Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Kepergian Ayah Sama Seperti Ibu


__ADS_3

"Berhenti pa! Berhenti melakukan perbuatan jahat seperti ini!" teriak Indra. pak Abraham terkejut mereka ada di sana dan heran melihat Andriana juga masih hidup.


"Kalian ngapain ke sini? Jangan mendekat atau papa akan membunuh dia sekarang juga!" ancam lelaki tua itu,kini dia mulai mengambil pistol dan mengarahkannya ke kepala Diana,melihat aksi nekat papanya mereka semakin takut.


"Pa,kita masih bisa membicarakan ini semua baik-baik,lepaskan anak aku,aku mohon!" pinta Anton mengiba pada lelaki itu.


"Papa tidak akan membiarkan dia hidup dengan damai,papa ingin membunuhnya sekalipun kalian bersimpuh di kaki papa saat ini,papa juga tidak akan peduli." Ucap lelaki itu.


"Kalian tunggu apa lagi? Hajar mereka!" suruh pak Abraham.


Andra hanya bisa melihat saja,dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa tangannya juga di ikat ke belakang dan wajahnya pun sudah babak belur karena di hajar oleh anak buahnya pak Abraham.


"Pa,dengarkan kami dulu pa!" Indra saat itu hendak menunjukkan diary mamanya tapi tidak ada gunanya lagi,anak buah papanya itu sudah menghadang mereka.


"Biar aku saja,kalian cari cara agar Diana bisa lepas dari kakeknya!" ucap Andriana saat hendak melawan preman kampung itu.


Anton dan Indra merasa tidak yakin dengan ucapan Andriana,bagaimana bisa dia melawan mereka semua? Mereka sih belum tahu Andriana siapa.


Tanpa banyak kata lagi,Andriana langsung menghajar ke tujuh anak buahnya pak Abraham,salah satu dari mereka melayangkan tinju ke arahnya,namun Andriana sudah lebih dulu menepi,dia pun memegang tangan lelaki itu dan dengan cepat mematahkannya. sekarang sasaran Andriana adalah lelaki yang tadi memukul kakaknya,dia langsung memukul tengkuk lelaki itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Gerakan Andriana terlihat begitu ringan,satu tamparannya bahkan bisa membuat lawan langsung ambruk,mereka mulai menyadari ada yang aneh dari cara dia bertarung,pak Abraham bahkan tidak menyangka Andriana ternyata memiliki kemampuan bela diri sehebat itu,Andra juga takjub melihatnya.


Saat melihat anak buahnya yang sudah di kalahkan Andriana pak Abraham menyuruh untuk melepaskan tembakan.

__ADS_1


"Tembak! Tembak dia!" suruh pak Abraham. Andriana sudah tahu akan hal itu,pak Abraham pasti akan menyuruh seseorang untuk menembaknya,dan itu adalah Alex.


Entah berada di mana dia sekarang,tidak ada yang tahu bahkan suara tembakan pun tidak terdengar.


"Berhenti! Berhenti...!" seru beberapa anak buah pak Abraham yang tadi bertarung melawan Andriana,mereka kembali masuk ke dalam,pak Abraham heran melihatnya.


"Berhenti!" teriak mereka. "Dia ketua geng awan hitam," mendengar kata geng awan hitam sontak membuat mereka terkejut dan mundur beberapa langkah,mereka mundur secara suka rela. Hening sesaat tidak ada pergerakan sama sekali,beberapa dari mereka ada yang gemetar,sepertinya geng awan hitam itu cukup berpengaruh,tentu saja karena sebenarnya orang-orang yang di rekrut untuk menjadi anak buahnya pak Abraham adalah orang-orang yang pernah di bimbing oleh Andriana. Artinya,mereka adalah muridnya,hanya saja mereka tidak pernah melihat wajah Andriana karena wanita itu selalu saja menutup wajahnya.


"Kenapa sekarang kalian berhenti,kalian takut pada wanita itu hah?"


"Tembak wanita itu sekarang juga!" perintah lelaki itu lagi,pak Abraham tampak takut karena menyadari bahwa anak buahnya itu tidak lagi berpihak padanya,lelaki itu mulai terlihat tidak fokus,Diana mengambil kesempatan untuk lepas dari kakeknya,dia langsung menggigit lengan kakeknya dan berlari ke arah ayahnya. Pistol di tangan pak Abraham terjatuh,seharusnya Diana mengambil pistol itu tapi dia malah lari sendiri,Andra berusaha mengambil dengan kakinya tapi pak Abraham sudah lebih dulu merebut pistol itu.


Pak Anton yang melihatnya langsung berlari ke arah anaknya.


Lelaki itu pun langsung melepaskan tembakannya.


Dor!!


Satu peluru lolos keluar semua terkejut,Andra baru ingin mencegahnya,namun terlambat. Dan rupanya tembakan pak Abraham juga melesat bukan mengenai Diana tapi ayahnya,pak Abraham menembak anaknya sendiri.


"Tidak,ayah...!" Diana menjerit histeris,pak Abraham marah karena tembakannya meleset,dia berniat untuk menembak Diana.


Dor! satu tembakan lagi,tapi itu bukan pak Abraham,itu adalah Alex,dia menembak lelaki itu tepat mengenai bahunya karena pak Abraham berusaha menembak Diana,anak buahnya juga bergegas mengikat tangannya agar dia tidak bisa bergerak lagi.

__ADS_1


"Tempat ini sudah di kepung!" terdengar suara polisi dari luar dan kemudian mereka juga masuk ke dalam,mereka semua berpakaian lengkap. Di luar sudah berjejer mobil polisi,ambulance dan wartawan,Diana tidak memikirkan itu semua dalam pikirannya saat ini hanya ada ayahnya,Andra masih bisa di selamatkan dia hanya terluka tapi ayahnya...?


Diana menangis pilu di sana,Indra bahkan hampir tak sanggup berdiri lagi,kakinya lemas seketika. Dia dan Andriana langsung berlari ke arah Angin,pak Abraham juga menitikkan air matanya,rupanya lelaki itu masih punya hati juga.


"Ayah.. ayah lihat Diana,ayah jangan pergi lagi ayah,kita sudah berpisah selama bertahun-tahun,kita akan hidup tenang sekarang,semua sudah berakhir." Diana menangis.


Pak Anton tersenyum dan membelai pipi anaknya. "Kamu masih ingat saat ayah mengantarkan kamu ke sekolah? Sebenarnya hari itu ayah ingin sekali menggendong putri kecil ayah,namun ayah terlalu mementingkan ego,ayah minta maaf." Ucap pak Anton,dia masih terus menahan sakit dari tembakan itu yang mengenai perutnya.


"Mas,kamu harus bisa bertahan,kamu tidak boleh meninggalkan Diana." Ucap Indra dia menangis,lelaki itu sebenarnya juga sangat menyayangi kakaknya.


"Ya,kamu harus kuat semua sudah berakhir sekarang." Tambah Andriana


"Ayah sudah tidak kuat lagi nak,kamu harus tahu kalau ayah sangat menyayangi kamu."Pak Anton mengeluarkan seuntai kalung dari kantongnya dan memberikannya pada Diana. "Ini adalah kalung yang akan ayah berikan di hari ulang tahun kamu,maaf ayah tidak bisa menunggu sampai hari itu tiba."


"Ayah sudah berjanji,aku sudah kehilangan kasih sayang ayah dari kecil,sekarang aku tidak ingin kehilangan itu lagi,ayah..."


"Ayah akan selalu sayang sama kamu,mbak,Indra tolong jaga Diana untuk aku,jangan sia-sia kan dia," pesan lelaki itu pada mereka. "Diana,kamu juga harus janji sama ayah untuk menjadi anak yang baik,ayah akan pergi bertemu ibu jangan lupa untuk selalu mendoakan ayah dan ibu," sesaat setelah itu mata Anton terpejam,mulutnya berhenti berucap,nafasnya berhenti berhembus lelaki itu telah pergi untuk selamanya,dia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan anaknya. Ayah Diana tidak akan kembali lagi,sama seperti ibunya. Dunia seperti berhenti berputar,langit seolah runtuh,Diana terdiam kaku,tidak berkata-kata lagi hanya air matanya yang terus mengalir.


Andriana memeluk keponakannya itu,dia sendiri juga sangat sedih,tidak tahu bagaimana menghibur Diana. Saat itu Dea,Ariska dan Angga mereka sudah ada di sana. Anton langsung di bawa keluar oleh pihak rumah sakit,Andra juga dan pak Abraham juga ikut di bawa dulu ke rumah sakit karena tangannya harus di obati,namun lelaki itu tetap berada dalam pengawasan pihak yang berwajib.


"Ini semua gara-gara kamu Diana,saya pasti akan membunuh kamu,seharusnya kamu yang mati bukan anak saya!" ucap lelaki itu saat di bawa oleh polisi,tapi Diana seolah tidak mendengarnya,pikirannya kosong bahkan dia merasakan kakinya saat ini sepertinya tidak lagi berpijak di atas tanah.


Jenazahnya pak Anton tidak langsung di kebumikan karena hari sudah hampir malam,jadi pihak keluarga memutuskan untuk melakukan pemakaman keesokan harinya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2