Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Siapa Yang Melakukannya?


__ADS_3

Tidak berapa lama saat Angga dan Diana duduk di sana,di bawah pohon yang tumbuh di dekat pantai pelangi itu,Ariska dan Dea pun kembali dengan membawa kantong plastik di tangan mereka yang berisikan beberapa botol minuman dan juga makanan ringan di dalamnya.



"Jadi kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Dea sambil membuka tutup botol minumannya.


"Ya kenal lah,Angga itu kan satu sekolah sama aku dan Diana." Jawab Ariska.


"Aku nggak nanya sama kamu,aku itu nanya sama Diana,kenapa malah kamu yang jawab," ucap Dea ketus.



"Aku tidak kenal sama Angga,aku juga tidak ingat pernah satu kelas sama dia," jawab Diana jujur,bagaimana bisa dia mengingat teman satu kelasnya,dia bahkan jarang bergaul dengan mereka.



"Kamu beneran tidak ingat Di,kalau Angga itu satu kelas sama kamu saat di kelas 2 SMA dulu? Masa tidak ingat sih" Ariska ikutan heran sebab waktu itu Angga adalah cowok populer di sekolahnya dan idola semua cewek.



"Wah,aku pikir semua cewek mengenal kamu Ga,karena saat SMA kamu adalah cowok paling populer di sekolah,terus ketua tim basket lagi,tapi kok Diana yang juara kelas saja tidak kenal sama kamu." Ejek Dea sembari tersenyum usil ke arah Angga.



Ternyata Angga juga teman Dea,mereka satu kampus dan berada di jurusan yang sama,tidak di sangka mereka bisa bertemu di sini,dan itu merupakan suatu hal yang membahagiakan bagi Angga,sebab pada akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan gadis pujaannya.



"Aku baru ingat!" ucap Diana setelah mengingat cukup lama. "Kamu angga kan,Angga yang dipanggil cowok cabul sama Aurel?" Diana sedikit terlihat ragu-ragu saat mengatakannya. Mendengar perkataan Diana mereka bertiga sama-sama melirik ke arahnya,dengan pandangan yang berbeda-beda dan kemudian Dea dan Ariska mengalihkan pandangannya ke arah Angga.



"Kamu dipanggil cowok cabul?" tanya Dea memastikan sambil menahan tawanya.


"Rupanya saat SMA dulu kamu punya nama panggilan seperti itu?" Ariska ikutan tertawa.


Angga gelagapan tidak tahu harus menjawab apa,dia sebenarnya sangat senang karena akhirnya Diana mengingatnya,tapi ingatannya kenapa harus di momen yang seperti itu sih,membuat dia malu sendiri kan?


"Aduh,perut aku sakit aku cari toilet dulu ya!" Diana langsung pergi tidak menunggu respon dari teman-temannya,gadis itu setengah berlari,perutnya terasa melilit sakit sekali. Begitu Diana pergi Angga langsung menceritakan kejadian sebenarnya.



"Coba ceritakan Ga!" suruh Dea tidak sabaran.



"Iya,ayo ceritain kenapa kamu di panggil cowok ca...


__ADS_1


"Sudah... Sudah! Iya aku ceritain,yang penting kalian jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi,aku tidak suka mendengarnya,kupingku terasa sakit," potong Angga dia tidak suka mendengar bahasa yang menjijikkan itu.


"Hari itu aku nggak sengaja masuk ke kamar mandi cewek,aku juga tidak tahu mereka sedang mengganti seragam sekolah dengan pakaian olahraga.


"Jadi kamu melihat mereka yang tanpa baju gitu?" Ariska yang bertanya.



"Tidak,bukan mereka." Jawab Angga cepat.



"Lalu siapa?" tanya Dea dan Ariska,mereka terlihat semakin penasaran dengan ceritanya Angga.



"Diana... Tapi tidak semuanya hanya sedikit," Angga terlihat malu-malu saat mengatakannya. "Dia kemudian menjerit karena melihat aku yang tiba-tiba masuk ke sana,lalu di sana juga ada Aurel,makanya dia panggil aku cowok eum... kalian pikir aja sendiri,tanpa aku ucapkan kalian juga sudah tahu" imbuhnya lagi.



"Tapi apa kalian tahu apa yang aku lihat?



"Apa???




"Diana keponakannya om kamu kan,apa yang telah kalian lakukan padanya?" tanya Dea penuh curiga.



"Iya Dea,aku juga penasaran soal Diana,apa yang terjadi kepada dia,aku juga sudah lama ingin menanyakannya,tapi tidak berani takutnya nanti aku dikira terlalu ikut campur." Angga kini juga mulai menaruh curiga pada Ariska,apalagi selama di sekolah Diana sangat pendiam,dia juga jarang bergaul dengan teman-temannya.



"Aku tidak tahu apa-apa tentang itu,sampai sekarang pun aku juga tidak tahu akan hal ini." Ariska mulai gelagapan,mereka memandanginya dengan penuh kecurigaan,rasanya saat itu dia sedang menjadi tersangka.



"Kamu tinggal satu rumah dengan dia tidak mungkin kamu tidak tahu!" Dea masih berusaha menggali informasi dari Ariska,sepertinya ini bisa menjadi berita baik untuk om Andra. Dea harus mencari cara untuk bisa mengeluarkan Diana dari sana.



"Aku berani sumpah Dea,aku nggak tahu," ucap Ariska,dia sendiri sebenarnya juga bingung,di rumah mana ada yang berani berlaku kejam pada Diana,papa saja terlihat sangat menyayanginya,bahkan mama tidak berani memarahi Diana dengan berlebihan kalau papa ada di rumah.


__ADS_1


"Diana,wajah kamu kenapa pucat sekali? tanya Dea begitu melihat Diana sudah kembali.



"Ak.. Aku..." belum sempat Diana menyelesaikan ucapannya,dia sudah jatuh pingsan beruntung Angga dengan cepat menangkapnya,mereka sangat panik,apalagi saat melihat wajah Diana mulai pucat,badannya juga panas.



"Lho... Diana,bangun Di!" Angga mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya.



"Kita bawa ke rumah sakit aja," usul Dea khawatir.



"Iya ayo buruan!" Ariska juga tidak cemasnya,dia takut terjadi apa-apa dengan Diana,nanti dia juga yang di salahkan.



\*\*\*\* \*\*\*""""\*\*\*



Dea masih menunggu Diana sadar,mereka bertiga sudah berada dalam ruangan di mana Diana di rawat.



Karena penasaran dengan apa yang di katakan Angga,Dea menyingkap sedikit pakaian Diana, tanpa peduli di sana ada Angga,dan betapa terkejutnya Dea apa yang dipikirkannya tadi ternyata tidak sama dengan apa yang di lihatnya sekarang,bekas luka yang ada di punggung Diana itu lebih parah daripada yang di bayangkannya,siapa yang telah melakukan ini?



Angga diam-diam juga melihatnya,dia ikutan tercengang,perasaannya terasa sakit tiba-tiba,Ariska juga melihatnya,mereka semua melihatnya,tidak ada yang bicara mereka terdiam suasana hening. Dea mengembalikan posisi tidur Diana seperti semula,kini terjawab sudah kenapa Diana kadang terlihat gelisah,ketakutan dan sedih. Dea tahu ini penyebabnya ternyata dia benar-benar tidak bahagia.



"Kamu lihat kan Ar?" ucap Dea setelah lama terdiam.



"Ak... Aku beneran tidak tahu soal ini Dea,aku berani bersumpah aku tidak bohong...!" ucap Ariska gemetaran.



"Bagaimana mungkin aku bisa percaya,kamu itu tinggal satu rumah dengan dia,tapi lihat apa perlakuan kalian sama Diana!" suara Dea melantang.


"Dea,ini rumah sakit jangan bicara seperti itu, kita tunggu sampai Diana bangun,kita tanya sama dia apa yang terjadi," usul Angga menenangkan.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2