
Selamat siang pak Andra,apa kabar?" sapa seorang lelaki yang memakai setelan jas lengkap.
"Siang,kabar saya baik"
"Tak di sangka ya,kita bisa bertemu lagi setelah kejadian beberapa tahun lalu,dan sekarang malah menjadi rekan bisnis yang akrab" ucap pak Doni,papanya Dea.
"Bagaimana keadaan dia sekarang,kamu sudah menemukan keberadaannya kan?" tanya pak Andra memastikan.
"Saya sudah menemukannya,tapi belum bisa membawa dia kembali,terlalu banyak yang mengawasi dan kali ini kita harus lebih berhati-hati" jelas pak Doni.
"Kamu belum menjawab pertanyaan saya Doni, bagaimana keadaan gadis itu?"
"Dia baik-baik saja untuk saat ini."
"Kamu jangan membohongi saya! Anak itu sedang tidak baik-baik saja" pak Andra tampak marah.
Pak Andra rupanya tahu kalau Doni berbohong,lelaki itu tidak menyangka kalau pak Andra tahu semuanya dan ternyata gadis yang mereka bicarakan adalah Diana.
"Kalau memang kamu sudah tahu keberadaannya dan tahu dengan jelas keadaannya,mengapa bukan kamu sendiri yang pergi dan membawa dia keluar dari rumah itu?" ucap pak Doni dengan suara lantang,lelaki itu mulai emosi.
"Kalau saya bisa melakukannya sendiri,saya sudah pergi ke sana dan tidak perlu bantuan kamu,saya juga tidak akan memanggil kamu datang ke kantor saya!" balasnya tak kalah lantang. Lho! Kok malah jadi ribut gitu,ya?
"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi rumah keluarga Indra,bukan mudah untuk bisa masuk ke rumah mereka" ujar pak Doni,setelah emosinya mereda.
"Kamu tahu,seharusnya kantor ini menjadi milik dia,saya merasa sangat bersalah karena dulu sudah mengabaikannya." Pak Andra terlihat murung,sepertinya lelaki itu benar-benar menyesali perbuatannya dahulu.
"Menyesal sekarang sudah tidak ada gunanya, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya membawa dia keluar dari rumah itu."
"Gunakan saja putrimu!" usul pak Andra nada suaranya terdengar begitu santai.
"Kamu sudah gila apa? Menyuruh aku untuk melibatkan Dea dalam masalah ini,kamu ingin menjadikan putri ku sebagai umpan,bagaimana mungkin Dea ke sana dan mengajak Diana keluar dari rumah itu,belum tentu juga mereka akan saling mengenal setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu,usulan kamu itu cuma bisa membawa masalah baru." Jelas pak Doni panjang lebar.
Pak Andra tersenyum mendengar ucapan lelaki di depannya yang sudah seperti kereta api saja.
"Ternyata semakin tua otak kamu itu semakin tidak berfungsi,aku pikir kamu pintar dalam hal seperti ini,rupanya tidak" Andra meremehkan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" pak Doni mulai penasaran,melihat pak Andra yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Dea itu satu kampus dengan Ariska,putri Indra. Dan mereka juga kenal cukup baik,dan yang paling penting adalah mereka tidak tahu tentang masalah pribadi keluarga mereka sendiri" pak Andra menjelaskan.
"Maaf... saya tidak punya masalah pribadi dengan mereka,ucapan kamu yang terakhir tadi itu sangat tidak benar,saya tidak terima" ucap pak Doni,dia buru-buru membenarkan ucapan pak Andra. Ya,karena dia memang tidak memiliki masalah pribadi dengan keluarga Indra Alexander,dia hanya orang luar yang terpaksa terlibat dalam masalah mereka yang entah kapan akan berakhir itu.
\*°°°••• \*••••^
"Aku yang akan melakukannya sendiri,papa tenang saja dia tidak akan bisa pergi dari rumah ini,permainan ini baru akan di mulai," Sofi tersenyum aneh,itu terlihat sangat menakutkan,matanya juga seperti ingin membunuh,Diana diam-diam rupanya sedang mendengarkan pembicaraan wanita itu di telefon,jantung Diana berdetak tak karuan dia sebenarnya takut ketahuan,tapi syukurlah di tempat dia bersembunyi sangat gelap. Jadi,tidak akan ada yang tahu kalau dirinya bersembunyi di belakang pohon mangga yang tumbuh besar di halaman rumah itu.
Ternyata tidak hanya Diana yang mendengarkan pembicaraannya (Sofia),Ariska juga. Dia penasaran dengan siapa mamanya mengobrol.
"Kamu? Sejak kapan kamu disini?" tanya wanita itu setengah kaget karena melihat Ariska yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.
"Oh,Ariska dari tadi mencari mama kesana-kemari nggak tahunya mama ada di luar." Jawab Ariska berusaha menghilangkan kecurigaan dihati mamanya.
"Kamu cariin mama pasti ada maunya," tebak wanita itu.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan!" suruh bu Sofia tanpa banyak basa-basi.
"Besok Ariska mau mengajak Diana keluar boleh,ya?" pinta Ariska penuh harap.
"Boleh ya ma" rengeknya.
"Boleh kan?" gadis itu terus bertanya saat di lihat mamanya hanya diam saja.
"Kenapa tiba-tiba kamu ngajakin dia keluar? Tumben sekali,apa yang sedang kamu rencana kan?" tanya wanita itu,dia menaruh curiga pada anaknya sendiri. Kenapa bisa seperti itu ya?
"Mama curiga sama aku?" Ariska bertanya dalam hatinya,dia mulai kepikiran soal sikap mamanya yang mulai aneh akhir-akhir ini. Seharusnya yang patut dicurigai itu mamanya,bukan dirinya.
"Kan sudah lama Ariska tidak mengajak Diana jalan-jalan keluar,terakhir aku ngajakin dia keluar dua tahun lalu,saat hari kelulusan sekolah." Ariska menjelaskan,sekedar untuk memberi alasan.
"Memangnya dia mau?" tanya bu Sofia.
__ADS_1
"Diana mau kok,tadi aku sudah menanyakan langsung ke dia. Boleh kan,ma?" Ariska bertanya sekali lagi berharap mamanya mau mengizinkan Diana keluar bersamanya besok.
"Terserah kamu saja." Bu Sofi pasrah dengan permintaan anaknya,dia tidak pernah bisa menolak apa pun yang di inginkan Ariska.
Ariska meloncat kesenangan kayak anak kecil,melihat tingkahnya ini bu Sofi semakin heran,pasti ada sesuatu.
\*\*•••~~•••\*\*
Diana tersenyum senang melihat pemandangan taman kota yang indah,terakhir kali dia keluar adalah saat kelulusannya di sekolah SMA,dan itu sudah dua tahun yang lalu.
Setelah lulus dari SMA tante Sofi dan om Indra bahkan tidak pernah membiarkannya keluar dari rumah,meski hanya sebentar.
"Kamu pasti senang kan aku ajak keluar jalan-jalan?" tebak Ariska saat melihat wajah Diana tampak ceria.
"Iya,aku sudah lama tidak menghirup udara bebas seperti ini" ungkap Diana jujur.
"Beberapa minggu yang lalu aku juga pernah ngajakin kamu jalan-jalan keluar,kenapa tidak mau?" tanya Ariska,jangan bilang kalau kamu curiga sama aku" tambah gadis itu.
"Ya,aku memang curiga sama kamu,sebab hari itu aku di hukum tante karena mengabaikan pekerjaan rumah dan lebih memilih untuk bantuin kamu buat tugas kuliah kamu." Diana menjawab jujur.
"Tapi,tentang hal itu aku beneran nggak punya niat jahat sama kamu,meski kita tidak terlalu akrab."
"Jadi,kamu ngajakin aku ke sini untuk apa?Cuma untuk dengerin omongan kamu,ya?" tanya Diana bingung,saat melihat tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan di taman itu,mereka hanya duduk,ngobrol dan melihat bunga yang tumbuh indah.
"Jadi,aku mau ngenalin kamu sama teman aku"
"Teman? Siapa teman kamu?" Diana jadi penasaran,dia mulai berpikir sepertinya ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh seseorang,Ariska yang tiba-tiba mengajaknya keluar,dan kemudian ingin mengenalkannya dengan seseorang. Sebenarnya Ariska ada di pihak mana? Diana semakin tidak paham dengan ini semua,apa lagi setelah mendengarkan obrolan Tantenya dengan seseorang di telefon yang mengatakan kalau dia (Sofia) tidak akan membiarkan dirinya keluar dari rumah itu,kali ini dia harus lebih berhati-hati.
"Nah,itu teman aku!" tunjuk Ariska saat melihat temannya yang baru saja turun dari mobil.
{{°°••♪••♪°°}}
__ADS_1