
Seorang lelaki tua duduk dengan angkuhnya di atas singgasananya,rumah yang di tempatinya terlihat megah dan sangat mewah,dia adalah tuan Abraham,dia itu pria tua yang sangat rakus jika berkaitan soal harta kekejamannya luar biasa,siapa yang tidak menuruti perintahnya langsung di bunuh,tidak ada yang tahu sifat gelapnya itu termasuk kedua anak lelakinya,pak Indra dan Antonio. Tapi ada seorang wanita yang tahu banyak hal tentang dia,siapa ya kira-kira?
"Dimana alex?" tanya pak Abraham.
"Saya di sini tuan" Alex langsung mendekat ke samping lelaki itu.
"Sudah kamu urus semuanya sampai tuntas?"
"Sudah tuan,"
"Dia benar-benar mati kan?" tanya lelaki tua itu memastikan,Pandangannya masih lurus ke depan sama sekali tidak menatap lawan bicaranya.
"Saya bahkan sudah ke kampungnya dan melihat sendiri bahwa jenazah Aldo sudah di makamkan." Mendengar jawaban Alex pak Abraham sangat senang dia tidak tahu bahwa saksi mata masih hidup,lelaki itu tidak tahu bahwa lawannya sekarang juga bukan lagi pak Andra tapi Andriana.
"Bagus kalau begitu,kerja kamu sangat bagus kamu hebat! Tidak sia-sia saya menjadikan kamu orang kepercayaan saya." Ucap pak Abraham tersenyum bangga,Alex hanya mendengarkan saja ekspresinya datar,bahkan di antara mereka tidak ada satu orang pun yang tahu kapan dia sedih,senang,marah ataupun ketakutan karena ekspresinya sama saja. "Lalu bagaimana dengan Diana apa kalian sudah menemukannya?" sambung lelaki tua itu.
"Tidak ada satupun petunjuk tentang dia tuan," jawab Alex.
"Cari dia sampai dapat!" perintah lelaki itu kasar suaranya keras menggelegar.
"Lalu apa yang harus saya lakukan jika sudah menemukannya?"
"Just kill her,it's also not a big problem right?" Alex hanya mengangguk,kemudian segera pergi dari sana dengan mengendarai mobilnya dia akan mencari Diana,tapi dia tidak ada niatan untuk membunuhnya,kenapa ya?
\*\*\*\*\*\*
Tinggal di kampung ternyata begitu enak,itulah yang di rasakan Diana,dia bisa menghirup udara segar setiap harinya. Diana tampak bahagia tinggal bersama bibi,di sana dia bisa melakukan apa pun kemauannya tanpa di atur ini itu,tidak seperti di rumahnya tante Sofi.
__ADS_1
"Wah salep pemberian den Angga ternyata sangat luar biasa,lukanya sudah benar-benar mengering,tapi bekasnya bagaimana cara menghilangkannya ya non?" tanya bi Murni saat membantu Diana mengolesi salep di punggungnya.
"Bibi jangan panggil aku dengan sebutan non, panggil Diana saja!" suruh Diana,padahal dia sudah beberapa kali memperingatkan wanita itu,tapi bi Murni masih saja lupa.
"Eh iya,bibi lupa."
"Bi,menurut bibi Angga itu orangnya gimana sih?" Diana tampak malu-malu saat menanyakannya.
"Mas Angga itu anak yang baik,kalau Diana suka gaet aja sekalian!" usul bi Murni seraya tersenyum karena merasa bahwa Diana sedang jatuh cinta.
"Benarkah? Bibi setuju?" tanya Diana matanya berbinar-binar.
"Rupanya ada yang sedang berbunga-bunga ya?"
"Bibi nyindir Diana ya?"
"Enggak,mana berani bibi," ujar bi Murni. Saat mereka tengah ngobrol dengan serunya dari luar terdengar suara seseorang mengucapkan salam.
Mereka tidak langsung menjawabnya,sepagi ini ada orang yang bertamu padahal jarum jam saat itu masih menunjukkan pukul 07:30,Diana menatap ke arah bi Murni hatinya mulai was-was.
"Bi,siapa itu? Apa jangan-jangan itu orang suruhannya kakek?" Diana masih ingat betul akan perkataan Angga semalam saat menelepon dirinya. "Hati-hati jangan sampai ada yang tahu kalau kamu ada di rumah bi Murni,sebab tuan Abraham sedang mencari kamu,"
"Ah nak Diana terlalu takut,di buka saja! Pak Indra sendiri tidak tahu bibi tinggal di sini,apa lagi bapaknya." Jawab bi Murni cuek-cuek aja sama ketakutan Diana.
"Waalaikummussalam!!" jawab bi Murni membuka sendiri pintu rumahnya.
Dan begitu melihat siapa yang datang Diana sangat senang dan bahagia,dia tidak menyangka sama sekali bahwa mereka benar-benar datang untuk menemuinya,kira kira mereka itu siapa ya?
__ADS_1
\*\*\*\*\*
"Kamu ternyata benar-benar datang ke sini hari ini." Ujar lelaki itu seraya tersenyum saat melihat kedatangan Andriana.
"Tentu saja,saya harus secepatnya mendapatkan informasi dari kamu,kamu juga tidak perlu menutup-nutupi lagi kejahatan lelaki tua itu lagian dia sudah mencoba untuk melenyapkan kamu."
"Apa yang bisa di tutupi lagi? Semuanya harus di ungkapkan biar kita bisa menjebloskannya ke dalam penjara." Ujar Aldo dengan sorot mata penuh dendam.
"Dia sedang mencari tahu keberadaan keponakanku untuk membunuhnya," ungkap Andriana.
"Dia tidak akan langsung membunuh cucunya itu,pak Abraham akan menyiksanya sedikit demi sedikit,dia akan membuat Diana hancur sehancurnya hingga dia sendiri merasa sudah mati dan hidup seperti tubuh tak bernyawa."
"Itu kalau dulu Aldo saat Diana masih tinggal di rumah pak Indra. Tapi sekarang dia sudah kabur dari sana," ungkap Andriana memberitahu.
"Dia sudah kabur dari sana?" Aldo tercengang mendengarnya. "Kalau begitu pak Abraham benar-benar akan membunuhnya." Lanjutnya kemudian.
"Kamu terlihat begitu yakin." Ucap Andriana,matanya kini fokus menatap wajah lawan bicaranya itu.
"Ya tuhan,aku baru menyadari ternyata dia lelaki yang tampan,cukup tampan untuk di jadikan suami kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu? Tubuhnya juga sangat... Ah,aku tidak bisa membayangkannya dan lagi pikiran gila apa ini?" Andriana berbicara dalam hatinya,Aldo sendiri heran melihat wanita itu yang terus menatapnya tanpa berkedip. Andriana akhirnya sadar juga dari lamunannya.
"Kamu? Kamu ngapain liatin saya seperti itu?" mendengar pertanyaan Andriana yang menurutnya sama sekali tidak pantas itu Aldo tertawa sekilas, "Sepertinya pertanyaan itu lebih pantas untuk anda sendiri nona,kenapa menatap saya tanpa berkedip? Dan lagi ekspresi itu sepertinya anda sedang mengagumi sesuatu," jelas Aldo,lelaki itu sepertinya tahu apa yang di pikirkan Andriana.
"Aku memang menatap wajah kamu tadi itu,tapi aku sedang memikirkan hal lain." Andriana membela diri
"Jangan pernah berpikir untuk menikahi saya,saya ini masih berumur 36 tahun sedangkan kamu sendiri 40 lebih mungkin ya,saya juga tidak tahu kita berbeda jauh,dan saya juga tidak mau menikahi tante-tante," cibiran dari Aldo sukses membuat wajah Andriana bersemu merah,wanita itu benar-benar malu dia tidak bisa menahan amarahnya lagi.
__ADS_1
"Eh,siapa juga yang mikir sampe sejauh itu,dengar ya! Gini-gini masih banyak lelaki yang mau sama saya! Dan tadi kamu bilang apa? Tante,tante kamu bilang? Nggak lihat kalau wajah saya ini terlihat lebih muda dari pada kamu." Andriana kesal dan langsung pergi dari sana,padahal mereka belum selesai membahas soal pak Abraham,moodnya sekarang hilang cuma gara-gara lelaki nyebelin itu.
"Dia kira aku nggak laku apa? Aku saja yang tidak mau,kalau aku mau sekarang aku sudah memiliki sepuluh suami,dia pikir tidak ada yang menginginkan aku sembarangan memang kalau bicara." Andriana terus mengomel sendiri,dia menutup pintu kamar Aldo dengan keras hingga pria itu di buat kaget olehnya.