannya hidup-hidup.


"Pertanyaan kamu konyol sekali,sudah jelas kamu yang menyuruh Andriana ke sini untuk memberi tonjokan gratis itu kepada om,kan?" ucap pak Indra sambil menunjukkan wajahnya yang lebam karena di tonjok tante Andriana.


"Tidak ma,tidak... Maafkan aku!!" seru Dea,dia berlari masuk ke kamarnya,tidak berani lagi nongol di sana. Mereka tertawa melihat tingkah Dea. Gadis itu padahal sudah dewasa tapi terkadang masih suka bersikap kekanak-kanakan.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Andriana kemudian.


"Sudah tentu mencari keberadaan Diana,semoga saja papa belum menemukannya. Tapi seandainya di antara kalian ada yang tahu di mana keberadaan Diana,aku harap kalian menjaganya dengan baik, jangan sampai papa menemukannya." Ujar pak Indra,dia masih belum percaya sepenuhnya kalau mereka tidak tahu Diana di mana.


"Tentang keberadaan Antonio,apa kamu sudah tahu dia di mana?" tanya pak Doni,sebenarnya sudah sejak tadi dia ingin menanyakannya,tapi selalu saja lupa."


"Tidak ada yang tahu di mana keberadaannya setelah kematian mbak Naumi."

__ADS_1


"Dia pasti tidak jauh dari sini,dia selalu ada di dekat kita,kita saja yang tidak bisa mengenalinya," tukas Andriana,wanita itu terlihat begitu yakin dengan omongannya.


"Kamu terlihat begitu yakin apa kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Anita.


"Pak Doni dan bu Anita yang terhormat,kalian selalu bilang bahwa sangat menyayangi Naumi dan juga anaknya,apakah kalian mengetahui dengan jelas permasalahan sebenarnya? Apakah kalian mengusut tuntas kasus ini? Kenapa rumah tangga Naumi dan Anton hancur,padahal dulunya mereka itu bahkan tidak bisa terpisahkan,lalu semuanya tiba-tiba berubah. Anton yang di pecat dari kantornya,Naumi yang saat itu di kabarkan selingkuh dari suaminya hingga dia di tinggalkan,dan alasan kenapa dia sampai menutup dengan sangat rapat tentang penyakit yang di deritanya,kalian tidak penasaran akan hal itu?" Andriana berhenti sejenak,ingin melihat reaksi orang-orang di depannya. "Kalian sangat peduli kepada mereka,sedangkan aku tidak,tapi kalian bahkan hal yang paling utama saja kalian tidak memikirkannya. Mengapa Naumi tidak mau berobat bahkan dia takut memberitahukan keadaannya yang sudah parah kepada suaminya,apakah kalian tidak bertanya-tanya akan hal ini? Siapa juga yang telah menyebarkan gosip di saat pemakaman sedang berlangsung hingga tidak ada satupun orang yang datang untuk melayat malam itu? Kalian bertiga pikirkan sendiri,saya undur diri dulu,pak Indra,pak Doni dan bu Anita," pamit Andriana,dia mengambil kunci mobilnya dan kemudian melangkah keluar,wanita itu tidak lupa mengulas senyum penuh misteri.


"Wanita itu,ada apa dengannya?" tanya pak Doni saat melihat tingkah aneh Andriana.


"Apakah tadi itu benaran Andriana?" Anita ikutan merinding jika membayangkan senyum terakhir dari temannya itu.


"Kalau bukan dia,lalu siapa lagi? Tapi,apakah kalian menyimak dengan baik apa yang di ucapkannya tadi,tentang gosip perselingkuhan? Kita bahkan tidak menelusuri sampai ke situ urusan rumah tangga mereka." Pak Indra ikutan heran.


"Apa Andriana juga salah satu dari pelakunya?"


"Kamu tidak boleh mencurigai teman kamu sendiri." Pak Doni menegur.


"Tidak,aku rasa dia tidak seperti itu,hanya saja menurutku Andriana bukan orang sembarangan,kita tidak tahu dia siapa. Yang jelas sepertinya dia tahu begitu banyak tentang mas Anton." Pak Indra mulai menduga,dia penasaran dengan Andriana.


"Apakah dia seorang detektif?" pertanyaan itu tentu saja bukan mereka yang menanyakannya,suaranya tidak asing,itu gadis tadi yang menguping pembicaraan mereka.


"Dea,itu kamu?" tanya mamanya,sekarang bahkan Dea lebih mengerikan dari pada kuntilanak.


"Dea keluar! Papa tidak suka kamu bersembunyi sambil menguping pembicaraan orang tua!!"


"Dea di sini pa?" Dea menyembulkan kepalanya,dia bersembunyi di balik sofa,tapi mereka benar-benar tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Astaghfirullah,Dea!!!" pekik mereka,kaget melihat kemunculan Dea yang tidak di sangka itu.


__ADS_2