
"Saya tidak menyangka kamu akan datang ke sini malam ini,Andriana." Ujar pak Johan
"Aku perlu menanyakan kejelasan atas apa yang dulu terjadi antara kamu dan adikku," jawabnya.
"Apa kamu penasaran kenapa dia isukan menduakan suaminya?" tebak pak Johan
"Tidak,kalau itu aku sudah tahu,setelah dua tahun kematian Naumi aku bekerja begitu keras hanya untuk mendapatkan semua bukti,dan sekarang aku hanya perlu memperjelasnya saja."
"Lalu apa yang ingin kamu dengar?"
"Kamu hari itu ada keperluan apa bertemu dengan Naumi?" Andriana penasaran
"Itu bukan pertemuan di sengaja,saya melihat dia pergi ke apotik untuk membeli obat,jadi sekalian saja saya ajak untuk makan siang di luar Naumi pun tidak keberatan sama sekali,tapi tidak di sangka ada orang yang mengambil foto kami saat itu," tuturnya menjelaskan.
"Jadi benar,orang yang memotret foto itu bukan orang suruhan kamu?"
"Hei,jadi selama ini kamu mencurigai saya?" pak Johan mengerutkan keningnya,heran dengan pikiran Andriana,bagaimana bisa wanita itu berpikir bahwa dirinya sengaja ingin membuat rumah tangga adiknya itu hancur.
"Bukan curiga,hanya penasaran saja."
"Saya rasa ada sesuatu yang kamu tidak ketahui Andriana."
"Memangnya ada?"
"Tentu saja ada." Yang di jawab istrinya pak Johan yang tak lain adalah Melinda,wanita itu baru saja selesai membuatkan teh untuk mereka dan kemudian ikut bergabung mendengarkan obrolan suaminya dengan Andriana.
"Benarkah? Tentang apa?" akhirnya Andriana penasaran juga setelah tadi terlihat seperti tidak peduli.
"Sebenarnya,saat orang suruhannya tuan Abraham mengirimkan foto saya dan Naumi,Anton tidak terlalu peduli akan hal itu,karena fotonya terlihat biasa saja."
"Lalu apa yang menjadikan hubungan mereka retak saat itu.?" Andriana semakin tidak sabar menunggu kelanjutannya.
"Mungkin kita harus menunjukkan foto itu pada Andriana,mas" usul istrinya.
Andriana melongo mendengarnya.
"Foto? Foto apa? Apa itu foto kalian berdua?" tebak Andriana.
__ADS_1
"Tentu saja bukan!" jawab pak Johan cepat.
"Saya ambil fotonya dulu," ucap istrinya tanpa berlama-lama lagi dia langsung masuk ke kamarnya.
"Kamu pasti sangat terkejut saat melihat foto itu."
"Memangnya itu foto siapa?" tanya Andriana,dia penasaran foto siapa yang di maksud lelaki di depannya ini.
"Ini dia fotonya!" tunjuk Melinda memberikan kotak kecil yang berisikan foto-foto Anton dengan sekretarisnya.
"Astaghfirullah.." Andriana menutup mulutnya dengan kedua tangannya,foto itu sangat meresahkan,dia menggelengkan kepalanya tidak percaya akan apa yang di lihatnya.
"Apakah ini asli?" dia masih kurang yakin.
"Ini asli,Antonio saat itu di jebak dan wanita ini adalah sekretarisnya," jelas pak Johan.
Wanita dalam foto tersebut berpakaian sangat seksi,dan duduk di atas pangkuan Antonio,namun kalau di perhatikan dengan baik dapat di lihat bahwa Anton menunjukkan wajah tidak suka,dia sedang menolak tapi wanita itu dengan sengaja menciumnya.
"Apakah Anton tahu soal ini?" tanya Andriana setelah dirinya terdiam karena melihat foto tadi.
"Tidak,Naumi sengaja tidak memperlihatkan pada suaminya,saat itu dia bahkan sudah tidak percaya lagi dengan Anton.
"Anita tidak tahu akan hal ini,lalu kenapa kalian bisa tahu hal ini?" tanya Andriana akhirnya.
"Naumi memang sengaja tidak memberitahukan hal ini pada Anita,dia tidak mau membuat Anita ikutan susah," jawab Melinda.
"Apa mbak Andriana tahu,kalau sebenarnya saya juga berteman dekat dengan mbak Naumi makanya kami juga ikut mencari bukti-bukti ini semua dan mengumpulkannya," ungkap Melinda
Andriana sangat senang mendengarnya,akhirnya drama yang di buat pak Abraham akan segera terselesaikan.
"Tapi tunggu dulu! Kenapa kamu bisa sedekat itu dengan Naumi?"
"Sebenarnya,yang memutuskan pertunangan hari itu bukan mbak Naumi,tapi mas Johan,"saat mengatakan ini raut wajah Melinda berubah menjadi murung,dia sedih dan merasa sangat bersalah.
"Apa? Jadi selama ini kami sudah salah menduga? Jadi memang benar Johan yang membuat semuanya menjadi kacau? Kamu memang lelaki brengsek!" umpat Andriana,tanpa sadar tinjunya sudah melayang ke arah wajah lelaki itu."
Buk!!
__ADS_1
"Akh.!! Pak Johan meringis menahan sakit,gerakan Andriana begitu cepat hingga dia sendiri tidak bisa menangkisnya.
"Owh maaf,aku tidak sengaja," pinta Andriana kembali duduk dengan tenang,tadi itu dia benar-benar marah hingga rubah sembilan dalam tubuhnya tiba-tiba bangkit tanpa aba-aba terlebih dulu hehe...
Melinda yang melihat suaminya di tonjok Andriana tidak marah sama sekali,dia malah tertawa dan mengatakan "Aku rasa,mas pantas mendapatkan pukulan gratis dari mbak Andriana."
"Kalian wanita sama saja,tidak mau mendengar penjelasan dari lelaki dulu," ucap pak Johan kesal sambil terus memegangi wajahnya yang sudah tampak lebam.
"Lanjutkan! Aku ingin mendengar semuanya," suruh Andriana,kini dia mulai menampakkan sifat sombongnya.
"Saya tidak mau mengatakan apa-apa lagi sama kamu,mulut saya sangat susah untuk di gerakkan,sepertinya dalam beberapa hari ini juga belum tentu membaik," jawab pak Johan masih dengan kekesalannya karena sikap Andriana tadi.
"Kamu tidak bisa di ajak bekerja sama,begitu saja sudah marah kayak anak kecil saja," ucap Andriana meledek.
"Terserah kamu mau bilang apa,saya mau mengobati wajah saya dulu," tanpa menunggu respon dari Andriana pak Johan langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil kotak obat.
"Apa suami kamu benar-benar marah?" tanya wanita itu setengah berbisik.
"Mas Johan bukannya marah karena mbak memukulnya tadi tapi dia memang selalu mengelak saat di tanya tentang alasan dia memutuskan pertunangan hari itu."
"Lalu,sebenarnya kenapa dia tidak mengatakannya sendiri kepada papa kami,sehingga papa saat itu tidak akan marah dan mengusirnya dari rumah," tanya Andriana.
"Jadi begini,mas Johan memutuskan untuk membatalkan pertunangan hari itu karena sebenarnya dia sudah lebih dulu bertunangan dengan saya tanpa sepengetahuan mbak dan Naumi,begitu mengetahui tentang hal ini mbak Naumi langsung tidak mau melanjutkan pertunangannya dengan mas Johan,padahal mas Johan sudah akan mengatakan semuanya kepada pak Daniel,tapi mbak Naumi bersikeras tidak mau mas Johan mengakui kalau dia sendiri yang sebenarnya membuat pertunangan itu batal."
"Alasannya?"
"Ya karena mbak Naumi bilang,kalau mas Johan mengakui semuanya,maka papanya mbak akan menarik semua sahamnya dari perusahaan papanya mas Johan,dan itu akan berpengaruh buruk,mbak Naumi itu orang yang baik sangat di sayangkan hidupnya berakhir begitu saja."
Mendengar penjelasan dari Melinda,Andriana semakin merasa bersalah,kenapa dulu dia juga ikut membenci Naumi hanya karena masalah sepele ini.
"Aku sendiri benar-benar bodoh,aku sudah membencinya hingga di detik-detik terakhir hidupnya,dia padahal adikku satu-satunya." Lirih Andriana,tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
Melinda merasa simpati melihat kesedihan Andriana. "Mbak juga tidak bisa menyalahkan diri mbak sendiri karena sebenarnya Naumi di usir dari rumah bukan karena membatalkan pertunangan juga,tapi karena tidak mau mendengarkan larangan pak Daniel untuk menikah dengan pak Antonio,karena orang tua mbak dengan papanya pak Anton memiliki dendam di masa lalu." Melinda menjelaskan lebih lanjut.
"Dendam?" Andriana semakin penasaran saja.
"Apakah ada dendam lain yang aku sendiri tidak tahu?"
__ADS_1
"Ada,saya juga tidak tahu dengan jelas,kalau soal ini lebih baik mbak menanyakan langsung sama orang tuanya mbak Andriana sendiri."