Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Hukuman Apa lagi?


__ADS_3

"Kenapa non tidak bilang saja ke tuan Indra bagaimana perlakuan nyonya Sofi saat bapak tidak ada di rumah?" tanya bi Murni,wanita itu tadi sempat mendengar pertanyaan pak Indra.


"Nggak usah bi,lagian selama ini om Indra sudah bersikap baik sama Diana,masa Diana harus mengatakan keburukan istrinya itu" jawab Diana


Meski sudah tinggal serumah selama bertahun-tahun tapi gadis itu tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya,bagaimana caranya hingga dia bisa berakhir di rumah ini kepada bi Murni,dia lebih suka diam dan menyimpan semuanya sendiri.


Setelah selesai beres-beres rumah,Diana melangkah keluar,dia ingin menyiram tanaman yang ada di teras depan,bunga-bunga yang tengah bermekaran itu terlihat sangat indah. Bahkan mawar yang di tanamnya bersama bi Murni juga sudah bermekaran,benar-benar indah saat di pandang.


"Diana!" panggil om Indra,lelaki itu mendekat ke arahnya,saat Diana masih menyirami tanaman.


"Iya om..." Diana menghentikan pekerjaannya,dan mulai fokus hendak mendengarkan apa yang akan dikatakan Indra padanya.


"Hari ini om akan berangkat ke luar negeri,mungkin om akan lama di sana,sekitar dua sampai tiga minggu,jadi kamu baik-baik di rumah ya?" pesan lelaki itu.


"Iya om,Diana hanya menjawab singkat," setelah melihat sifat Indra semalam,gadis itu mulai berhati-hati dengan omnya ini,takutnya Indra juga menyimpan suatu rahasia yang Diana tidak tahu.


"Kamu nggak perlu khawatir. Ini,om sudah nyiapin uang jajan buat kamu,simpan baik-baik ya!" Indra kemudian menyerahkan uang senilai satu juta itu kepada Diana,meski awalnya terlihat ragu-ragu,namun akhirnya Diana mengambilnya juga,lagian dia juga sedang butuh uang itu.


"Makasih ya om" ucapnya senang.


"Ya,sama-sama. Kamu jangan terlalu sungkan seperti itu,kayak lagi sama siapa aja ini juga sudah merupakan kewajiban om kok,kan kamu sudah tinggal di sini,jadi semuanya sudah menjadi tanggung jawab om untuk memberikan yang terbaik buat kamu.


"Eum iya, sekali lagi terima kasih" hanya itu yang bisa dikatakan Diana,dia selalu merasa ketakutan setiap kali berhadapan dengan omnya,Diana bahkan selalu menunduk,sangat jarang dia mengangkat wajahnya saat bicara,kecuali dengan bi Murni dan mang Haris,karna dua orang ini sangat baik terhadap dirinya.


"Kita akan bicara lagi nanti ya,setelah om pulang dari luar negeri,kalau urusan kerja om cepat selesai maka om bisa pulang lebih cepat,om ingin ngomongin sesuatu sama kamu ini soal pendidikan kamu,apa kamu mau lanjutin kuliah di sini at...


"Mas,kok belum berangkat juga?" tanya tante Sofia,sengaja memutuskan obrolan suaminya dengan Diana.


"Aku mau berangkat sekarang kok,ya sudah aku berangkat dulu ya?" ucap Indra pada istrinya,setelah itu dia melihat ke arah Diana yang masih menunduk,om berangkat dulu ya Diana" pamit om Indra,Diana hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah lelaki itu.


"Hati-hati mas,kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku" pesan wanita itu setengah berteriak,saat mobil yang di tumpangi suaminya sudah melaju keluar dari gerbang rumah mewah mereka.


"Mana? Bawa sini uang yang tadi di berikan suami saya?" pinta tante Sofia.

__ADS_1


Tangan Diana mulai bergetar,dia sudah bisa menduganya,setelah ini dia pasti akan mendapat perlakuan buruk dari tantenya,karena setiap kali tangannya bergetar dia pasti akan di beri hukuman,seperti di pukul atau di suruh mengisi air ke dalam kolam ikan hingga penuh.


"Uang apa tante? Diana tidak di beri uang sama om Indra" jawab Diana berbohong.


"Kamu jangan main-main sama saya,jangan coba berbohong,kamu kira saya tidak lihat tadi mas Doni memberikan kamu uang kan? Mana uangnya,cepat bawa kemari?" tante Sofia masih memaksa,namun Diana masih tidak mau memberikannya.


"Diana benar-benar tidak punya tante," ucap Diana suaranya terdengar bergetar,dia mulai ketakutan.


"Kamu lebih pilih mana? Memberikan uang itu pada saya atau kamu lebih senang di pukuli dengan sapu?" tante Sofia mulai memberi pilihan.


Mendengar hukuman yang akan di terimanya, ini membuat Diana semakin ketakutan,gadis itu kemudian langsung mengambil uang yang tadi di simpan dibawah lengan bajunya,dan langsung menyerahkannya kepada tante Sofia.


"Bagus,ternyata kamu masih sayang terhadap nyawa kamu sendiri,ya" setelah menyerahkan uang itu Diana langsung melangkahkan kakinya,Diana berniat pergi dari hadapan wanita monster yang menakutkan itu. Namun,belum sempat dia melangkah,tante Sofia sudah menghentikannya duluan.


"Ikut saya!" Perintahnya cepat,tatapan matanya memancarkan kelicikan,wajahnya mulai berubah jadi kejam,Diana tahu hal yang buruk akan segera menimpa dirinya,badai sudah akan datang, dan setelahnya hujan pasti akan turun.


"Tidak tante,Diana masih punya urusan lain"


Diana mengelak,dia ingin pergi dari sana. Haruskah dia menjerit? Haruskah dia memanggil bi murni,mang haris,atau siapa? Tidak ada orang di sini,bahkan Ariska pun sudah berangkat kuliah,setidaknya sekejam apapun tante Sofia terhadap dirinya,wanita itu pasti tidak akan pernah menyakitinya di hadapan orang lain,palingan dia hanya akan di omeli saja.


"Sudah tante,sudah cukup! Tubuh Diana sudah sangat sakit" gadis itu memohon,air matanya terus jatuh bergulir.


"Cukup kamu bilang? Ini bahkan baru 15 kali pukulan,masih ada 5 pukulan lagi yang harus kamu terima"


"Diana sudah tidak kuat," dia mengiba,gadis itu memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya,menahan sakit yang amat sangat. Dia merasakan kulitnya benar-benar akan hancur,dia berharap pukulan ini akan segera berakhir.


"Ini hukuman yang harus kamu terima karena kamu sudah berani berbohong di depan saya,dan ingat ini belum berakhir,jika kamu masih mau hidup lama di sini,jangan sekali-kali kamu mengatakan hal ini pada Indra,kalau tidak kamu akan mati!" setelah mengancam Diana,Sofi langsung pergi,dia mengunci pintu gudang itu dari luar,dan membiarkan Diana sendiri dalam kegelapan.


....


"Sendiri aja bi,Diana dimana?" tanya mang Haris tukang kebun keluarga Indra Alexander.


"Bibi juga nggak lihat nona Diana mang,biasanya tengah hari begini dia sudah ada di dapur bantuin bibi masak" jawab wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Mungkin di kamarnya kali," ucap mang Haris,masih fokus merapikan rerumputan.


"Nggak ada,bibi sudah ngecek ke kamarnya,mungkinkah nona Diana pergi keluar? Tapi dia tidak pernah keluar sendirian" bi Murni terlihat gelisah.


"Mungkin pergi kesuatu tempat,kita kan tidak tahu" mang Haris mencoba untuk membuat suasana tidak menjadi tegang."


"Mungkin saja ya,tapi kemana?" bi Murni masih belum bisa tenang,karena tidak biasanya Diana pergi tanpa mengatakan apapun padanya.


"Kalian berdua kenapa?"


Kehadiran tante Sofi yang tiba-tiba itu membuat bi Murni dan mang Haris kaget.


"Ini nyonya,tadi saya nyari non Diana tapi dia tidak ada,kira-kira nona di mana ya?" yang di jawab bi Murni.


"Diana sudah pergi kerumah kerabatnya di luar kota,bersama suami saya,mungkin beberapa hari lagi dia juga bakal pulang" wanita itu berbohong.


"Bibi kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Sofia,dia merasa kalau saat ini wanita paruh baya di depannya itu menatap curiga ke arahnya"


"Em,tidak ada nyonya,saya hanya heran saja kenapa tiba-tiba nona pergi tanpa memberitahu saya" jawab bi Murni gelagapan" memangnya selama ini setiap kali Diana pergi dia selalu bilang sama bi Murni? Enggak kan? Mending dari pada di sini lebih baik bibi kerjain semua tugas bibi yang belum beres" ujar wanita itu lalu pergi begitu saja.


"Bibi ngerasa ada yang aneh tidak dengan nyonya Sofia? tanya mang Haris,setelah wanita itu pergi dari hadapan mereka.


"Iya,bibi juga ngerasa ada yang aneh,mungkin ada yang di sembunyikan sama nyonya Sofia" ucap bi Murni hati-hati,wanita itu setengah berbisik agar tidak ada yang mendengar.


Mang haris mulai menghentikan pekerjaannya, dan mulai fokus dengan topik pembicaraan mereka.


"Selama ini bukankah non Diana selalu tidak ada di rumah setiap kali tuan tidak ada?" ucap mang Haris. Mendengar ucapan lelaki itu bi Murni semakin khawatir,mungkinkah hal buruk sedang terjadi dengan non Diana? bi Murni tambah khawatir.


"Kita tidak tahu bi,keluarga ini sepertinya menyimpan banyak rahasia."


"Mang Haris masih ingat tidak bagaimana keadaan non Diana saat pertama kali di bawa ke rumah ini?" tanya bi Murni membuka kembali kenangan lama,berharap lelaki di depannya itu tidak melupakan sedikit pun kejadian aneh saat pertama kali Diana di bawa ke rumah majikannya.


"Bagaimana saya bisa lupa bi,malam itu nona Diana terus menangis minta untuk diantar pulang ke rumah tantenya,saya masih sangat jelas mengingat kejadian malam itu yang tersimpan di memori saya dengan sangat baik. "Jelas mang Haris,kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu.

__ADS_1


......


__ADS_2