Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Kebersamaan Diana Dan Keluarga Dea


__ADS_3

"Lho,kok pada duduk aja sih? Bantuin mama dong!" seru wanita itu sambil terus mengipasi ayam bakar buatannya yang konon katanya nggak ada duanya itu.


"Sini,biar Diana yang bantuin tante," ucap gadis itu mengambil kipas yang di pegang tante Anita.


"Nggak usah! Kamu duduk aja sana! Biar om saja," cegah Anita melirik ke arah suaminya.


"Iya,kamu duduk santai saja di sana bareng Dea,kalian kan juga sudah lama tidak bertemu," ujar pak Doni.


"Sekalian jagung manisnya juga di bakar!" timpal bi Murni sambil menaruh enam buah jagung di samping ayam bakar itu.


Mereka terus sibuk membakar ayam dan jagung,sedangkan Diana dan Dea terus mengobrol,membicarakan hal-hal menyenangkan saat mereka kecil dulu.


\*\*\*\*\*


"Oh iya Diana,tadi tante lihat kamu pegang handphone,kelihatannya mahal tu siapa yang membelikannya?" tanya bu Anita sengaja memancing Diana.


"Oh itu,pemberian dari--- " Diana ragu-ragu mengatakannya,dia melirik sekilas ke arah Dea, berharap gadis itu membantunya memberikan jawaban.


"Yang pasti bukan pemberian dari Dea ma." Dea menjawab cepat,bukan membantu tapi malah menyudutkan.


"Pemberian dari Angga bu," beber bi Murni.


"Tapi aku nggak minta kok tante,Angga beli sendiri saat nganterin Diana ke sini." Diana menundukkan kepalanya,dia sebenarnya tidak mau ada orang yang tahu tentang hubungannya dengan Angga.


"Kenapa memangnya? Kamu nggak perlu nutup-nutupin hal ini sama tante dan om,lagian om juga setuju apalagi Angga itu anaknya rekan bisnis om." Pak Doni sepertinya ngasih lampu hijau tu.


"Kalau kamu nggak mau sama dia,kasih ke aku aja,Angga juga tampan,baik hati dan perhatian,apa lagi coba yang kurang? Keluarganya tajir melintir,tiap hari ke kampus gonta ganti mobil,pintar emm---"


Dea tidak bisa lagi melanjutkan omongannya,sebab mulutnya sudah di masukin jagung bakar sama Diana.


"Akh,panas tahu!!!" jerit Dea kesal.


"Kamu sih ngomongnya panjang benar,nggak habis-habis dan ingat ya! Angga itu bukan barang untuk apa aku kasih ke kamu." Ucap Diana.


Mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua anak gadisnya itu,sekarang bahagia sudah benar-benar kembali di hidup Diana.


"Tante,besok sebelum tante sama om pulang boleh nggak kita jalan-jalan dulu?" pinta Diana berharap.

__ADS_1


Anita dan pak Doni tampak menimang-nimang permintaan Diana barusan,bukannya tidak mau,tapi saat ini pak Abraham pasti sedang menyuruh anak buahnya untuk mencaritahu keberadaan Diana.


"Bagaimana kalau lain kali aja?" tanya bu Anita,semoga saja Diana mau.


"Boleh! Kapan aja boleh,tapi Diana pengen nya sih besok cuma karena keadaan kita seperti ini Diana harus menunggu lebih lama," dari nada bicaranya sudah jelas Diana sedikit kecewa,tapi setidaknya dia mengerti dengan keadaan saat ini.


"Nanti kalau keadaan sudah benar-benar aman aku bakal nepatin janji aku sama kamu." Ucap Dea.


"Janji apa?" yang di tanya pak Doni.


"Janji aku,buat bawa Diana keliling dunia." Jawabnya penuh semangat.


"Emangnya kamu punya duit berapa? Sampai menjanjikan hal yang begitu besar sama Diana?" tanya bu Anita penasaran.


"Keliling dunia apanya? Keliling lapangan iya," ucapan Dea tadi membuat wajah Diana cemberut,dia merasa kalau Dea sedang meledek dirinya.


"Lah,kamu nggak percaya Diana kalau aku bisa bawa kamu keliling dunia?" Dea bertanya.


"Nggak cuma Diana kita semua juga nggak percaya,ya nggak?" bu Anita meminta pendapat mereka semua.


"Iya!!" mereka menjawab serempak.


"Bukti apanya? Pak Doni meremehkan.


Tanpa berlama-lama lagi Dea langsung masuk ke dalam hendak mengambil sesuatu,tidak lama kemudian dia keluar lagi.


"Nah,ayo kita keliling dunia"!!! ajak gadis itu dengan wajah polosnya sambil meletakkan bola dunia di tengah-tengah mereka.


Mereka sebenarnya ingin tertawa,tapi menahannya karena kesal melihat sikap Dea yang usil itu.


"Dea!!!" Diana melemparnya dengan sandal,membuat Dea berlari menjauh. Diana mengejarnya dan mereka tertawa melihat Dea dan Diana yang kejar-kejaran seperti anak kecil,kini malam yang sunyi itu di buat ramai oleh suara tawa mereka.


"Lho,kenapa marah? Kan aku benar." Dea masih terus berlari.


\*\*\*\*


"Kita kalah bos." Adu lelaki itu.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang kalian hajar?" si bos bertanya.


"Siapa ya,nama gengnya apa sih Ton?" lelaki itu bertanya sama temannya yang di bikin ompong giginya sama Andriana.


"Siapa ya?" lelaki yang di panggil Anton tampak berpikir. "Ya,saya ingat! seru temannya bersemangat. "Namanya awan hitam,geng awan hitam," mendengar nama geng yang di sebutkan anak buahnya itu,bos mereka yang tak lain adalah Ronald hampir saja copot jantungnya.


"Kampret kalian semua,tau nggak kalian itu lagi ngadepin siapa?" Ronald marah,bagaimana bisa anak buahnya itu berurusan sama Andriana.


"Siapa?" mereka bertanya kompak.


"Ah,enggak perlu tahu yang pasti kalian jangan berani buat keributan lagi sama mereka kalau masih mau selamat." Ronald memperingatkan,dia merinding merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat saat mengingat Andriana hampir membunuhnya,meskipun pada akhirnya Andriana juga yang menolongnya.


Tiba-tiba...


Brak!! pintu markas mereka terbanting hebat dan jatuh ambruk ke lantai,mereka sama-sama terkejut dan lebih terkejutnya lagi saat di lihat yang datang adalah Andriana.


"An.. An" Ronald gugup di buatnya.


"Sudah biasa aja,aku bukan pembunuh,nih aku ke sini membawa mereka untuk meminta maaf," ungkap Andriana seraya menyuruh anak buahnya untuk meminta maaf atas kesalahan mereka sendiri.


"Mampus deh gue,dia minta maaf tapi pintu markas gue malah di hancurin. Ini perempuan kayak monster aja," batin Ronald.


"Iya,kita minta maaf " ucap salah satu anak buah Andriana yang terlibat perkelahian tadi siang.


"Saya juga," sambung yang lainnya


"Mereka yang salah aku tahu,karena mereka tidak mau mengganti kerusakan mobil kamu,ini buat ganti ruginya!" Andriana menyerahkan sebuah amplop yang berisikan uang di dalamnya.


"Wah nggak usah!" tolak Ronald dia merasa tidak pantas menerimanya.


"Ini untuk kalian berobat ke rumah sakit." Andriana memberikan satu amplop lagi untuk anak buahnya Ronald,cowok itu tampak membandingkan amplop yang di berikan Andriana kepadanya dan kepada anak buahnya itu. "Kenapa yang untuk mereka terlihat lebih tebal?" pikir Ronald.


"Nggak usah heran,mereka terluka dan kamu tidak," ucap Andriana mengeluarkan isi hatinya Ronald,cowok itu semakin geregetan Andriana bisa membaca isi hatinya juga,dia jadi penasaran dengan wanita itu.


"Terimakasih nona," ucap Toni saat menerima amplop itu dia tersenyum senang. "Rupanya meski ketua geng yang di takuti Andriana itu baik hati juga," pikir Ronald.


"Kalau begitu kita permisi dulu,kalau kalian butuh bantuan saya jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi,tapi ingat ya! Kita tidak pernah membunuh orang sekalipun lawan." Ujar Andriana dengan kilatan matanya yang tajam.

__ADS_1


Ternyata Andriana adalah ketua dari geng awan hitam,tapi tidak ada yang tahu. Selama ini setiap bertarung dia selalu memakai penutup wajah,hanya Ronald yang tahu siapa Andriana sebenarnya karena mereka pernah terlibat perkelahian yang cukup parah.


-----


__ADS_2