
"Kalau saja Naumi menceritakan tentang penyakitnya sama Anton,pasti saat itu Anton tidak akan pergi begitu saja," batin Andriana.
Dia terus melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Johan,dan dia juga tidak lupa membawa foto-foto Anton dan sekretarisnya itu untuk di perlihatkan kepada kakaknya.
Andriana sengaja memilih jalanan yang sepi agar lebih cepat sampai di rumahnya,namun tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat dan menghadang mobilnya. Andriana kaget dan menginjak rem tiba-tiba,beruntung dia nggak kenapa-napa.
"Sial!" umpat wanita itu. "Kurang ajar memang,siapa sih yang yang nyari masalah malam-malam begini.?"
Andriana masih belum turun dari mobilnya,dia ingin memastikan dulu siapa orang yang telah berani mengganggunya malam-malam begini.
"Hanya dua orang pria,sangat mudah melawan mereka," pikir Andriana. Akhirnya diapun langsung keluar.
"Ada apa? Ada urusan apa kalian menghadang jalan saya?" tanya Andriana masih bersikap santai.
"Kalau kamu ingin selamat serahkan kotak tadi yang kamu bawa!" suruh salah satu lelaki di antara mereka.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?"
"Berarti kamu sudah bosan hidup," jawab lelaki itu
"Habisi saja wil!" suruh lelaki di belakangnya.
Andriana mulai berpikir untuk melawan sekarang,tapi kalau dia melawan maka identitasnya akan terbongkar,kalau tidak melawan maka dia akan mati konyol di sini,apa lagi lelaki itu sudah mengarahkan pisau ke lehernya.
"Ambil saja sendiri di dalam mobil!" suruh Andriana,entah apa rencananya kali ini.
Salah satu dari lelaki itu pun langsung mengambilnya,dia berjalan menuju mobil Andriana.
Andriana saat itu berharap semoga saja ada orang yang datang untuk menolongnya. Kebetulan sekali saat itu beberapa geng motor lewat di kawasan yang sepi tersebut.
"Berhenti di sana!" teriak lelaki itu,dan ternyata dia adalah Ronald bersama dengan beberapa anak buahnya yang bertubuh besar dan terlihat kuat jika hanya untuk melawan dua kutu yang sekarang menghadang Andriana.
"Wah gawat,Will mundur Will! Kita tidak bisa melawan mereka," perintah lelaki itu,akhirnya mereka kabur dari sana dengan tangan kosong rencana mereka untuk merebut bukti dari Andriana gagal.
"Hufsss...!! Akhirnya bisa bernafas lega juga,terimakasih kamu datang tepat pada waktunya," ucap Andriana tulus.
"Iya sama-sama. Lah,kamu kenapa tidak melawan mereka? Cuma kutu doang kenapa harus takut?" tanya Ronald penasaran.
"Itu yang tidak mungkin,sebab aku nggak mau ada yang tahu identitas aku sebenarnya,cukup kamu saja yang tahu hal itu."
"Ada masalah apa kamu sama mereka?"
__ADS_1
"Aku tidak punya masalah sama mereka,tapi sepertinya mereka itu di suruh sama seseorang untuk mengambil sebuah kotak yang tadi aku bawa dari rumah pak Johan," ungkap Andriana.
"Di sini terlalu sepi,bagaimana kalau pergi ke tempat aku saja,kita bisa membicarakan masalah ini di sana," ajak Ronald.
Andriana tampak berpikir sejenak,kemudian melihat jam di tangannya masih jam 21:00,belum larut malam artinya dia masih punya waktu dua jam lagi.
"Baiklah kalau begitu." Andriana setuju dan kemudian mereka sama-sama pergi menuju rumah Ronald.
\*\*\*\*\*
"Jadi ini rumah kamu,bagus juga." Puji Andriana yang membuat Ronald tersenyum mendengarnya. "Kamu pikir aku tidak punya rumah ya,meskipun penampilan begini aku ini anak konglomerat." Ronald membeberkan identitas aslinya.
"Yang benar saja?" nada bicaranya terdengar meremehkan.
"Benar dong."
"Di rumah seluas ini kamu tinggal sendiri?"
"Iya,karena keluarga aku tidak ada yang tinggal di kota ini."
"Aku tidak tahu pekerjaan kamu itu apa,hingga bisa membangun rumah seperti ini,
"Kamu sedang menuduh aku?" Ronald tampak marah.
"Cuma bertanya." Andriana menjawab sekilas tanpa melihat perubahan wajah Ronald yang sudah cemberut gitu.
"Tapi terkesan menuduh."
"Masalah ini saja kamu perdebatkan? Pantesan kamu itu tidak bisa jadi bos y...
"Sudah,jangan di teruskan!" cegah Ronald tidak ingin mendengar kelanjutan dari ucapannya Andriana.
"Kan aku sudah bilang keluarga aku itu juga punya bisnis sendiri,sebenarnya kalau aku mau aku bisa saja bekerja di sana tapi aku tidak mau,meski di sana bisa mendapatkan posisi dan jabatan yang tinggi."
"Anak bodoh! Kamu itu masih muda,ngapain buang-buang umur cuma buat jadi preman nggak jelas kayak gitu?"
"Preman apanya? Aku punya pekerjaan sendiri." Ronald berusaha menyangkal omongannya Andriana.
"Dengan menjadi pengawal para pengusaha kaya,gitu?" ujar Andriana
"Lho,kamu tahu tentang pekerjaan aku juga?" tanya Ronald tidak menyangka.
__ADS_1
"Au ah capek bicara sama anak ingusan,kamu itu sudah membuang waktu ku sia-sia,kamu lupa tujuan aku ke sini untuk apa?" Andriana mengingatkan.
"Owh iya maaf,aku lupa." Jawab Ronald sambil nyengir kuda.
"Kamu pasti penasaran sama dua orang yang tadi kan? Mereka itu anak buahnya pak Indra."
"Apa mungkin? Tapi untuk apa pak Indra menyuruh anak buahnya mengambil bukti yang aku bawa?"
"Memangnya bukti apa yang kamu bawa?" tanya Ronald terlihat hati-hati,takutnya bukti itu terlalu rahasia.
"Itu adalah surat tentang penyakitnya Naumi dan juga foto-foto Anton bersama sekretarisnya dulu," jelas Andriana.
"Sebaiknya kamu berhati-hati sama pak Indra,jangan terlalu mempercayainya,bagaimanapun dia itu anaknya pak Abraham,bisa aja dia sama dengan ayahnya,kan tidak ada yang tahu." Ronald mengingatkan.
"Iya,kamu benar juga kalau begitu aku langsung pulang saja,aku harus langsung menceritakan masalah ini sama mas Andra."
Ronald kemudian mengantarkan Andriana sampai ke depan pintu gerbang kediamannya,dia juga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengkawal Andriana di perjalanan,agar dia sampai dengan selamat di rumahnya.
Andriana tidak menolak sama sekali karena dia memang sedang membutuhkan bantuan mereka,sebab dia sedang tidak ingin berhadapan dengan dua orang tadi.
\*\*\*\*
"Bagaimana? Apa kalian berhasil mendapatkannya?" tanya lelaki dalam mobil itu.
"Tidak bos,tadi ada beberapa lelaki bertubuh besar yang menghadang kami,jadi kami tidak bisa mengambilnya."
"Kalau begitu cari cara lain!" suruh sang bos. kemudian mobil yang di kendarai bosnya itu pun kembali melaju.
Dan ternyata ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka,siapa lagi itu kalau bukan anak buahnya Ronald.
"Halo bos,ternyata benar lelaki tadi suruhannya pak Indra meski wajahnya tidak terlihat jelas,tapi saya yakin itu pak Indra."
"Kalau begitu kirim buktinya kemari!" Perintah Ronald. Setelah itu dia langsung menutup teleponnya.
Ronald langsung mengirim gambar itu kepada Andriana.
Andriana yang saat itu baru sampai di rumahnya pun di buat marah saat melihat gambar yang di kirim Ronald.
"Sial! Ternyata benar Indra memang bekerjasama dengan ayahnya,ini memang benar mobil yang di pakai Indra." Andriana juga masih mengingat dengan jelas nomor plat mobilnya,hampir saja dia tertipu dengan permainan lelaki itu.
-----
__ADS_1