
"Iya itu memang jebakan,makanya kita harus cepat-cepat ke sana dan ajak beberapa anak buahmu!" suruh Anton.
"Aku ikut mas!" pinta Sofia
"Kamu tunggu saja Ariska pulang!" ucap Indra tidak mau Sofi ikut,menurutnya itu hanya akan menambah masalah.
\*\*\*\*\*
Sedangkan di tempat lain polisi sedang melakukan olah TKP, tampak di sana sudah ada Aldo,Ferdi dan anaknya bi Murni (pak Jordi),sepertinya kaki lelaki itu sudah sembuh total karena sekarang dia sudah bisa berjalan normal.
Mereka sangat senang akhirnya kasus yang bertahun-tahun di tutup karena kurangnya bukti sekarang sudah menemui titik terangnya.
"Kenapa tidak dari dulu saja kamu mengatakan semua ini,dasar payah!" ucap polisi itu.
"Ya karena saya tahu saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya." Jawab Aldo.
Di sana juga ada ahli forensik dan para wartawan yang datang untuk meliput berita tersebut,mereka sengaja membuat wajah pak Abraham terlihat di seluruh stasiun tv.
"Winda tadi menelpon saya mengatakan bahwa Andriana pergi dengan keponakannya untuk menyelamatkan pak Andra," ucap Aldo pada pak Jordi.
"Hal sepenting ini kenapa kamu tidak ngomong dari tadi?" pak Jordi marah.
"Lagian pak Abraham juga menyuruh Andriana untuk pergi berdua saja dengan Diana,jangan mengajak orang lain apalagi polisi," jelas Aldo.
"Tenang saja,saya punya cara sendiri dan lagi pula menurut saya Andriana itu orang yang cukup cerdik,dia tidak akan mudah jatuh dalam jebakannya pak Abraham." Ucap pak Jordi,lelaki itu kemudian langsung menelpon pihak kepolisian untuk segera melakukan penangkapan. Aldo tersenyum senang akhirnya pak Abraham akan tamat riwayatnya hari ini.
\*\*\*\*
"Bagus--- Bagus sekali,akhirnya kamu datang juga," ujar lelaki itu sambil tertawa penuh kemenangan,dia merasa sangat bangga karena mengira dirinya sudah menang sekarang.
__ADS_1
"Lepaskan kakak saya!" suruh Andriana,dia masih memegang erat Diana,sepertinya dia takut kalau orang suruhan pak Abraham akan memisahkan Diana darinya.
"Suruh gadis itu kemari dulu,baru saya akan melepaskan kakak kamu." Ucap pak Abraham. Andriana tahu permainan apa yang sedang di mainkan lelaki tua itu.
"Jangan Andriana,itu hanya jebakan saja!" teriak Andra berusaha mencegahnya.
"Diam kamu!" bentak orang suruhannya pak Abraham,bahkan dia menendang dengan keras perutnya Andra membuat lelaki itu terbatuk hingga mengeluarkan darah. Andriana yang melihat kakaknya di siksa sedemikian rupa tidak kuasa menahan air matanya,namun menangis di saat seperti ini tidaklah mungkin itu hanya akan membuat dia semakin terlihat lemah.
"Biar Diana pergi ke sana tante,lagi pula hari ini kita harus mengakhiri semuanya bunuh atau di bunuh,kita tidak memiliki banyak waktu lagi untuk berpikir,lihat saja keadaan om Andra sudah begitu parah." Diana berbisik di telinga tantenya.
Andriana pun membiarkan Diana pergi,meski hatinya sendiri ragu-ragu. Andra padahal sudah beberapa kali memberi isyarat dengan matanya agar dia tidak mengikuti kemauannya pak Abraham.
Melihat Diana yang sudah semakin dekat ke arahnya,pak Abraham langsung menyuruh anak buahnya untuk menarik Diana dan langsung mengarahkan pisau ke lehernya,sekarang dua-duanya sudah ada di dalam cengkeramannya pak Abraham,Andriana tersenyum sinis.
"Licik memang,anda tahu saya paling tidak suka permainan seperti ini." Ucap Andriana, sekarang wajahnya yang biasa terlihat lembut kini berubah drastis,bahkan Andra sendiri dapat merasakan bahwa yang sekarang berdiri di depan matanya itu bukan Andriana yang di kenalnya.
"Memangnya boleh?" tanya Diana,gadis itu sepertinya sedang mengulur waktu.
"Tentu saja boleh," jawab pak Abraham. Andriana melihat pisau itu semakin mengarah ke leher Diana,sepertinya pak Abraham memang berniat ingin langsung membunuhnya hari itu juga.
"Hei gendut! Kau bisa menjauhkan pisau itu dari lehernya? Aku tahu kalian ingin membunuh Diana,kalian semua pengecut!" cibir Andriana. "Beraninya main pisau dan senjata api,kalau kalian memang berani mari bertarung dengan tangan kosong!" ucap Andriana menantang.
Andra terkejut mendengar ucapan adiknya, apa dia sudah bosan hidup? Ucapannya itu sudah terlalu berlebihan dia sepertinya sedang menggali kuburannya sendiri.
"Hahaaa..." pak Abraham tertawa keras menganggap ucapan Andriana tadi seperti sebuah lelucon.
"Wanita bodoh! Baiklah kalau itu maumu saya terima." Pak Abraham segera memanggil anak buahnya,mereka pun segera melompat keluar,entah bersembunyi di mana mereka tadi tiba-tiba saja sudah ada di depan Andriana.
"Semua bertubuh besar,berotot dan terlihat jelas bahwa mereka orang-orang terlatih,Andriana mulai berpikir mungkin akan sulit untuk mengalahkan lawannya kali ini,tapi ya sudahlah dia sudah terlanjur berucap.
__ADS_1
"15 orang untuk ronde pertama,kalau kamu berhasil melawannya masih ada puluhan lagi yang mengantri di belakang." Ucap pak Abraham tersenyum licik.
Tanpa menunggu lama Andriana langsung mengambil ancang-ancang,Andra pikir saat itu dia ingin melawan ternyata wanita itu malah berlari keluar,dan hal ini membuat pak Abraham kembali tertawa keras karena melihat Andriana yang lari keluar. Lelaki itu tidak tahu kalau Andriana sengaja keluar agar tidak ada yang melihat cara dia bertarung.
"Dasar perempuan bodoh,ingin bertarung dengan kita,hahaha..." mereka menertawainya,tangan Andriana sudah gatal sejak tadi dia ingin langsung menghajar bandit-bandit di depannya.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita serang dia!" mereka langsung menyerbu ke arah Andriana,perempuan itu tetap tenang tidak panik,sekali kakinya di layangkan ke arah mereka tiga orang terkapar,dengan mudahnya Andriana dapat menangkis setiap pukulan mereka,hanya tinggal beberapa orang lagi Andriana harus bisa mengalah mereka semua.
Pria yang memakai bandul di kepalanya hendak memukul dia dari belakang,namun Andriana dengan cepat menyadarinya hingga dia menampar lelaki itu,satu kali tamparannya membuat lelaki itu tersungkur ke tanah giginya juga copot,kepalanya juga sangat pusing.
"Dia ketua awan hitam!" seru salah seorang dari mereka begitu melihat kalung yang di pakai Andriana,mereka semua mundur bahkan yang tadi pingsan pun tersadar kembali,setakut itukah mereka pada Andriana? Sebenarnya seperti apa kehebatan bertarung wanita itu.
"Maaf,maafkan kami nona," ucap lelaki itu kemudian mereka semua bersimpuh dan memohon agar tidak melanjutkan pertarungan.
"Bangun! Jangan menyembah saya,saya bukan tuhan!"ucap Andriana menyuruh mereka untuk berdiri,mereka pun kemudian bangun dengan tubuh masih gemetar. Apa kata dunia jika 15 lelaki itu di kalahkan oleh seorang Andriana.
"Kalian hanya perlu memberi saya jalan untuk mengatasi lelaki yang sudah bau tanah itu,jadi jangan mengganggu pekerjaan saya,mengerti!" ucap Andriana dengan tatapan matanya yang tajam,tatapannya saja sudah membuat musuh gentar.
"Izinkan kami untuk membantu anda,nona!" pinta seorang lelaki di antara mereka yang sepertinya itu adalah ketua mereka.
"Tidak perlu!" jawab Andriana.
Saat itu Indra dan Anton datang,akhirnya mereka datang juga.
"Bagaimana keadaan di dalam?" tanyo Anton khawatir,jujur saja saat itu dia heran kenapa Andriana berada di luar dan tampak sedang berbincang dengan orang suruhan papanya bukankah aneh? Namun dia tidak sempat menanyakan hal seperti itu.
"Mereka ada di dalam,ayo kita masuk!" ajak Andriana.
\*~•••••°\*~•
__ADS_1