
"Botak? Siapa yang lo panggil botak?" lelaki yang di panggil botak tadi marah,wajahnya pun terlihat sangar begitu,menakutkan juga.
"Lepaskan wanita itu atau kalian mau mati!" gertak orang yang tadi menyuruh Ariska pergi.
"Kenapa lo marah? Lah emang lo botak," tambah temannya lagi ikut membenarkan.
"Jangan banyak bacot aja lo,mari habisi dia!" ajak lelaki botak itu.
"Lo duluan deh bim,gue sisanya aja," jawab lelaki itu santai.
Melihat mereka yang tidak kompak sama sekali,ini menjadi kesempatan untuknya,dia langsung bergerak cepat menghajar dua lelaki itu,mereka tidak tahu bahwa yang sedang di hadapi saat ini adalah nona Andriana.
"Wah,kurang ajar benar cari mati lo ya!" lelaki itu sangat marah saat Andriana menendang perut dan dadanya.
Mereka tersungkur ke tanah,namun masih berusaha melawan tapi tidak bisa,keduanya tidak bisa bangun sakit sekali. Padahal itu hanya pukulan kecil dari Andriana.
"Ayo bangun!" suruh Andriana saat melihat mereka tidak bisa berdiri lagi setelah terkena beberapa pukulannya.
"Bim,sepertinya gua nyerah,kaki gua patah bim, tulang gua retak," ungkap temannya,mereka terlihat pasrah begitu saja.
"Bi,ayo kita pergi dari sini!" Andriana langsung memegang tangan bi Murni dan mengajaknya pergi dari sana.
Ternyata masih belum berakhir,ada dua orang lagi dan itu adalah bos mereka,dan kali ini mungkin tandingan Andriana sedikit lebih kuat,karena badan lelaki itu lebih besar dan tinggi daripada mereka.
"Mau kemana anak kecil? Lewati dulu kami!" lelaki itu berdiri dengan tegapnya di depan Andriana,jarak mereka sangat dekat namun Andriana tidak gentar sama sekali.
"Brengsek memang,dia kira aku anak kecil," batinnya penuh amarah.
Buk! Andriana meninju lelaki itu,tapi tubuhnya masih tidak terhuyung sama sekali.
"Aku kebal dengan pukulan seperti itu,pukul saja sampai kamu puas!" suruh si bos yang entah siapa namanya.
"Apa kamu sudah menikah?" Andriana menghentikan pukulannya,apakah wanita itu masih waras? Di saat menegangkan seperti ini dia malah bertanya apa musuhnya sudah menikah.
"Kau ingin bermain-main denganku?" lelaki itu di buat kesal dengan pertanyaan Andriana,hingga dengan cepat lelaki itu mengarahkan kakinya untuk menendang Andriana.
__ADS_1
Tapi,Andriana sudah lebih dulu menyingkir dari hadapannya,gerakan Andriana begitu cepat dan sulit di tebak tanpa di sadari Andriana sudah berada di belakangnya.
Buk!
Dia menendang punggung laki-laki itu dan memelintir tangan lelaki itu hingga dia menjerit kesakitan,temannya yang satu lagi terlihat ketakutan,sepertinya dia tidak berani melawan Andriana,apalagi melihat dua temannya tadi sudah terkapar tak berdaya.
\*\*\*\*
"Ris,kita mau ke mana?" tanya Diana,dia masih kepikiran bi Murni.
"Sudah kamu tenang saja,dan jangan terlalu mengkhawatirkan soal bi Murni karena tadiĀ aku lihat orang yang menyuruh kita pergi sepertinya juga membantu bibi,jadi kamu tenang aja."
"Ris,pelan-pelan dong bawa mobilnya!" Diana mengingatkan,karena takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Kamu tenang aja,aku sudah biasa ngebut di jalanan kayak begini," jawab Ariska santai.
Gadis itu terus melajukan mobilnya dan menambahkan kecepatannya.
"Ris,awas di depan---"
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ariska masih bersikap sok santai,padahal jantungnya saat itu sudah berdetak kencang dia juga sangat takut.
"Santai," jawab Diana,karena melihat sikap santai Ariska.
Tok!!
Tok!!
Seorang lelaki mengetok jendela mobilnya. Mereka saling menatap satu sama lain,untuk beberapa saat tidak ada pergerakan sama sekali. Diana bahkan terlihat tidak peduli lagi,akhirnya Ariska yang keluar dari mobilnya dan berbicara dengan lelaki itu.
"Kalian ini apa tidak bisa berhati-hati,tidak perlu ngebut di jalanan seperti ini,kalau terjadi apa-apa kalian mau tanggung jawab?" pria itu memarahi Ariska. Diana merasa seperti pernah mendengar suara itu,tapi suara siapa? Gadis itu pun keluar karena penasaran.
"Maaf pak,teman say---"
Diana tidak bisa melanjutkan ucapannya,lelaki yang sekarang ada di hadapannya terlihat begitu mirip dengan ayahnya,ya itu memang ayahnya meski ada sedikit perubahan pada penampilannya,tapi dia yakin itu memang ayahnya.
__ADS_1
Ariska yang melihat Diana hanya bengong dan tidak melanjutkan lagi ucapannya tadi,dia jadi heran sendiri.
"Kenapa Diana jadi mematung begitu?" pikirnya.
"Ayah," ucap Diana,suaranya kecil hampir tidak terdengar.
Lelaki itu pun langsung memeluk Diana,begitu dia menyadari kalau yang di depannya saat ini adalah anaknya,anak yang dulu di tinggalkannya begitu saja.
"Diana!" pak Antonio semakin erat memeluknya,rindunya selama ini hilang sudah,perasaannya lega begitu tahu anaknya masih hidup.
"Diana,kita harus segera ke rumah om Indra,tadi tante Andriana menyuruh aku membawa kamu ke sana," ajak Ariska dia tidak peduli dengan rasa rindu ayah dan anak itu,yang pasti mereka harus segera pergi dari sana.
"Eh iya,itu anak buahnya papa!" tunjuk Ariska.
"Om,nanti saja reuniannya kami sedang di kejar gorila,kami harus secepatnya pergi." Ariska langsung menarik paksa tangan Diana dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Mereka tidak punya banyak waktu lagi,ternyata papanya itu menyuruh begitu banyak orang untuk mencari Diana.
Pak Antonio mengikuti mobil Ariska dari belakang dia ingin memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.
\*\*\*\*\*
"Bibi,sekarang cuma bibi yang tahu Andriana siapa,jadi bibi jangan bilang soal ini sama Diana atau yang lainnya,ya?" pinta Andriana.
"Iya,nak Andriana tenang aja bibi nggak bakalan ngomong sama siapapun kok,rahasia ini aman sama bibi." Ucap bi Murni meyakinkan.
"Bagus deh kalau begitu."
Andriana memutar setir mobilnya memasuki kawasan perumahan elite tempat dirinya tinggal,dia berharap semoga saja Diana dan Ariska sudah di sana.
\*\*\*\*\*\*\*
Mereka sekarang sudah berkumpul di rumahnya pak Andra,tapi suasana terasa sangat canggung,tidak ada yang berbicara sama sekali. Andriana masih melihat Anton dengan tatapan penuh kebencian,sedangkan Andra dengan sikap dingin dan sombongnya,Diana dan Ariska tidak tahu apa yang sedang terjadi antara mereka,sudah berkumpul seperti ini masih saja mementingkan ego. Bi Murni pun hanya melihat saja kelakuan aneh orang-orang di depannya itu.
"Maaf sebelumnya,bukannya bibi mau ikut campur,bibi memang tidak tahu ada masalah apa di antara kalian ini,tapi sebagai orang yang lebih tua bibi ingin memberi sedikit nasehat,dendam yang lama sebaiknya di kesampingkan dulu,sekarang kita harus berpikir bagaimana caranya menjaga Diana agar tetap aman dari pak Abraham." Bi Murni akhirnya angkat bicara juga karena tidak sanggup melihat mereka yang terus diam,tidak ada yang mau bicara satupun.
"Andriana tidak ingin memikirkan tentang si tua itu dulu bi,kebetulan Anton ada di sini dan Diana juga ada di sini,sekarang aku ingin menanyakan sama lelaki ini kenapa dulu dia pergi begitu saja dan meninggalkan istri dan anaknya."
__ADS_1