
Begitu pembicaraannya dengan om Indra selesai,Diana langsung keluar dari rumah itu melewati pintu belakang dan masuk kembali ke dalam kamarnya yang memang terletak di belakang rumah tersebut.
Dia tidak ingin dirinya sampai bertemu dengan tante Sofia,dia takut hal buruk akan terjadi.
"Sudah selesai bicaranya,ya?" tanya wanita itu yang ternyata sudah berada di dalam kamar Diana. Gadis itu kaget kakinya terasa kaku dan lemah,tak bisa di gerakkan dia mematung di tempatnya.
"Tan... Tante ngapain di sini?" ketakutan telah menyelimutinya,Diana gemetaran apalagi saat melihat tante Sofia membawa kayu kecil untuk memukulnya,ukuran kayu itu memang kecil,tapi jangan tanya bagaimana rasa sakitnya,itu sangat menyakitkan.
"Tante jangan berbuat macam-macam sama aku kalau tante nggak mau aku adukan hal ini sama om Indra." Diana mulai mengancam,dia mundur beberapa langkah,sebenarnya saat itu dia sedang mencari cara untuk keluar.
"Coba saja kalau kamu berani,kamu sudah tahu apa konsekuensinya kan?" tanya Sofia memperlihatkan seringai jahatnya.
Diana tidak mau berlama-lama lagi di sana,tante Sofi saat ini sudah seperti orang gila di matanya,Diana langsung memutar gagang pintu kamarnya hendak keluar,namun dengan cepat tante Sofia menarik rambutnya hingga dia terjatuh ke lantai.
PLAK!
PLAK !! Satu tamparan,dua tamparan.
PLAK ! Dan tiga tamparan membuat Diana benar-benar pusing,setelah itu tante Sofi mengangkat tinggi-tinggi kayu di tangannya hendak memukul Diana,namun tiba-tiba....
"Hentikan ma!" Ariska datang,dia datang tepat waktu,tante Sofi berhenti sejenak dan menatap anaknya,namun aneh dia bahkan terlihat biasa saja di depan Ariska,bukannya berhenti tapi malah meneruskan niatnya tadi.
**Bukk**!
__ADS_1
Kayu itu tepat mengenai punggung Diana. "Akh!" dia berteriak kesakitan. "Ampun tante,Diana minta maaf." Tangisnya pecah,badannya masih penuh dengan luka,belum benar-benar sembuh,dan sekarang di pukul lagi,ini terasa lebih menyakitkan, satu kali pukulan tadi sudah seperti sepuluh kali pukulan Tante Sofi beberapa bulan yang lalu.
"Mama sudah benar-benar nggak waras," ucap Ariska sambil memeluk tubuh Diana yang sudah lemah,Diana bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi,pukulan tadi seperti telah meremukkan tulang-tulangnya.
"Kamu mau membela dia? Kamu mau sekalian mama pukul?" teriak wanita itu.
"Pukul! Pukul aku saja! Dia sudah cukup menderita selama ini." Ariska menjawab lantang,dia masih memeluk Diana dan menangis,dia takut sangat takut jika Diana tidak sadarkan diri.
"Urus dia!" wanita itu langsung pergi begitu saja,saat dirinya menerima telefon entah dari siapa,tapi Ariska sempat mendengar mamanya berkata. "Saya sudah mengurusnya,pa." Hanya itu yang dia dengar,karena mamanya sudah menjauh dari kamar Diana.
Ariska mengambil kain untuk membersihkan darah yang masih mengalir dari sudut bibir Diana,dia menangis sesenggukan,Diana masih belum bangun,dia ingin mengambil kotak obat,tapi tidak berani masuk ke rumah.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Diana bangun,jangan tidur! Katakan apa yang harus aku lakukan!" Ariska semakin khawatir dengan kondisi sepupunya.
"Aku hanya tidur,tidak apa-apa jangan menangis lagi,lagian aku juga nggak bakalan mati di sini." Diana yang sudah sadar langsung menjawabnya. Ariska tersenyum di sela-sela tangisnya.
"Aku harus pergi dari sini Ariska,bantu aku pergi dari rumah ini,aku tidak ingin mati disini," pinta Diana memohon.
"Tapi,bagaimana bisa kamu pergi dengan kondisi seperti ini? Dan lagi,di luar sana pasti banyak orang yang sedang mengincar kamu,rumah ini di jaga ketat oleh orang-orang suruhannya mama sama papa." Ucap Ariska memberitahu.
"Kamu kenal orang suruhannya papa kamu?" tanya Diana.
"Mereka yang bertugas menjaga gerbang belakang sedangkan orang suruhan mama,menjaga gerbang depan.
"Aku akan keluar dengan memanjat gerbang belakang," ucap Diana.
__ADS_1
"Bagaimana kalau mereka tahu dan menangkap kamu? Kita cari cara lain saja besok,ya!" cegah Ariska. "Kamu nggak mau ketahuan sama mereka kan?"
"Menunggu hingga esok pun belum tentu aku selamat," jawabnya kemudian. Diana benar,hari esok bisa jadi lebih parah dari pada malam ini.
"Kali ini saja,tolong bantu aku!" pinta Diana penuh harap.
"Baiklah,aku akan menelefon Dea dan Angga dulu" akhirnya ariska mau membantu Diana,meskipun dia kurang yakin.
\*\*\*\*\*
"Kamu harus ingat,sampai di perempatan sana kamu harus lebih berhati-hati,jangan sampai menarik perhatian orang lain,karena belum tentu orang suruhan mama hanya berjaga di sini. Ingat ya,mobil warna merah di kendarai Dea,dan Angga mengendarai mobil warna hitam,kamu harus hati-hati!" pesan Ariska sekali lagi.
"Iya aku janji aku akan sangat hati-hati,terimakasih Ariska kamu ternyata sangat baik,maaf dulu aku pernah salah sangka sama kamu." Diana tidak kuasa membendung air matanya,dia memeluk Ariska dengan erat sebelum akhirnya pergi,meski sangat susah memanjat pagar itu,tapi akhirnya dia berhasil juga melewatinya. Ariska masih berdiri di sana menatap kepergian Diana,hingga sosoknya hilang di telan kegelapan. Sebenarnya Ariska merasa sedikit heran dengan penjaga gerbang belakang itu,mereka sepertinya menyadari kepergian Diana,tapi mengapa tidak menangkapnya? Benar-benar aneh,mungkinkah benar apa yang di lakukan mamanya selama ini tidak pernah di ketahui oleh papanya.? Masih menjadi tanda tanya.
\*\*\*\*\*
Baru saja Diana hendak menyeberangi jalan raya karena melihat mobil Angga ada di sana,tiba-tiba saja seseorang datang dari arah belakangnya dan dia membekap mulut Diana,membuat Diana sudah tidak sadarkan diri lagi,gadis itu sudah berada dibawah pengaruh obat bius. Siapa orang itu? Kenapa menculiknya? Apakah itu orang suruhannya tante Sofi?
"Diana kamu sudah bangun sayang," seorang wanita kini sudah duduk di sampingnya. Diana baru sadar dan pandangannya masih belum jelas.
"Dimana aku?" Diana tampak takut dan seperti ingin menangis kembali. Namun,tante memegang kedua tangannya dan menyuruh Diana untuk menatap wajahnya agar dia tahu bahwa wanita itu adalah tante Anita,mamanya Dea.
"Lihat..! Lihat tante! Tante bukan orang jahat,ini tante Anita," ungkapnya kemudian.
Begitu Diana menyadarinya dia langsung memeluk wanita itu,bertahun-tahun dia sangat merindukan tantenya,wanita yang sudah seperti ibunya sendiri,meski Diana hanya di rawat setahun lebih oleh keluarga Dea,namun dia dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari mereka,dia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari keluarga Dea mereka saling menyayangi.
__ADS_1
"Maaf... Maafkan tante karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik,tante bersalah sama kamu,tante sudah membuat kamu sangat menderita." Bu Anita menangis pilu,rasa bersalah bertahun-tahun yang selalu menghantuinya kini perlahan-lahan menghilang setelah dia bertemu kembali dengan Diana.
"Sakit,pelukan tante terlalu erat,punggung Diana sakit," lirih Diana,wajahnya memerah karena menahan sakit,tante Anita langsung melepaskan pelukannya. Dengan wajah sedih bercampur marah dia berkata. "Maafkan tante,tadi tante sudah mengobati luka kamu,tante juga akan membalaskan apa yang telah Sofia lakukan pada kamu." Tekadnya sudah bulat,dia akan membuat keluarga Indra hancur.