Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Akhir Sebuah Kisah


__ADS_3

Diana sudah tidak menangis lagi,tapi dia juga belum sepenuhnya bisa merelakan kepergian ayahnya. Dia hanya menatap hampa tempat peristirahatan terakhir sang ayah,di sampingnya adalah kuburan ibunya.


Mulai saat ini dia tidak bisa lagi bertemu dengan ayahnya,14 hari bersama ayahnya kini hanya akan menjadi sebuah kenangan.


Dua hari setelah pemakaman pak Anton,pak Abraham di temukan meninggal dalam selnya,polisi menduga kalau pak Abraham meninggal karena serangan jantung setelah membaca diary istrinya.


Pak Indra dan bu Sofia juga di tangkap karena terlibat kerja sama dengan lelaki itu,sedangkan Ariska memilih untuk meninggalkan kota kelahirannya,dia ingin memulai hidup baru bersama keluarga dari pihak ibunya yang ada di bandung. Dia juga tidak lupa berpamitan sama Angga,Dea dan Diana. Ariska bilang kalau dia akan sering-sering mengunjungi sahabat-sahabatnya itu.


TIGA BULAN KEMUDIAN...


"Hari ini mama dan papa akan pulang dari korea,mereka ingin melihat cucu satu-satunya ini," ucap Andriana melirik sekilas ke arah Diana.


Mendengar penuturan tantenya membuat Diana sangat senang,sebab dia tidak pernah sekalipun melihat wajah oma dan opanya itu.


"Siapa yang akan menjemput mereka,tan?" tanya Diana.


"Ya om Andra kamu lah,sekarang om Andra sedang pergi ke bandara sama istrinya," jawab Andriana tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa senyum,ada yang lucu?" tanya Diana heran.


"Ya enggak ada,tapi pernah enggak sih kamu bayangin kalau om Andra bakal nikahin tante Winda?"


"Pernah,bahkan aku pernah menanyakannya langsung sama tante Winda,tapi tante Winda bilang kalau itu enggak mungkin,karena om Andra sangat mencintai almarhumah istrinya." Ungkap Diana.


Saat mereka masih asik-asiknya ngomongin tentang Andra dan Winda tiba-tiba Aldo datang,akhir-akhir ini dia sangat sering datang ke rumah mereka,dan hal ini membuat Diana kesal karena dia enggak punya kesempatan untuk ngobrol sama tantenya.


"Tante,Diana ke belakang dulu ya," ucap Diana saat melihat Aldo sudah datang.


"Lho,kok Diana malah pergi sih. Enggak mau ngobrol-ngobrol dulu sama om Aldo?" tanya Aldo sengaja menggodanya.


"Ogah mah,Diana males ada om-om genit kayak gitu," jawab Diana cuek sambil berlalu pergi. Andriana tertawa mendengar julukan baru yang di berikan Diana kepada Aldo.


"Kamu sih suka bikin dia kesal," ucap Andriana.


"Bagaimana dengan acara pernikahan kita?" tanya Aldo langsung ke intinya.


"Mama dan papa aku sedang dalam perjalanan menuju ke sini,lagian semua kan juga butuh proses," jawab Andriana.


"Kalau kita sudah menikah nanti bagaimana kalau kita bawa Diana sekalian untuk tinggal bersama kita?" tanya Aldo mengusulkan,lelaki itu terlihat bersemangat.

__ADS_1


"Ide yang bagus,aku juga berniat membawa dia tinggal bersama kita,wah kamu memang calon suami yang pengertian. Sepertinya kamu akan menjadi om yang baik untuk Diana." Andriana memuji.


"Iya,bagus kan." Ucap Aldo tersenyum. "Apa lagi kalau nanti kita punya anak,enggak perlu lagi deh cari baby sitter,kan sudah ada Diana." Tambah Aldo,dia sengaja mengeraskan volume suaranya supaya Diana mendengarnya dan kemudian gadis itu merasa jengkel.


"Owh,jadi kalian mau ngajakin aku tinggal bareng supaya aku bisa jadi baby sitter kalian,gitu? Ah... niat busuknya sudah ketahuan duluan,yang pasti aku enggak akan tinggal sama kalian!" tegas Diana,dengan perasaan masih marah dia kembali ke dapur untuk membantu bi Murni masak.


"Tuh kan,Diana marah lagi. Kamu bisa enggak sehari aja jangan buat dia kesal?" ucap Andriana tapi Aldo hanya tersenyum saja mendengarnya.


  ----


Malamnya setelah makan malam,Diana duduk bersama oma dan opanya,di sana juga ada Andra,Winda,Aldo dan Andriana.


"Opa minta maaf sekali lagi sama kamu nak,karena kesalahan opa kamu harus menanggung semua ini," ucap lelaki itu penuh sesal.


"Sudahlah opa,jangan di ungkit lagi itu adalah kenangan Diana yang paling buruk,Diana tidak ingin mengingatnya lagi." Jawab gadis itu.


"Tapi kalian harus mendengar ini dulu,biar semuanya jelas," sambung omanya.


"Sebenarnya pak Abraham itu dulunya pernah melamar mama,tapi mama enggak mau karena mama lebih mencintai papa kalian. Jadi pak Abraham salah paham,dia pikir mama menolak lamarannya karena dia karyawan biasa sedangkan papa kalian seorang direktur,itu awal mulanya pak Abraham mulai dendam dengan keluarga kita." Ungkap wanita itu. Jadi rupanya dendam pak Abraham bermula dari cinta yang di tolak dan kemudian berlanjut dengan kesalahpahaman lagi,saat mengira istrinya bunuh diri sebab tidak menyetujui anaknya menikahi Naumi,sebuah dendam yang berujung maut. Pada akhirnya lelaki itu juga yang membuat anaknya terbunuh dan dirinya juga mati akibat serangan jantung.


"Oma,sebentar lagi tante akan nikah sama om Aldo,Diana ingin tinggal di rumah Diana yang dulu." Ucap gadis itu memberitahu.


"Enggak boleh!" Andra buru-buru menjawabnya. Dia tidak ingin Diana jauh lagi dari mereka,Diana tetap harus tinggal di rumah mereka


"Mas,biar saja Diana tinggal di sana,nanti setelah menikah aku dan Aldo juga akan tinggal di sana,boleh kan Diana?"


"Ya,boleh kok tante. Tapi enggak usah bawa om Aldo,kalau om Aldo pengen ikut suruh bawa aja tenda sendiri,enggak perlu tidur di dalam rumah," ucap Diana dengan wajah cemberut. Entah kenapa dia selalu kesal saat melihat wajah Aldo.


"Wah,kayaknya kamu harus cari calon suami yang baru deh An," usul Winda.


"Enak aja,susah tahu nyari barang antik kayak gini." Mereka semua tertawa mendengar Andriana menyebut Aldo sebagai barang antik.


"Wah,mbak Winda jadiin aku sebagai lelucon." Ucap Aldo kemudian.


"Karena sudah ngumpul di sini bagaimana kalau besok kita ke rumah lamanya Naumi sambil ngeberesin rumah itu,nanti setelah kalian menikah rumah itu sudah bisa di tempati." Usul bu Damara.


"Rumah itu memang selalu bersih oma,kan tante Anita setiap hari selalu menyuruh orang untuk membersihkannya,tante juga bilang kalau rumah itu sudah di perluas. Kalau nanti Diana menikah rumah itu bisa Diana tempati. Nah,setelah Diana menikah om sama tante bakal Diana suruh cari kandang baru deh,hahaha..." Diana tertawa lepas,tapi hanya dia yang tertawa sedangkan yang lain pada diam...


Hening...

__ADS_1


"Kok pada diem? Nggak lucu ya?" tanya Diana kemudian.


"Nggak!!!" jawab mereka kompak. Kayaknya sengaja deh buat Diana kesal,dan benar saja pada akhirnya Diana memilih pergi dari sana,akhir-akhir ini suasana hatinya sering berubah-ubah,sulit di tebak.


"Diana kenapa lagi ya?" Andriana sendiri bingung.


"Lagi dapet mungkin," tebak bu Damara.


"Kayaknya bukan deh,suasana hatinya memang lagi kurang baik," tambah Winda.


"Atau mungkin lagi ada masalah sama pacarnya,kan anak muda jaman sekarang seperti itu," imbuh papanya lagi.


"Besok kalau kita pergi ke rumah Diana,ajak saja Angga,bagaimana?" Aldo bertanya,meminta persetujuan dari mereka.


"Wah benar juga,siapa tahu suasana hatinya kembali normal," Andra setuju.


\*\*\*\*


Saat semuanya sedang sibuk mempersiapkan acara makan malam bersama,Angga dan Diana malah duduk santai di bukit yang ada di belakang rumahnya.


Mereka semua memang sengaja memberi kesempatan untuk mereka bicara berdua,Dea bahkan tidak datang ke sana untuk berkumpul bersama mereka,Dea mengerti saat ini Diana sedang butuh teman ngobrol. Apalagi hatinya masih terguncang setelah kepergian ayahnya,tidak mudah memang melupakan hari menyedihkan itu.


"Pemandangan di sini indah,ya" ucap Angga.


"Iya memang indah,dulu aku dan Dea sangat sering datang ke sini,kamu tahu tidak kalau kami menyebutnya sebagai bukit seribu harapan."


"Kenapa begitu,?" tanya Angga heran.


"Sebab waktu kecil dulu,aku dan Dea memiliki banyak sekali harapan,yang bahkan kami sendiri tidak tahu apakah itu semua akan terkabulkan."


"Diana,apa sekarang kamu bisa menjawab pertanyaan aku?" tanya Angga.


"Aku mau!" jawab Diana mantap. Sebenarnya Angga memang sudah tahu akan jawaban Diana,apalagi hubungan mereka selama ini sangat dekat hanya saja dia ingin memperjelasnya.


"Aku sudah mengatakan semuanya sama mama dan papa,mereka juga setuju. Setelah dapat pekerjaan nanti aku akan melamar kamu,dan kita akan memulai hidup baru bersama," Angga memeluk Diana dengan erat,mereka tersenyum bahagia.


Diana masih juga teringat akan ayahnya,semua itu belum bisa terlupakan begitu saja. Meskipun dia tahu orang-orang yang berada di dekatnya saat ini sangat menyayanginya,dia bahkan di perlakukan seperti ratu,tapi tetap saja yang namanya orang tua tetap tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati seorang anak.


"Ayah,ibu,terimakasih atas segalanya,Diana sangat menyayangi kalian semoga kalian tenang di sana," ucap Diana dalam hati,tak terasa air matanya jatuh mengalir.

__ADS_1


Diana tahu cobaan dalam hidupnya belum berakhir,ini baru di mulai,selama dia masih bernafas selama itu pula dia harus menghadapi masalah yang datang dalam hidupnya,yang pasti dia tetap harus kuat. Sekarang dia sudah memiliki calon pendamping hidupnya kelak,Diana berharap semoga cinta Angga untuknya sama seperti cinta ayah dan ibunya,tetap mencintai sampai ajal memisahkan.


🌹🌹 TAMAT 🌹🌹


__ADS_2