
Kamu tadi ke mana aja Dea?" tanya mamanya setelah mereka selesai makan.
"Itu ma,Dea tadi di ajak Ariska bertemu dengan sepupunya." Dea menjawab jujur,soal ini dia tidak akan berbohong.
"Ariska teman kuliah kamu,ya?" kali ini papanya yang bertanya.
"Iya..."
"Siapa nama sepupunya?" tanya bu Anita kemudian,pak Doni yang mendengarkan pertanyaan istrinya,berharap kalau Dea tidak menjawab pertanyaan mamanya dengan jujur.
"Luna ma," jawab Dea,pak Doni merasa lega,akhirnya Dea tidak menyebutkan nama Diana,tapi ini juga membuat dia heran,kenapa Dea tidak berkata jujur saja,kenapa harus berbohong apa dia tahu sesuatu.
"Owh... Luna ya? Kamu tidak salah dengan namanya kan? bu Anita bertanya sekali lagi,dia menatap curiga ke arah Dea. Dea dapat merasakan kalau mamanya seperti mengetahui sesuatu,mungkin soal kerja samanya dengan pak Andra,dan pak Doni pun demikian,dia merasa kalau istrinya itu seperti tahu kalau Dea sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak ma,namanya memang Luna. Luna Diana." Jawab Dea,dia sengaja mengatakan bahwa namanya Luna,kemudian baru mengatakan nama lengkapnya. Meski nama lengkapnya dia juga berbohong,tapi setidaknya ini sudah sedikit menutupi rasa curiga di hati mamanya.
"Mama ke kamar dulu ya" bu Anita kemudian pergi sebentar ke kamarnya dan meninggalkan suami dan anaknya,begitu istrinya pergi pak Doni mengambil kesempatan untuk menanyakan tentang sepupu Ariska itu.
"Dea,boleh papa tanya sesuatu?"
"Boleh." Jawab Dea,dia mulai mengalihkan pandangannya dari siaran tv yang di tontonnya.
"Luna yang kamu bicarakan itu apa kamu mengenalnya?"
"Tentu saja pa,dia itu teman barunya Dea,orangnya cantik sekali." Puji Dea, Diana memang cantik dan sangat manis saat tersenyum.
"Tidak,bukan itu maksud papa,apa kamu pernah melihat dia sebelumnya?" tanya pak Doni,Dea tersenyum dalam hatinya,papanya ini pasti sangat penasaran dengan orang yang dikatakan sebagai teman barunya.
"Tidak... Dea tidak pernah melihat dia sebelumnya,tapi kenapa papa bertanya tentang teman Dea,sejak kapan papa begitu tertarik terhadap apa yang Dea lakukan,dengan siapa Dea berteman,papa menyembunykan sesuatu apa dari Dea?" kali ini Dea yang berusaha menyelidiki papanya.
Kamu malah balik nanya,males papa ngobrol sama kamu,mending ke kamar aja." Pak Doni langsung bangun dan meninggalkan Dea sendirian,begitu papanya pergi dia langsung kembali fokus dengan sinetron yang tadi di tontonnya.
__ADS_1
\*\*...\*\*. ♪♪♪. \*\*...\*\*♪••♪
KEDIAMAN INDRA ALEXANDER
"Kamu sudah berani melakukan sesuatu tanpa saya suruh?" tegur bu Sofi,saat melihat Diana sedang makan di dapur."
"Ini cuma kerak nasi doang kok tan," tunjuk Diana,iya cuma kerak nasi,dia sudah tidak dikasih makan sejak tadi pagi,mana bisa menahan lapar setiap hari. Diana itu masih hidup dan orang hidup butuh makan.
"Kamu tinggal di rumah ini,jadi semua yang kamu lakukan harus dengan perintah saya,kamu boleh makan jika saya mengizinkan kamu untuk makan,sekarang kamu berani mengambil makanan di dapur saya tanpa seizin saya!" bu Sofi marah,dia menarik kasar rambut panjang Diana,hingga kepalanya terantuk dengan meja makan.
"Akh... sakit tante," Diana meringis menahan sakit di kepalanya.
"Saya sudah bilang jangan berbuat sesuatu tanpa seizin saya,ini yang kamu makan meski cuma kerak nasi doang,tapi milik siapa? Kamu jangan pura-pura bodoh." Diana terdiam,tidak berani menatap wajah wanita monster di depannya,sudah bertahun-tahun dia di perlakukan seperti pembantu di rumah ini,pembantu pun di gaji tapi dia yang katanya keponakan mereka sendiri,malah di perlakukan lebih rendah dari seorang pembantu.
"Maafkan Diana tante,Diana janji tidak akan makan lagi kalau tidak ada izin dari tante,meski itu cuma kerak nasi." Ucap diana masih menunduk dia sangat takut,kekejaman tante Sofi saat memukulnya masih jelas terbayang padahal ini sudah berlalu selama dua minggu lebih.
\*\*\*....•••°°°....•••\*\*\*
Diana masih terus melakukan pekerjaan rumahnya,setelah selesai menjemur pakaian dia di suruh memasukkan air ke dalam kolam ikan yang baru saja selesai di bersihkan. Namun,dia harus menimba air yang ada di sumur. Memasukkannya ke dalam ember dan membawanya satu persatu untuk di masukkan ke dalam kolam,ini adalah kebiasaan tante Sofi saat melihat dia sedang duduk santai tanpa melakukan pekerjaan apa pun. Sepertinya wanita itu memang tidak ingin melihat Diana hidup nyaman dan damai,meski hanya sebentar saja.
"Kalau saja bi Murni masih di sini,pasti aku tidak akan merasa seperti ini,hidup sebatang kara tanpa ibu dan ayah memang menyedihkan." Lirih Diana,dia membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Lebih baik menangis,terlalu lama di tahan pun hanya akan membuat sesak di dada.
__ADS_1
Dia terduduk lemah di dekat kolam itu,tatapannya kosong,beberapa waktu lalu dia sempat memiliki harapan. Tapi,kini harapan itu kembali memudar,sepertinya memang benar kebahagiaan dia bukan di dunia ini,pada siapa dia akan mengadu? Bi Murni pun sudah pergi dan belum tentu kembali,wanita itu pamit padanya sebelum pulang ke kampung,sebab anaknya mengalami kecelakaan dan harus segera di operasi,Diana kembali mengingat ucapan bi Murni beberapa jam yang lalu.
*TIGA* *JAM* *SEBELUMNYA*...
"Bibi harus pulang non,maaf tidak bisa menemani non Diana lagi di sini." Ucap bi Murni sedih.
"Tapi bibi akan kembali lagi kan?" tanya Diana berharap,saat itu harapannya masih belum sepenuhnya hilang.
"Bibi tidak yakin,non jaga diri baik-baik ya! Kalau ada sesuatu yang terjadi lagi,jika keadaan sudah sangat parah jangan ragu untuk mengatakannya pada tuan atau non Ariska. Beberapa hari ini bibi sering merenung tentang keluarga ini,bibi rasa non Ariska dan tuan Doni tidak seperti nyonya. Mereka tidak tahu nyonya sekejam itu." Ujar bi Murni tapi Diana tetap bimbang,dia bukannya tidak percaya pada omnya sendiri,tapi bagaimana bisa tante Sofi bertindak begitu kejamnya sedangkan om Doni tidak tahu,ini benar-benar aneh.
"Keluarga ini bi,tidak ada satu pun yang aku percayai." Jawabnya datar,Diana tidak akan memperlihatkan kesedihan diwajahnya,sebab ini hanya akan memberatkan kepergian bi Murni,wanita itu juga sangat mengkhawatirkan keadaannya.
"Tapi non Diana harus mencari seseorang yang bisa mendampingi non di saat terpuruk seperti ini,jangan menyimpan beban seorang diri." Wanita itu mengingatkan.
"Bibi jangan khawatir,jika ada kesempatan aku akan pergi dari rumah ini." Diana meyakinkan agar bibi juga tidak terlalu khawatir tentang dirinya.
"Ini,bibi ada sedikit uang untuk kamu. Simpan baik-baik,kalau nanti kamu berhasil keluar dari rumah ini,temui bibi di alamat ini ya!" bi Murni kemudian memberikan Diana uang tiga juta dan selembar kertas yang bertuliskan alamat kampung halamannya.
"Tapi bagaimana dengan biaya operasi anak bibi?"
"Uang itu sudah ada,bibi punya simpanan yang cukup kok,yang pasti kamu harus bisa keluar dari sini dengan selamat. Ingat,jangan melakukan hal yang salah lagi,yang akan membuat nyawamu melayang,ingat baik-baik kamu harus bisa keluar dari sini bibi akan menunggu kamu di sana!" pesan terakhir bi Murni. Diana sangat mengingatnya,bahkan bibi juga memeluknya dengan erat,Diana pun begitu. Dia sangat sedih dengan kepergian bi Murni,tapi itu semua sudah berlalu sekarang cuma ada dia di sini,bisakah dia bertahan hingga akhir,bisakah dia keluar dari rumah ini dengan selamat? Itu semua masih menjadi pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.
__ADS_1
Cerita hidupnya tidak seindah drama di tv,atau cerita di dalam novel,hidup menderita dan kemudian bahagia setelah menemukan sang pangeran,mungkin hidupnya Diana akan menderita hingga akhir.