
Lelaki itu duduk termenung di depan kamar Diana tidak di sangkanya sama sekali bahwa kamar yang terlihat indah dari luar ternyata di dalamnya sangat miris.
Air matanya menetes keluar tidak dapat di bendung,belasan tahun Diana hidup dengan mereka ternyata beginilah perlakuan istrinya,lelaki itu tidak bisa menyalahkan sang istri sepenuhnya,sebab dia sendiri sebenarnya juga mengabaikan Diana.
Pak Indra kembali menatap tempat tidur Diana,ranjang yang terbuat dari kayu dan hanya beralaskan tikar saja,juga dengan bantal yang bahkan tidak layak di pakai lagi,pasti sangat sulit tidur di atas ranjang seperti itu. Tubuhnya akan terasa sakit-sakitan saat bangun dari tidur.
"Maafkan om,Diana." Lelaki itu menyesal.
Dari arah kejauhan tampak Ariska yang baru keluar dari pintu belakang rumahnya,kelihatannya gadis itu baru pulang dari kampus. Dia langsung saja menghampiri papanya yang terduduk lesu di depan pintu kamar Diana.
"Papa pasti merasa sangat bersalah sama Diana kan?"
"Papa sudah gagal memberikan kebahagian untuk Diana,di depan papa mama kamu itu hanya memarahi dia saja,tapi nggak tahunya di belakang papa,mama kamu benar-benar kejam sama dia,"
"Papa benar,mama memang kejam sangat kejam malah,padahal kamar ini lebih buruk dari pada kamar bi Murni. Bi Murni yang hanya asisten rumah tangga saja dapat kamar yang cukup bagus,sedangkan diana---" Ariska tidak melanjutkannya lagi.
"Papa juga salah Riska,papa bahkan tidak pernah ke sini untuk melihat kondisi Diana,saat mama kamu meminta pada papa supaya Diana tinggal di belakang papa mengizinkan saja,mama bilang biar Diana lebih tenang karena kamar ini berhadapan dengan taman,itu alasan mama kamu,nggak tahunya dia menipu kita semua." Pak Indra masih marah pada istrinya.
"Kalau papa sudah tahu bahwa papa juga ikut bersalah atas apa yang telah menimpa Diana,lebih baik papa pergi cari dia untuk meminta maaf,kalau tidak maka papa akan di hantui rasa bersalah seumur hidup." Tutur Ariska mengingatkan.
Rupanya kedatangan dia itu bukan untuk menenangkan papanya,melainkan membuat papanya semakin di rundung rasa bersalah,dia sedang menabur garam di atas luka. Meski apa yang di bilang dia itu benar,tapi setidaknya dia cari kata-kata yang tepat sebelum mengatakannya.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Andriana melangkah pelan mendekati kakaknya yang sedang menikmati pemandangan malam di balkon rumahnya.
"Kamu habis dari mana?" tanya pak Andra saat menyadari kedatangan adiknya.
"Aku baru saja pulang dari kediaman Winda,pergi menjenguk Aldo. Kondisinya saat ini sudah berangsur-angsur membaik dan aku rasa besok sudah bisa menggali sedikit informasi dari dia." Tutur Andriana. pak Andra hanya mendengarkan saja lelaki itu tidak merespon sama sekali.
"Mas Andra sedang mikirin apa sih? Sejak tadi diam saja."
"Kapan kita bisa hidup dengan tenang?" desah lelaki itu,wajahnya terlihat murung.
"Selama si tua Abraham belum mati,maka hidup kita tidak akan pernah tenang."
"Haruskah kita minta bantuan sama papa?" tanya pak Andra meminta pendapat adiknya.
"Mas nggak tahu ya,tanpa kita minta pun selama ini papa juga selalu ngebantuin kita." Ujar Andriana mengulas senyum tipis di bibirnya,senyuman yang membuat orang merasa penasaran saat melihatnya.
"Ada apa dengan senyuman ini? Banyak yang bilang kalau senyuman aku itu sangat menawan." Puji Andriana.
"Apanya yang menawan,senyuman kamu itu seolah-olah menyimpan banyak rahasia,penuh misteri. Kamu itu cuma akan membuat orang lain penasaran," apa yang di katakan pak Andra itu adalah kata hatinya sendiri,dia masih sangat penasaran dengan adiknya,bagaimana bisa dia tahu banyak hal tentang pak Abraham.
"Mas Andra pasti penasaran kan? Kenapa aku tahu banyak hal tentang tuan Abraham,daripada mas Andra sendiri," mendengar perkataan adiknya pak Andra sangat kaget,bahkan Andriana bisa mengetahui isi hatinya sehebat itu kah dia?
"Kenapa kamu tahu isi hati aku?"
"Menebak saja,semua ini juga berkat bantuan papa,meski papa dan mama tinggal di korea,tapi papa terus menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu informasi tentang pak Abraham.
"Kalau begitu apa papa juga tahu di mana keberadaan lelaki tua itu?"
__ADS_1
"Nah kalau soal ini papa belum tahu,aku juga belum ngasih kabar ke papa kalau Diana sudah keluar dari rumah pak Indra."
Andra kemudian diam,mereka berdua sama-sama diam sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu lihat tidak bintang itu?" tunjuk pak Andra ke arah bintang yang paling bersinar di antara yang lain.
"Iya,aku melihatnya itu adalah bintang yang paling bersinar di antara yang lainnya," lirih Andriana dia tiba-tiba teringat Naumi,mamanya Diana.
"Saat kita masih kecil-kecil dulu,kita sangat sering melihat bintang-bintang dan kemudian menghitungnya."
"Dan Naumi selalu bilang kalau dia ingin menjadi bintang yang paling bersinar," sambung Andriana.
"Saat itu kita selalu menertawainya,tapi kita sangat bahagia selalu bahagia,hingga dia dewasa dan kemudian melawan perintah papa dengan membatalkan pertunangannya dengan johan. Saat itu keluarga kita jadi kacau,kita bahkan mengusirnya dari rumah dan membenci dia sampai dia pergi untuk selamanya." Lelaki itu kembali mengenang masa lalu mereka, dia kemudian terdiam untuk beberapa menit. Andriana hanya melihatnya saja,tak lama setelah itu,air mata yang tadi terus di bendung pak Andra jatuh begitu saja.
Andriana merasa kasihan melihat kakaknya,dia berusaha menghiburnya. "Mas Andra,apa atap rumah kita bocor? Air apa yang jatuh di atas celanamu?" tanya Andriana berlagak bodoh saat melihat ada air yang menetes di atas celana berwarna abu-abu yang pak Andra pakai.
"Dasar bodoh,pergi sana!!" bentak pak Andra,padahal adiknya itu cuma berniat untuk menghiburnya saja,nggak tahunya pak Andra malah marah.
"Aku kan cuma bercanda mas." Andriana membela diri.
"Pergi cepat!" usirnya. "Dasar perawan tua!!!" tambah pak Andra lagi.
"Mas Andra tu,dasar duda!" Andriana tidak mau kalah.
"Perawan tua!"
"Duda nggak laku!" seru Andriana,dia langsung mengambil ancang-ancang dan kabur dari sana saat melihat wajah kakaknya itu sudah benar-benar merah,emosinya sudah mencapai level akhir,tentu saja bukan lagi tamparan yang akan di terimanya bisa jadi wajah dia yang masih terlihat cantik itu bakal kena imbasnya juga
__ADS_1
"Padahalkan aku niatnya mau menghibur saja,eh rupanya salah teknik deh,tapi aneh juga melihat mas Andra nangis. Lelaki berwajah dingin yang sedingin es batu tapi ternyata hatinya hello Kitty," gumam Andriana dia kemudian tertawa sambil terus menuruni tangga satu persatu.