Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Tentang Nona Andriana


__ADS_3

Andriana menghempaskan tubuhnya dengan kesal di sofa ruang tamu rumah Winda. Winda yang saat itu baru saja pulang dari rumah sakit merasa heran melihat wajah cemberut Andriana.


Sambil menyeruput jus jeruknya wanita itu bertanya "Itu wajah cemberut gitu kenapa? Udah kayak dompet kusut aja."


"Dompet kusut pala mu,kamu tahu tidak itu si Aldo bilang apa sama aku?"


"Nggak,emang dia bilang apa?"


Andriana pun menceritakan tentang kejadian tadi,mendengar cerita temennya hampir saja membuat wanita itu menyemburkan jus jeruknya.


"Dia ngomong gitu? Wah kepedean bangat emang," ujar Winda tidak menyangka.


"Aku curiga kamu ngomongin sesuatu tentang aku sama dia,iya itu sudah pasti. Ini semua kerjaan kamu kan?" tebak Andriana.


Winda tidak bisa menahan tawanya,rupanya Andriana sudah curiga bahwa itu semua ulah dirinya, "Iya maaf,semalam aku bilang sama dia kalau kamu itu lagi nyari pasangan hidup,cuma gitu aja nggak lebih nggak kurang." Jawab Winda jujur.


Dengan wajah masih terlihat kesal Andriana pun beranjak dari sana meninggalkan Winda seorang diri dan kembali masuk ke kamar Aldo.


"Kamu kembali lagi,sudah hilang rasa kesalnya?" ledek lelaki itu.


"Aku harus mengumpulkan semua informasi tentang Abraham." Jawab Andriana dengan wajah serius.


"Apa kamu tahu kenapa tuan Abraham sangat membenci keluarga kalian?" tanya Aldo pada Andriana.


"Soal itu aku hanya tahu sedikit,tapi jangan membahas masalah itu dulu,karena aku bisa meminta penjelasan dari papa."


"Lalu apa yang sekarang ingin kamu ketahui?"


"Tentang beberapa pengusaha yang sudah di bunuh tuan Abraham,kamu tahu di mana dia menguburkannya?"


Sejenak Aldo terdiam berusaha mengingat nama orang-orang yang pernah di kuburnya.


"Tentu saja aku tahu,karena aku yang menguburkan mereka,hanya ada dua orang tuan Mike dan sopir pribadinya Denis. Aku menguburkan mereka dengan layak,kuburan itu berada di belakang gedung milik pak Wilson yang pernah terbakar beberapa tahun lalu," jelas Aldo.


"Pekerjaanmu sangat kotor,apakah kamu orang yang di tugaskan untuk membunuh tuan Mike dan sopirnya?" Andriana menyipitkan matanya,sedikit menaruh curiga pada Aldo.


"Walaupun aku bekerja dengan lelaki tua bangka itu,tapi aku tidak pernah membunuh orang,bahkan aku juga yang menyelamatkan Ferdi."

__ADS_1


"Ya,aku tahu saat itu kamu ingin menguburkannya bersama pak Mike kan,tapi begitu melihat tangannya bergerak kamu langsung membantu dia dan kamu juga yang menyuruh dia lari hingga aku hampir saja menabrak dia." Ungkap Andriana,darah tingginya naik lagi saat mengingat malam di mana dia hampir membuat seseorang mati karena lelaki di depannya.


"Kamu kenal dia?" tanya Aldo tampak bersemangat.


"Iya,aku yang membantu dia malam itu,syukur jalanan sepi,coba kalau anak buah pak Abraham berkeliaran di sana,kamu benar-benar akan membuat dia terbunuh.


"Syukurlah kalau dia selamat aku lega mendengarnya,kamu tahu saat itu dia pikir aku akan membunuhnya,dia memohon padaku dan menangis mengatakan bahwa ibunya sedang sakit-sakitan di rumah dan sedang menunggunya pulang,aku juga memberikan dia uang untuk pengobatan ibunya,dia pergi dengan hati senang.


"Dan sekarang dia menjadi anak buahku." Ungkap Andriana.


"Tapi kenapa dia sampai menjadi targetnya bos kamu?"


"Dia anak muda yang kurang beruntung,saat itu tanpa sengaja dia melihat orang suruhannya pak Abraham membunuh tuan Mike dan Denis,dia terkejut dan berusaha lari dari sana,tapi naas dia tertangkap syukur dia tidak sampai mati." Tutur Aldo.


"Kenapa tuan Mike di bunuh?"


"Karena memutuskan kontrak kerja dengan pak Abraham.


"Alasan konyol,benar-benar lelaki yang kejam." Ucap Andriana,dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau pak Abraham itu ada di depannya,pasti dia akan membunuh lelaki tua itu.


"Aku tidak beneran di penjara kamu tahu kalau


saat itu aku bekerja sama dengan kepolisian atas kasus hilangnya pak Mike dan sopirnya, jadi aku di jadikan tumbal sama pak Abraham,polisi saat itu mencurigai pak Abraham karena dia yang terakhir melakukan kontak dengan tuan Mike,tapi lelaki brengsek itu tidak mau bertanggung jawab dia malah menuduh aku yang melakukannya,entah bagaimana caranya,tiba-tiba aku menjadi tersangka,tapi polisi tidak percaya begitu saja dan berpura-pura menjadikan aku sebagai tahanan di sana." Aldo bercerita panjang lebar.


"Sekarang semua bukti hampir terkumpulkan,aku hanya harus membuat Diana keluar dari tempat persembunyiannya," ujar Andriana.


"Kamu ingin menjadikan keponakan kamu sendiri sebagai umpan?" tanya Aldo,dia tidak setuju cara itu terlalu berbahaya,dan hanya akan membuat nyawa Diana melayang.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan,tenang saja semua akan berjalan lancar." Andriana meyakinkan.


"Aku juga tidak bisa menghalangi apa pun yang akan kamu lakukan,tapi aku harap kamu hati-hati karena tuan Abraham tidak mengenal rasa belas kasihan." Lelaki itu mengingatkan.


"Tenang saj...


Tringg!! Bunyi ringtone handpone Andriana membuat ucapannya terhenti dia melihat nama yang tertera di layar hpnya,ternyata itu dari anak buahnya.


"Halo bos,kami sedang di serang sama orang suruhannya ronald kita kalah jumlah kami sangat kewalahan bagaimana ini?" mendengar aduan anak buahnya darahnya kembali naik.

__ADS_1


"Apakah ada yang terluka?"


"Tidak ada bos,kita masih terus melawan.


"Mundur! Mundur sekarang!"


"Tapi bos?"


"Kalian mau mati di sana?" bentak Andriana marah. "Tunggu di sana! Saya akan segera datang" sambungnya lagi sebelum mengakhiri pembicaraan.


"Kamu mau kemana?" tanya aldo saat melihat Andriana buru-buru.


"Aku ada urusan sebentar."


"Oh iya,kalau kamu ingin informasi lebih lanjut temui saja pak Johan yang dulu pernah di jodohkan dengan adikmu," pesan lelaki itu.


"Oke!" jawab wanita itu singkat.


\*\*\*\*\*\*


Andriana mematikan mesin mobilnya buru-buru. Di jalanan yang sepi itu terlihat beberapa pria sedang berkelahi,tubuh mereka cukup besar sepertinya bukan tandingan Andriana.


Tapi siapa sangka dia yang selalu berpakaian modis itu adalah seorang ketua geng,dia menghajar habis-habisan orang-orang yang sudah berurusan dengan anak buahnya,Andriana melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah lelaki yang bertubuh besar itu.


Bukk!! Sebuah tendangan di layangkan kepadanya,dia di pukul dari belakang membuat punggungnya terasa cukup sakit.


Lelaki itu tertawa senang. "Hei wanita lemah! Bagaimana bisa kamu mengalahkan kami,kedatangan kamu itu hanya untuk menyerahkan nyawa ke tangan kami,dasar wanita bodoh!"


Di saat seperti ini Andriana paling tidak bisa di buat marah dengan mengatai dia wanita lemah dan bodoh itu sama saja cari mati,lelaki itu tidak tahu bahwa ucapannya sudah membangkitkan rubah sembilan dalam tubuh wanita itu. Hihiihi... rubah sembilan,emang ini dunia fantasi? Ada-ada saja.


"Lelaki sialan! Kamu yang cari mati,saya bukan wanita lemah!" teriaknya,dengan begitu cepat Andriana mengarahkan pukulannya ke wajah lelaki itu dan kaki Andriana menendang perutnya. Tidak butuh waktu lama ke tujuh lelaki yang bertubuh besar itu jatuh tersungkur ke tanah dengan tak berdaya.


"Dia monster." Ucap salah seorang dari mereka yang masih sedikit tersadar,hingga akhirnya mata lelaki itu juga terpejam mereka semua pingsan.


"Makasih nona,kalau nona tidak datang tepat waktu kami pasti bisa kehilangan nyawa." Ucap anak buahnya mereka hanya bertiga jadi wajar saja tidak sanggup melawan ke tujuh lelaki yang bertubuh besar dan kuat itu.


"Kalian masih junior,wajar kalau tidak bisa menghadapi mereka,tapi kalau mereka melawan dengan anggotanya elang mereka pasti akan kalah juga." Andriana tersenyum puas setelah berhasil mengalahkan musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2