
"Jangan terlalu sering melamun,papa sudah pulang dan ingin ngobrol sama kamu." Ariska tiba-tiba saja datang dan membuat Diana kaget,dia buru-buru menghapus air matanya agar Ariska tidak tahu kalau dia baru saja habis menangis.
"Om sudah pulang?" tanya Diana tidak bersemangat.
"Iya,sekarang papa ingin membicarakan sesuatu sama kamu,katanya penting." Ucap Ariska,dia tersenyum manis saat itu,entah apa yang membuatnya tersenyum.
"Mengapa tersenyum seperti itu?" Diana bertanya.
"Kamu habis nangis kan? Jangan bohong! Dari mata saja sudah terlihat jelas,pasti teringat bi Murni iya kan?" apa yang di katakan Ariska memang benar sekali dia tidak salah,Diana memang memikirkan bi Murni,karena hanya wanita itu tempatnya berkeluh kesah. Tapi,sekarang wanita itu juga harus pergi.
"Iya kamu benar,aku memang teringat bi Murni, dan soal om Indra yang ingin bertemu dengan aku,katakan saja kalau aku sedang tidak enak badan,lagian om juga baru pulang dari tempat yang jauh,pastinya sangat lelah. Bilang saja aku akan menemuinya setelah om istirahat bisa kan?" pinta Diana,sebenarnya dia memang tidak ingin menemui lelaki itu. Sebab,nanti tante Sofia pasti akan berada di sana untuk terus mengawasinya.
Diana kembali melakukan pekerjaannya setelah kepergian Ariska,kali ini dia tidak akan berhenti dan istirahat sebelum pekerjaannya selesai,dia sudah berjanji pada bibi,harus bisa keluar dari rumah itu jangan sampai dia melakukan kesalahan lagi.
°••••~~~•••°°°
"Kamu ke sini lagi Dea,apa kamu yakin tidak ada yang mengikuti?" tanya pak Andra saat Dea kembali datang ke kantornya,padahal lelaki itu sama sekali tidak menyuruhnya untuk datang ke sana.
"Hari ini tidak ada om,aku punya informasi baru untuk om Andra." Jawab Dea,dia terlihat sangat bersemangat untuk mengatakan informasi baru pada lelaki itu.
"Soal apa?"
"Beberapa hari yang lalu saat aku pergi dengan Diana dan Ariska,aku melihat ada seseorang yang terus mengikuti kami dan apa om tau siapa orang itu?" tanya Dea,dia ingin lelaki itu menebaknya dengan benar.
"Sudah tentu orang suruhan papa kamu,atau suruhan keluarga Indra Alexander." Jawab pak Andra,tapi jawabannya salah semua.
"Salah,itu adalah orang suruhannya mama."
"Mama kamu melakukan hal seperti itu? Tidak mungkin,dia bukan tipe orang yang suka memata-matai." Pak Andra tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dea,karena setahu dia bu Anita lebih suka menyuruh suaminya untuk mencari keberadaan Diana,kalau benar bu Anita yang menyuruh seseorang memantau Dea,berarti lambat laun dia akan tahu di mana keberadaannya Diana.
"Bagaimana kamu tahu kalau itu orang suruhan mama kamu?" tanya Andra penuh selidik.
"Aku sempat melihat lambang di leher lelaki itu."
"Lambang apa?" pak Andra semakin penasaran.
"Petir,semua orang yang bekerja untuk mama memiliki lambang itu,jadi kalau om bertemu dengan orang yang memiliki lambang petir di lehernya Dea harap om berhati-hati," pesan Dea mengingatkan.
"Kenapa? Saya tidak punya urusan dengan keluarga kamu."
__ADS_1
"Takutnya nanti di sambar ahaha..." Dea tertawa ngakak sebelum akhirnya pergi dengan mengulas senyum di bibirnya,karena berhasil membuat pak Andra kesal.
"Sial... Sepertinya anak itu sedang membohongiku," ujar pak Andra pada dirinya sendiri,tingkah usil Dea membuatnya kesal. "Anak itu datang dan pergi seenaknya saja,benar-benar tidak jelas" monolog Andra.
"Tapi,apa mungkin Anita menyuruh seseorang untuk memata-matai Dea? Aku harus menyelidikinya sendiri," tekadnya.
\*••°°°.
Setelah keluar dari kantornya pak Andra,Dea langsung pergi menuju kediaman Ariska,dia hari ini ingin menghabiskan waktu dengan Diana,dia sudah berencana akan membawa Diana pergi jalan-jalan hari ini. Caranya ya dengan memanfaatkan Ariska temannya.
Dea masih terus menunggu di mobilnya,tapi Diana dan Ariska belum datang juga,mereka sangat lama.
"Maaf membuat kamu menunggu begitu lama." Ucap Ariska saat dirinya sudah berada dalam mobil Dea bersama Diana.
"Tidak apa-apa,tapi mengapa begitu lama?" tanya Ariska heran.
"Diana,mengapa kamu memakai baju itu lagi,bukankah aku sudah bilang beberapa hari yang lalu sebelum mengantarkan kalian pulang, kalau nanti kita keluar untuk jalan-jalan lagi,tolong pakai baju yang lebih layak,baju kamu terlihat tidak bagus lagi untuk di pakai." Ucap Dea gamblang. Dia tidak sadar kalau perkataannya itu, membuat Diana sedih,Diana hanya diam tidak tahu bagaimana cara menjawabnya,hingga akhirnya Ariska yang berbicara.
"Mungkin Diana lebih suka memakai baju ini daripada yang lain,iya kan Di?" Ariska meminta pendapat Diana.
"Iya benar,aku lebih nyaman memakai baju ini daripada yang lain." tambah Diana membenarkan ucapan Ariska.
"Om sama tante,sering beliin kamu baju baru kan?" Dea kembali bertanya,sebenarnya Diana tidak tahu untuk apa Dea menanyakan hal seperti itu padanya di depan Ariska.
"Dea... kapan kita akan berangkat? Dari tadi kamu nanya terus,udah pertanyaan kamu tidak penting lagi" Ariska yang dari tadi diam,berusaha mengalihkan topik pembicaraan,dia merasa kalau Dea sedang menyelidiki sesuatu.
"Kita ke toko baju dulu,aku ingin hari ini Diana memakai pakaian yang cantik,nggak adil dong kalau kita pakai baju bagus begini sedangkan dia...???" Dea tidak melanjutkan ucapannya,dia langsung menghidupkan mesin mobil dan berlalu pergi dari kawasan rumah Ariska.
__ADS_1
\*\*\*••^..^••\*\*\*
"Nah,gini ni baru cantik,sudah ambil ini saja!" Dea menyuruh Diana mengambil baju berwarna pink soft itu untuk dia pakai,baju itu terlihat cantik saat dikenakannya dan Diana juga terlihat senang memakainya.
"Makasih Dea. Tapi bajunya terlalu mahal," ucap Diana dia tidak mau membuat Dea mengeluarkan uangnya hanya untuk membelikan dia baju semahal itu.
"Memang berapa harganya." Tanya Ariska,dia sudah berdiri di sana dan melihat Dea hendak membayarkan pakaian yang di pakai Diana.
"Satu juta!" Mereka berdua menjawab serempak.
"Lah,harga segitu doang aku sendiri bisa bayar kok,kamu tidak perlu mengeluarkan duit kamu Dea. Diana itu sepupu aku,dan aku tidak mau kamu membuat Diana punya hutang sama kamu." Ariska berlagak sok marah,kemudian gadis itu langsung membayar baju yang di beli Diana.
"Semua sudah beres kan? Ayo kita pergi,jangan buang-buang waktu lagi!" ajak ariska bersemangat.
Mereka kemudian pergi menuju restoran terdekat untuk makan siang,hari ini mereka akan menghabiskan waktu sepanjang hari untuk keliling kota.
\*\*\*••••~\>
Diana masih duduk di sana seorang diri,Dea dan Ariska saat itu sedang pergi sebentar untuk membeli minuman,jadi dia hanya bisa menunggu di sana.
"Hei... Kamu Diana kan?" tanya seorang cowok yang kini sudah ada di depannya. Sesaat Diana terpaku melihat ketampanan wajah pemuda di depannya,tanpa menunggu jawaban dari Diana dia langsung duduk di samping gadis itu.
"Kamu siapa?" tanya Diana heran,dia benar-benar tidak mengingat sedikit pun tentang cowok itu,di mana dia pernah bertemu dengannya Diana tidak ingat.
"Aku Angga,dulu saat masih SMA kelas dua,kita pernah satu kelas kamu tidak lupa,kan?"
"Maaf,aku benar-benar tidak ingat." Jawab Diana jujur.
"Kamu benar-benar tidak ingat?" Angga masih tidak percaya.
"Tidak,aku benar-benar lupa,aku bahkan tidak tahu kalau di kelas ada yang namanya Angga," jawaban Diana membuat hati Angga benar-benar kecewa,sebenarnya dia sudah menyukai Diana sejak lama,dan sekarang bisa bertemu kembali tapi dia malah tidak mengenalnya,ini menyakitkan sangat menyakitkan.
__ADS_1