
Andriana sangat kaget begitu masuk ke rumah Winda,dia tidak menyangka Aldo duduk begitu santainya di rumah itu sambil memakan mie instan dan dengan angkuhnya dia meletakkan kakinya di atas meja,oh ya ampun benar-benar menjengkelkan.
"Ngapain bengong di sana?" tanya Aldo,dia sudah menyadari kedatangan Andriana.
Andriana langsung menghampiri Aldo dan dengan kasar menepis kaki lelaki itu hingga jatuh ke atas lantai.
"Begitu lebih baik," ucap wanita itu.
"Kenapa masih berkeliaran sampai sekarang,mestinya kamu itu sudah tidak di sini lagi,ini bukan lagi duniamu," ucap Aldo,tapi pandangannya tetap fokus ke depan bukan ke arah Andriana.
"Kamu bicara sama siapa?" Andriana mulai merasa ada yang aneh dengan ucapan Aldo.
"Memangnya di sini ada orang lain selain kamu?" Aldo balik nanya.
"Ya tidak ada tapi cara kamu bicara tadi tidak seperti orang yang sedang bicara dengan manusia," jawab Andriana.
"Sama setan maksud kamu?"
"Ya begitulah," Andriana menjawab sekilas.
"Kamu dong setannya." Aldo tertawa lepas setelah mengatakannya. Andriana sekarang merasa malu setelah menjawabnya,dia itu kemakan omongannya sendiri.
"Sialan ni orang,awas aja dia ya sengaja bikin aku naik darah pagi-pagi begini," batin Andriana kesal.
"Kenapa pertanyaan aku tidak di jawab?" tanya Aldo mengalihkan pandangannya ke arah Andriana.
"Pertanyaan yang mana?" wanita itu bingung.
"Kenapa masih berkeliaran sampai sekarang? Apa aku harus mengulang pertanyaan yang sama lagi?"
"Owh,jadi itu untuk aku? Wah memang benar-benar udah kelewatan kamu ya,berkeliaran? Emangnya aku arwah gentayangan?"
"Kalau kamu merasanya begitu,ya aku nggak bisa bilang apa-apa," jawab Aldo sok cuek.
"Maksud kamu apa bertanya seperti tadi?"
"Ya,aku penasaran saja wanita seumuran kamu ini seharusnya sudah menikah dan mungkin sudah punya cucu. Di sini itu bukan lagi tempat kamu,tempat kamu itu di dapur di rumah jadi ibu rumah tangga jangan samain diri kayak anak-anak Abg," jelas Aldo panjang lebar.
Andriana mulai menggosok-gosokkan tinjunya,entah apa yang akan dilakukannya.
Buk! satu pukulan mengenai rahang lelaki itu,ngilu benar rasanya.
__ADS_1
"Sadis banget," Aldo memegangi wajahnya dengan mata berair. Sakit memang,tapi dia itu lelaki nggak keren dong kalau nangis.
"Maaf,aku nggak sengaja." Ucap Andriana dengan menunjukkan rasa bersalahnya,masa iya sih nggak sengaja.
"Mana ada orang yang memukul orang lain tanpa sengaja."
"Iya,aku salah makanya kalau mau bertanya itu jangan menanyakan hal yang pribadi begitu,aku bukannya nggak mau menikah hanya saja aku memang tidak akan menikah,sebelum bisa menyelesaikan masalah ini,kamu pikir aku tidak kepengen menikah apa?" kini Andriana terlihat serius,dan baru kali ini dia mengatakan hal yang begitu pribadi pada orang lain.
Sekarang Aldo mengerti Andriana memang tidak bisa menikah,seumur hidupnya mereka selalu di ganggu oleh tuan Abraham.
"Aku cuma ingin memastikan Diana hidup dengan aman dulu,baru aku juga akan tenang.
"Lalu,sekarang kamu ingin mengetahui apa lagi dari aku?" tanya Aldo,dia tidak berniat untuk membuat Andriana marah lagi,sepanjang hidupnya wanita itu pasti tidak tenang.
"Kemarin,anaknya Indra mengirim sebuah video pertengkaran orang tuanya,nih kamu lihat sendiri videonya!" tunjuk Andriana.
Aldo kemudian melihat video itu,dia juga tidak menyangka kalau Indra rupanya juga sama dangan pak Abraham.
"Aku sudah bekerja selama enam tahun dengan pak Abraham,tapi aku tidak tahu kalau pak Indra juga di pihak yang sama dengan papanya," ujar Aldo,hal ini benar-benar membuat lelaki itu tidak habis pikir,bagaimana bisa mereka tidak menyadarinya sama sekali.
"Ini aneh kan,ternyata musuh kita itu begitu dekat dan seharusnya kami juga menyadarinya dari awal,kalau perusahaan yang kini berada di bawah pimpinan pak Indra itu juga perusahaan yang di dirikan pak Abraham,dari itu aja kita sudah bisa memastikan bahwa pak Indra memang berada di pihak pak Abraham," tutur Andriana.
"Mungkin pak Indra tidak tahu semua kejahatan ayahnya."
"Begini ya,mungkin saja pak Indra itu dendam sama keluarga kalian karena melihat ibunya itu bunuh diri di depannya." Ungkap Aldo.
"Kamu tahu nggak alasan kenapa istrinya pak Abraham itu bunuh diri?"
"Kalau soal ini aku juga punya buktinya,dan bukti ini bisa kamu gunakan di saat kamu sendiri hampir mati di tangan pak Abraham," jawab Aldo.
"Jangan bawa-bawa kata mati,merinding tahu dengarnya," ujar Andriana.
"Coba ceritakan kenapa bu Silvia bunuh diri begitu,pasti ada alasannya kan?"
"Dia depresi setelah mengetahui kalau ternyata yang membunuh kedua orang tuanya adalah suaminya sendiri,pak Abraham."
"Apa?" Andriana kaget mendengar info dari Aldo,matanya membulat seperti hendak keluar,pak Abraham ternyata sangat kejam dia bahkan juga membunuh kedua mertuanya.
"Membunuh? Di bunuh dengan cara apa?"
"Ceritanya panjang emang kamu mau dengar atau mau baca sendiri,di diarynya bu Silvia?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Dengar kamu cerita dulu aja."
"Saat itu mereka pergi untuk berbulan madu,sebenarnya sih itu untuk alasannya saja,padahal pak Abraham sudah merencanakan semuanya. Begitu mereka tidak ada di rumah,pak Abraham menyewa beberapa orang untuk membunuh kedua orang tua istrinya,dan harta benda mereka juga di rampok tidak ada yang tahu hal itu,bahkan polisi pun tidak bisa menyelidikinya aneh kan?"
"Lalu apa untungnya pak Abraham membunuh mertuanya sendiri?"
"Masa kamu nggak tahu sih,ya supaya pak Abraham itu bisa menguasai harta mertuanya,bu Silvia itu anak tunggal dari pengusaha kaya raya,kamu kan tahu sendiri kalau si tua Abraham orang yang tamak akan harta."
"Berarti dia tidak mencintai istrinya dong,dia itu menikah karena harta doang."
"Kamu salah,pak Abraham sangat mencintai istrinya itu dia bahkan ingin membalaskan dendam istrinya kepada kalian," ungkap Aldo.
"Lho,kenapa yang jadi sasarannya kami?" Andriana semakin heran di buatnya.
"Karena pak Abraham pikir istrinya itu bunuh diri setelah mendengar kabar pernikahan anaknya dengan adik kamu,padahal dia sudah tidak sanggup lagi hidup dengan suaminya sendiri."
Tubuh Andriana seketika lemas,ternyata selama ini pak Abraham tidak tahu kalau istrinya itu bunuh diri karena mengetahui bahwa suaminya lah yang telah membunuh orang tuanya.
"Jadi selama ini pak Abraham salah paham sama keluarga aku,begitu?" tanya Andriana masih bingung. "Berarti gampang dong,tinggal bawa diary itu ke hadapannya dan mengatakan semuanya," sambung Andriana.
"Masalah ini sudah terkubur selama puluhan tahun dan sekarang kamu ingin menyelesaikannya dengan cara seperti itu? Kamu pikir ini semudah membalikkan telapak tangan apa?" Aldo tidak setuju dengan cara konyol Andriana.
"Aku tahu,tapi kita tetap harus mengakhiri semua ini." Ucap Andriana.
"Buku diary itu ada di kontrakan aku,buku itu aku temukan saat aku bekerja sama dengan kepolisian untuk menemukan bukti kejahatan pak Abraham,aku menemukannya di rumah lama pak Abraham."
"Apa polisi juga mengetahui akan hal ini.?"
"Tidak ada yang tahu selain kamu,aku dan Allah yang tahu."
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Andriana,dia ingin segera menyelesaikan
masalah ini.
"Kamu terlihat begitu bersemangat ada apa ini? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu?" Aldo jadi penasaran sendiri karena sepertinya Andriana sangat berusaha keras untuk mengumpulkan semua bukti,pak Andra saja tidak seperti dia,lelaki itu terlihat lebih menikmati pekerjaannya sehari-hari.
"Aku ingin cepat-cepat mengakhiri drama ini karena setelah ini berakhir aku akan menikah," ungkap Andriana.
"Hahaha..." ucapan Andriana kembali membuat Aldo tertawa. "Sama siapa?" tanya lelaki itu.
"Sama kamu!"
__ADS_1
Plak!! Aldo menampar wajahnya sendiri,berharap dia sedang mimpi.