
"Tante,bagaimana aku bisa ada di sini,seingat aku tadi ada seseorang...
"Itu orang suruhannya tante." Tante Anita buru-buru menjawab sebelum Diana sempat menyelesaikan ucapannya. "Maafkan tante,kamu pasti sangat kaget," lanjutnya lagi.
"Dea dan Angga pasti sangat khawatir karena melihat aku tidak kunjung datang juga," ungkap Diana resah,pandangannya hanya menatap kosong ke depan.
"Kamu tenang aja,tante sudah menghubungi Dea tadi,jadi dia tidak akan khawatir lagi,mungkin mereka juga sedang menuju ke sini."
Mendengar perkataan tante Anita,Diana sudah lebih tenang.
"Nah! Itu pasti Dea,tante keluar sebentar ya." Tante Anita langsung keluar begitu mendengar suara klakson mobilnya Dea,dia sudah bisa menebak putrinya itu pasti bakalan ngomel-ngomel karena perbuatannya yang membawa pergi Diana seperti penculik.
\*\*\*\*\*\*
"Syukur yang menculik kamu tante Anita,coba kalau orang suruhannya tante Sofi bisa gawat ceritanya." Ujar Angga senang,karena sekarang Diana sudah berada di depan matanya.
"Iya,mama lain kali jangan melakukan hal yang membuat kita jadi sangat khawatir," sungut Dea sambil memonyongkan mulutnya.
"Iya deh,mama yang salah mama minta maaf,tapi kalian juga harus berterimakasih sama mama,kan mama sudah ikut melancarkan rencana kalian."
"Lancar apanya? Mama itu hampir saja membuat semuanya kacau." Dea masih terlihat kesal.
"Tante,aku nggak mau tinggal di sini,tolong bawa aku pergi dari sini!" pinta Diana,permintaannya ini di anggap tidak benar oleh tante Anita,karena di tempat lain belum tentu aman untuk dirinya.
"Kenapa harus pergi,di tempat ini akan membuat kamu aman,tidak ada yang tahu tempat ini Diana." Ucap tante Anita berusaha mencegah niat Diana.
"Iya benar,kamu lebih aman di sini karena besok orang-orang suruhannya tante Sofi pasti bakal nyari kamu." Angga ikut meyakinkan.
"Tidak,bukan orang suruhan tante Sofi melainkan orang suruhannya tuan Abraham,kakek kamu Diana." Dea menyangkal ucapan Angga,karena tante Sofi itu hanya di suruh oleh ayah mertuanya sendiri.
"Kamu tahu cukup banyak tentang masalah ini Dea,ternyata kamu sudah cukup dewasa untuk bekerja sama dengan om Andra," sindir mamanya sambil tersenyum penuh arti ke arah Dea.
"Aku tahu kalau selama ini mama selalu mengikutiku,kan?" Dea menatap penuh selidik ke arah mamanya.
Anita tidak langsung menjawabnya,dia hanya tersenyum,dan senyumannya itu sudah memberi jawaban iya pada Dea.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku?" usul Angga,mendengar usulannya itu membuat mereka bertiga menatap tidak percaya ke arahnya. "Kamu cukup pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan nak Angga." Ucap tante Anita dengan lembutnya,lembut tapi menusuk.
"Kamu tidak bisa di percaya,kamu memang sangat mengkhawatirkan keadaan Diana. Tapi,dengan membiarkannya tinggal di rumah kamu itu sama saja memberikan kamu peluang." Dea rupanya tidak setuju dengan usulan Angga..
__ADS_1
"Jadi kamu juga tidak percaya padaku?"
"Bukan tidak percaya,kamu itu kan laki-laki yang..." Dea menggantungkan ucapannya sambil melihat Angga dari atas sampai bawah. "Pikirlah sendiri!" sambungnya lagi.
Hampir saja Angga menarik bibirnya itu,kalau saja tante Anita tidak ada di sini dia pasti sudah melakukannya,Dea sangat senang membuat orang naik darah.
"Sudah jangan berdebat lagi! Sebelumnya aku sangat berterima kasih sama kamu Angga,kamu sangat baik,tapi aku juga tidak mau menyeret kamu dan keluarga kamu ke dalam masalah aku,lagi pula aku sudah menemukan tempat di mana aku akan benar-benar aman." Ucap Diana kemudian,dia juga pusing mendengar dua temannya terus berdebat dari tadi.
"Ke mana???" Mereka bertanya serempak.
"Ke kampungnya bi Murni."
"Dia kan dulunya juga bekerja di tempatnya keluarga Indra." Tante Anita masih tidak yakin dengan keputusan Diana.
"Di sana aman kok,tante tenang saja" Diana meyakinkan.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengantarkan kamu," Angga menawarkan diri.
"Jangan,biar aku saja! Kan aku sahabatnya." Dea tidak setuju.
"Tidak apa-apa Dea,biar Angga saja. Kamu ikut mama besok,ada hal penting yang harus kita urus." Cegah bu Anita sambil mengedipkan matanya ke arah Dea,sepertinya wanita itu setuju kalau Angga bisa lebih dekat dengan Diana.
"Dea biar tidur di sini ma,kangen sama Diana." Ujar Dea sambil memeluk penuh kasih sahabatnya.
"Sepertinya Angga sangat menyukai kamu Diana," ucap Dea,saat cowok itu sudah tidak ada lagi di sana.
"Nggak mungkin,cuma perasaan kamu kali," sahut Diana,dia masih kurang yakin meski dia sendiri sudah berkali-kali memergoki Angga sedang curi-curi pandang ke arahnya.
"Tante rasa Dea benar," kini giliran tante Anita yang mengutarakan pendapatnya,wanita itu juga bisa merasakan kalau Angga memang menyimpan rasa untuk Diana
\[\[\[\[\*\*\*••••\*\*\*\*\]\]\]\]
"Tante,Diana kangen sama om Doni,boleh tidak Diana ketemu sama om?" pinta gadis itu saat Angga sudah membuka pintu mobil untuknya.
Sesaat tante Anita melirik ke arah Dea,baru kemudian menjawabnya. "Om masih berada di luar kota sayang,nanti kalau sudah pulang tante suruh buat nengokin kamu di sana."
Mendengar jawaban tante Anita,Diana menghela nafas panjang,dia sepertinya kecewa.
Diana sangat ingin bertemu om Doni tapi tidak bisa,dia harus menunggu lagi.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada Dea dan Anita,Diana langsung masuk ke mobil Angga,mereka akan pergi ke kampung bi Murni,di sana memang akan menjadi tempat yang aman untuk Diana,sebab mereka (suruhannya Indra) tidak mungkin pergi ke sana.
\[\[\[\*\*\*\*\*\*\]\]\]\]
Pagi ini di kediaman Indra Alexander suasana menjadi sangat kacau,karena Diana tiba-tiba hilang dari kamarnya.
"Dia pasti kabur dari rumah ini mas,mana mungkin di culik,emang siapa yang mau culik dia?" bu Sofia ikutan marah sama suaminya karena terus bilang kalau Diana itu di culik.
"Kabur? Dia kabur itu pasti ada alasannya,apa yang kamu lakukan sama dia? pak Indra mencengkeram erat tangan istrinya,tatapannya tajam.
"Aku tidak melakukan apa pun sama dia,mungkin dia aja yang nggak betah tinggal di sini lagi." Bu Sofia mencoba membela diri supaya kejahatan yang di lakukannya pada Diana tidak terbongkar.
Ariska ingin mengatakan yang sebenarnya tapi mamanya terus melihat ke arahnya,dia hanya bisa diam,tatapan mata Sofia seolah menyuruhnya untuk tutup mulut.
"Ariska,kamu pasti tahu Diana di mana,beberapa hari terakhir ini kalian sangat dekat,kamu tahu Diana di mana?" tanya papanya,sekarang saatnya Ariska jujur,tapi apakah papa bisa di percaya,dia tidak tahu kalau belum mengatakan kebenarannya.
"Maafkan Ariska ma," ucap gadis itu pada mamanya sebelum menjawab pertanyaan dari papanya. "Semalam Diana kabur,dia pergi dari rumah ini," Ariska mulai terisak saat kembali teringat wajah Diana yang lebam dan punggungnya yang terluka.
"Apa? Kamu bilang dia kabur? Kamu biarin dia pergi begitu saja,kenapa tidak mencegahnya?" suara lelaki itu menggelegar memenuhi seluruh ruangan,ternyata kalau sedang marah papanya itu lebih menakutkan daripada singa,uupss... tante Sofia maksudnya.
"Jadi kamu tahu kalau Diana kabur semalam? Kamu yang sudah membuat dia pergi dari rumah ini,kenapa kamu bisa bertindak sebodoh itu?" giliran mamanya yang marah-marah. Kenapa mamanya harus marah,ini semua terjadi juga karena mamanya itu. Ariska tidak rela dirinya di marahi,jadi tanpa pikir panjang lagi dia langsung mengatakan kejadian semalam pada papanya.
"Papa tahu,Diana juga tidak akan kabur seperti itu kalau mama tidak pernah menyiksanya di belakang papa,tapi apa yang mama lakukan? Di belakang kita mama menjadikan Diana seperti binatang!" ungkap Ariska membeberkan semua kejahatan mamanya.
"Ja... Jadi selama ini kamu menyiksa dia di belakang aku? Kamu berlaku kejam kepada Diana?" tanya lelaki itu hampir tidak percaya dengan omongan Ariska,suaranya semakin keras benar-benar membuat musuh gentar,tante Sofia terlihat takut tapi dia masih berusaha berdiri dengan tegaknya seolah tidak takut dengan bentakan suaminya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipinya,bu Sofia memegang pipinya yang kesakitan,dia kaget,puluhan tahun mereka menikah suaminya tidak pernah sekalipun berlaku kasar kepadanya, tapi kali ini hanya karena Diana seorang,suaminya itu tega menamparnya.
Ariska bukannya kasihan melihat mamanya,dia malah berkata dengan sinis. "Sakit ya,ma? Diana merasakan yang lebih parah daripada itu,semalam mama menamparnya berkali-kali hingga wajahnya lebam dan kemudian memukul tubuhnya dengan kayu." Ucap Ariska,dia menangis lagi dan kini kakinya terasa lemah,hingga dia tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri,Ariska akhirnya terduduk lemas lantai.
"Kamu benar-benar tidak punya hati Sofia,sekarang kamu pergi dari hadapanku,pergi!" usir pak Indra,dia sangat marah dengan istrinya,mungkin jika bu Sofia tidak langsung pergi entah apa yang akan terjadi,yang jelas bukan lagi tamparan,mungkin lebih buruk dari itu.
__ADS_1