
"An,soal ini kamu serahkan saja sama aku!" pinta Winda,dia ingin mengurangi sedikit beban Andriana.
"Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Andriana seperti sedang meremehkan Winda.
"Apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanya Winda.
"Aku sedang tidak butuh Win,lagi pula aku sudah menyuruh anak bi Murni untuk menyuruh bawahannya pergi ke tempat di mana tuan Mike dan sopir pribadinya di kuburkan,dan lagi aku juga masih punya saksi mata yang di bunuh oleh orang suruhannya pak Abraham tapi syukur lah dia masih hidup sampai sekarang." Ujar Andriana.
"Lalu,apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Winda melihat Andriana yang kembali santai.
"Hanya perlu menunggu bom itu meledak." Jawab Andriana asal-asalan. Mereka sengaja pergi menjauh dari Diana agar gadis itu tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Lalu bagaimana dengan buku diary itu?"
"Sebentar lagi ayah Diana juga bakalan membawanya kesini,aku rasa mungkin mas Andra sedang merencanakan sesuatu. Benar saja dugaan Andriana,tidak berapa lama kemudian pak Anton kembali wajahnya terlihat baik-baik saja,sepertinya laki-laki itu tidak terlibat perkelahian sama sekali.
Begitu turun dari mobil Anton langsung menghampiri Andriana yang berdiri di teras sambil menunggu dirinya kembali.
"Mbak,mas Andra di---"
"Aku sudah tahu!" potong Andriana,selalu saja seperti itu dia seperti tidak ingin memberikan kesempatan bagi orang lain untuk bicara.
"Tapi sepertinya mas Andra sengaja membiarkan dirinya di tangkap oleh orang suruhannya papa saya."
"Itu sebab mas Andra sudah tahu kalau di sana ada Alex,orang suruhan papa. Mana bukunya coba aku lihat!"
"Nah!" Anton memberikan buku itu untuk Andriana,wanita itu membuka dan melihatnya sekilas,lalu kembali menutupnya.
"Kamu bagaimana bisa tidak di tangkap oleh mereka?" tanya Andriana sedikit heran.
"Tadi saat mengambil buku ini,mas Andra menunggu di pinggir jalan sedangkan saya langsung masuk ke rumahnya Aldo,ketika keluar saya melihat kalau mas Andra sedang terlibat perkelahian dengan anak buahnya papa."
"Tunggu,apa ada orang lain yang membantu mas Andra?"
"Ada,seorang anak muda dan beberapa temannya tapi mereka juga kalah tidak bisa melawan orang suruhan papa saya,karena orang suruhan papa membawa pistol."
Penjelasan Anton seperti sebuah tamparan bagi Andriana yang kemudian menyadarkannya. Bodoh... dia memang bodoh mana mungkin mas Andra membiarkan dirinya di tangkap,berarti sekarang mas Andra benar-benar dalam bahaya.
__ADS_1
"Bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi,kenapa juga kamu malah bilang mas Andra membiarkan dirinya sendiri ditangkap." Ucap Andriana marah.
"Hehe,maaf---" ucap Anton seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Winda juga tambah khawatir,dia takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Andriana,aku rasa sebaiknya buku itu segera di perlihatkan sama Indra,dengan begitu dia juga akan memihak kita karena aku yakin setelah melihat ini dia akan menyadari bahwa selama ini dia sudah salah paham."
"Anton,sebaiknya kamu yang bawa buku itu kepada Indra. Aku harus segera pergi untuk membebaskan mas Andra," ucap Andriana,mereka mulai membagi tugas.
Andriana juga menghubungi Ferdi dan menyuruhnya untuk melapor pada polisi.
"Dan kamu Winda harus mencari cara agar semua kejahatan yang di lakukan pak Abraham segera terekspos ke publik!" suruh Andriana,waktu mereka tidaklah lama,apa lagi pak Abraham orang yang sangat licik dia pasti akan melakukan hal yang buruk terhadap kakaknya,benar saja saat dia hendak pergi untuk memanggil Diana ada nomor tak di kenal menelponnya.
"Hallo."
"Hallo Andriana,kakakmu ada di sini kalau kamu mau dia selamat bawa Diana ke sini,dan tidak boleh ada orang lain yang tahu hal ini,ingat! Jangan lapor polisi."
"Klik...! telpon di matikan,lelaki itu bahkan tidak memberi kesempatan untuk Andriana."
"Kurang ajar! Aku rasa papa kamu sudah benar-benar gila Anton." Pak Abraham membuat Andriana semakin tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Aku akan membawa dia bersamaku dan kamu Winda,lakukan apa yang aku suruh!" pesan Andriana,wanita itu langsung masuk ke dalam dan mengajak Diana pergi bersamanya.
\*\*\*\*\*\*\*
"Hahha! tawa laki-laki itu terdengar menakutkan,dia seperti seekor monster.
"Kamu lihat Andra! Sekarang siapa yang menang? Kamu atau saya?"
Pak abraham tersenyum penuh kemenangan.
Andra hanya terdiam tidak mengatakan apapun,tubuhnya sudah cukup lemah karena di pukul oleh orang suruhannya lelaki tua itu.
"Sekarang tinggal menunggu adik kamu yang bodoh itu untuk membawa Diana ke sini."
"Kamu ingin membunuh cucumu sendiri?" kini Andra mulai bicara,dia sudah tidak tahan dari tadi hanya mendengarkan lelaki tua itu bicara seenaknya.
__ADS_1
"Dia bukan cucu saya,karena pernikahan adik kamu dengan anak saya makanya istri saya harus mati mengenaskan." Ucap pak Abraham tidak terima saat Andra mengatakan bahwa Diana adalah cucunya.
Hawa di ruangan itu terasa lembab,entah di mana sekarang Andra berada bahkan dia sendiri pun tidak tahu,tempat itu cukup luas dan terlihat mengerikan.
\*\*\*\*\*\*
"Apa kita bisa menyelamatkan om Andra,tante?" tanya Diana setelah mereka berada dalam mobil.
"Kamu harus yakin kita bisa,Diana kamu simpan pisau itu baik-baik,gunakan itu jika kamu benar-benar dalam bahaya kali ini kita tidak bisa memakai hati,bunuh atau di bunuh. Jika memang terdesak bunuh saja! Kamu paham kan?" ucap Andriana sambil terus fokus menyetir,wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh,dia harus cepat sampai di sana,dia sudah tahu di mana tempat pak Abraham saat ini karena tadi dirinya sudah bertanya pada Alexa.
Alexa adalah adiknya alex,mereka juga saudara kembar. Alex bekerja dengan pak Abraham untuk mengawasi gerak-gerik lelaki itu,sedangkan Alexa bekerja dengan Andriana,setidaknya perasaan Andriana masih sedikit tenang karena di sana masih ada orang suruhan papanya.
\*\*\*\*\*
"Jadi selama ini papa sudah membohongi aku?" Indra mengusap wajahnya dengan kasar,merasa kecewa karena sudah di bohongi oleh papanya bertahun-tahun lamanya.
"Kamu saja yang bodoh,sekarang kamu sudah tahu kan alasan kenapa mama kita lebih memilih untuk mati saja,karena mama tidak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Mama bunuh diri bukan karena aku menikah dengan Naumi,itu hanya kebetulan saja terjadi di hari pernikahan aku dengan Naumi jadi papa mengambil kesimpulannya sendiri," ungkap Antonio.
"Tidak seperti ini juga,papa hari itu mengatakan bahwa perampokan dan pembunuhan yang terjadi hari itu adalah perbuatannya tuan Daniel,ayahnya mbak Naumi "
"Jadi kamu percaya begitu saja dengan ucapan papa?" Anton tak kuasa menahan amarahnya,ingin sekali dia memukul adiknya yang bodoh itu.
"Kamu bahkan tidak pernah bercerita sama aku tentang hal ini,dan sekarang berani menyalahkan aku?" Indra berkata dengan suara yang lantang.
"Kamu bahkan menyuruh istrimu sendiri untuk menyiksa anakku hingga tubuhnya di penuhi luka,aku saja tidak pernah menyentuhnya,
tapi kau berani-beraninya menyiksa dia,kamu benar-benar brengsek indra!" pak Anton tidak mau kalah.
"Buk!!"
Pak Anton melayangkan tinjunya ke wajah Indra,Indra tidak terima hingga terjadilah perkelahian di antara dua bersaudara itu. Sofi yang sedari tadi hanya diam saja,begitu melihat mereka berkelahi wanita itu segera memisahkan mereka.
"Cukup!"
"Berhenti!!!"
"Mas Indra,kamu juga yang salah kenapa tidak mau menerima kesalahan kamu?" bentak Sofia setelah berhasil memisahkan mereka berdua. "Seharusnya di saat seperti ini kita itu bersatu untuk mencari jalan keluarnya,tapi kalian malah bersikap bodoh begini." Ucap Sofi marah.
__ADS_1
"Sekarang mas Andra di bawa sama orang suruhannya papa,bahkan dia juga menyuruh Andriana untuk membawa Diana ke sana,jika memang menginginkan keselamatan Andra," ungkap pak Anton,Sofi kaget mendengarnya.
"Itu bukan pertukaran nyawa,itu adalah jebakan. Mereka bertiga akan mati di bunuh," ujar Sofia dia tahu betul akan niat jahat mertuanya itu.