Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Perang Di Mulai


__ADS_3

Beberapa hari ini semuanya tampak tenang dan berjalan lancar,tapi Andriana tahu bahwa pak Abraham sudah menyiapkan sesuatu yang besar, ini seperti bom waktu.


"Pak Abraham sengaja tidak mengganggu kita untuk beberapa hari ini,aku tahu dia sedang memantau kediaman kita mas," ucap Andriana pada Andra.


"Aku merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi," tambah Antonio.


"Tante,bukankah beberapa hari yang lalu tante pernah mengatakan bahwa nenek memiliki diary,mari kita tunjukkan diary itu!" usul Diana,pikiran gadis itu ternyata sama dengan pikirannya saat di rumah Winda,namun sayangnya semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Diary itu ada di kontrakan Aldo,sepertinya kita harus ke sana untuk mengambilnya." Ucap Andriana


"Biar aku yang menemani,mbak." Anton menawarkan diri untuk membantunya.


"Tidak perlu,kali ini aku akan mengajak Diana dan Dea,juga Angga," tolak Andriana.


"Kamu ingin membawa anak-anak ke sana? Itu sama saja menjadikan mereka sebagai umpan,aku tidak setuju!" tegas Andra terlihat emosi.


"Mereka sendiri yang minta,dan kami juga sudah melakukan persiapan yang matang." Ucap Andriana berusaha menjelaskan.


Saat mereka sedang berdebat,tiba-tiba dari luar masuk beberapa penjaga dengan membawa seorang perempuan yang sudah di hajar sampai babak belur. Andriana hampir pingsan di buatnya karena wanita itu adalah Alexa,anak buahnya yang di tugaskan untuk mengintai tempat persembunyiannya Abraham.


"Nona,kami menemukan wanita ini di depan gerbang,dia mengatakan ingin menemui nona Andriana." Ucap salah satu penjaga.


"Alexa," gumam Andriana "Bawa dia kemari!" perintahnya,kemudian menyuruh mereka membaringkan tubuh Alexa di atas sofa.


Tanpa banyak bertanya dua penjaga itu langsung membopong tubuh Alexa dan meletakkannya di atas sofa.


"Siapa dia?" Andra yang tidak bisa menahan rasa penasarannya langsung saja bertanya."


"Dia orang suruhanku,aku menyuruhnya untuk menyelidiki kediaman Abraham,sepertinya dia ketahuan dan di hajar oleh mereka."


"Artinya mbak sudah mengetahui di mana papa saya tinggal?" tanya Anton.


"Soal itu aku memang sudah mengetahuinya sebulan yang lalu,papa ternyata berhasil memasukkan seseorang ke sana,dia bernama Alex," ungkap Andriana.


"Sepertinya dia terluka cukup parah,kenapa kita tidak menelepon Winda untuk urusan ini?" tanya Andra.


"Iya,saat seperti ini kita memang harus menelpon Winda." Andriana baru teringat akan sahabatnya itu,memang Winda sangat bisa di andalkan di saat-saat genting seperti ini.


\*\*\*\*\*

__ADS_1


"Kamu sudah sadar rupanya," ucap Winda saat melihat Alexa sudah membuka matanya dan tatapannya terlihat bingung.


"Apa aku berada di rumah nona?" tanya Alexa,nona yang di tanyakannya adalah Andriana,gadis itu menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak mewah itu,sesaat hatinya di buat terpana dengan kemegahan rumah bosnya,tapi kemudian dia kembali teringat pada tujuan awalnya datang ke tempat tersebut.


"Nona di mana?" tanya Alexa sekali lagi,karena Winda tidak menjawab pertanyaannya.


"Maksud kamu Andriana?"


"Iya nona Andriana,saya harus bertemu dengannya,ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya sampaikan." Ucap gadis itu,sorotan matanya terlihat khawatir.


"Baiklah kamu tunggu di sini,jangan banyak bergerak karena kondisimu masih belum begitu membaik," pesan Winda sebelum dia pergi untuk memanggil Andriana.


"Andriana... Alexa sudah sadar dan dia i---"


Belum habis Winda bicara Andriana sudah pergi berlalu,dia hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Tante tidak usah bingung,tante Andriana memang seperti itu." Ujar Diana.


"Owh ternyata kamu yang namanya Diana," ucap Winda,dia menatap kagum melihat wajah cantik Diana,cantiknya alami sepertinya itu warisan dari ibunya deh.


"Iya,aku Diana Puteri. Tante ini sahabatnya tante Andriana kan?" tanya Diana sekedar basa basi,padahal dia sudah tahu.


"Iya,em... kamu sendiri aja? Yang lain pada kemana?" tanya Winda,saat melihat keadaan rumah yang sepi.


"Tidur? Jam segini?" Winda melirik jam di pergelangan tangannya yang saat itu sudah menunjukkan pukul 12:09.


"Tante bilang,bibi itu sudah tua jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah tidak baik katanya." Diana menjelaskan. "Apa tante sudah menikah?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


"Wah ini nih yang aku paling nggak suka,di tanya soal nikah,kayaknya aku nggak bisa duduk lama-lama deh di sini,ini bocah bahaya juga pertanyaannya kabur jelas nggak mungkin kelihatan bangat kalau aku sedang menghindar." Winda terus berpikir dalam hatinya.


"Kenapa melamun tante?" suara lembut Diana segera menyadarkannya.


"Tante belum menikah,memangnya kenapa?" tanya Winda.


"Pas bangat kalau begitu,om Andra juga masih menyendiri setelah istrinya meninggal,apa tante tidak pernah kepikiran untuk menikah dengan om Andra?"


Winda semakin salah tingkah di buatnya,hari ini mulut pendiam Diana benar-benar menjadi jahat kenapa juga mulutnya sangat usil hari ini,apa dia tidak tahu kalau sebenarnya Winda sangat risih dengan pertanyaannya barusan?


"Oh Andriana selamatkan aku dari keponakan kamu ini." Ucap winda dalam hatnya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


"Kamu tidak salah dengar kan?"


"Saya yakin itu yang mereka bicarakan,kita hanya punya sedikit waktu untuk membongkar kebusukan tuan Abraham ke publik,kita tidak bisa mengulur waktu lagi dan kita juga sudah punya semua bukti,kalau kita tidak langsung bergerak hari ini,menunggu sampai nanti malam mungkin kediaman ini yang akan di serang." Ucap Alexa khawatir.


"Aku harus menghubungi mas Andra,dan menyuruhnya untuk segera pulang." Andriana terus menghubungi kakaknya tapi tidak bisa terhubung sama sekali,nomornya tidak aktif.


"Sial!" umpat Andriana kesal,dia semakin panik. "Apa yang sekarang harus kita lakukan?"


"Nona harap tenang dulu,apa pak Andra membawa beberapa orang untuk mengawalnya?"


"Aku rasa tidak,mas Andra tadi pergi dengan ayahnya Diana,mereka bilang akan mengambil buku diary bu Silvia di kontrakannya Aldo."


"Ya... bi Murni! Aku harus mencari bibi!" ucap Andriana segera pergi dan meninggalkan Alexa di sana.


\*\*\*\*\*\*


"Bibi!" panggil Andriana bi Murni yang kebetulan sudah bangun dan duduk bersama Diana dan Winda,beliau langsung menoleh ke arah panggilan itu,bi Murni melihat Andriana yang tampak sangat khawatir di kala itu merasa bingung. "Masalah apa lagi ini?" batin bi Murni.


"Ada apa nak?"


"Bi,coba sebutkan nomor telepon anak bibi! Andriana butuh bantuan dia sekarang juga."


Tanpa banyak tanya bi Murni langsung memberikan nomor telepon anaknya pada Andriana. Andriana langsung menghubungi nomor itu dan singkat ceritanya anak bi Murni pun setuju untuk segera mengungkap kejahatan pak Abraham.


"Apa terjadi sesuatu dengan om dan ayah tante?" tanya Diana,setelah mendengar percakapan singkatnya dengan anak bi Murni Diana langsung mengambil kesimpulan bahwa ayah dan omnya sedang dalam bahaya.


"Kamu tenang ya,mereka baik-baik aja kok." Andriana berusaha menenangkan Diana meski hatinya sendiri tidak tenang.


"Tringg!!" bunyi ringtone handponenya Andriana,wanita itu segera melihat nama orang yang tertera di layar hpnya dan itu adalah Ronald.


"Andriana,kamu ada di mana sekarang? Pak Andra di bawa pergi sama anak buahnya pak Abraham,aku sedang mengikuti mereka,"


Mendengar perkataan Ronald,Andriana terdiam,darahnya kembali mendidih sepertinya saat ini sudah waktunya bagi dia memperlihatkan taringnya,kenapa harus bermain-main dengan kakaknya,dulu abraham sudah membuat hidup adiknya begitu menderita dan sekarang dia masih belum puas,masih ingin menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya.


"Sebaiknya kamu jangan ikuti lagi biarkan saja mereka! Mas Andra pasti punya cara sendiri," ucap Andriana dan dia langsung mematikan handphonenya. Wanita itu menatap tajam,kilatan di matanya terlihat mengerikan inilah sosok Andriana yang sangat di takuti Winda,selain Ronald ternyata Winda juga tahu siapa Andriana,di balik sosoknya yang lembut dia adalah seseorang yang tegas dan pemberani


Andriana sudah berlatih sejak lama setelah kematian adiknya,dia sudah bertekad untuk menjaga keluarganya dari pak Abraham.

__ADS_1


"Saatnya membuktikan pada mereka siapa aku sebenarnya" batin Andriana.


Diana merasa takut melihat perubahan wajah tantenya yang tiba-tiba terlihat begitu dingin,ada aura membunuh di matanya,itu yang mereka rasakan.


__ADS_2