
Sunyi,gelap,yang terdengar hanya suara tikus yang terus berlarian kesana kemari,sesekali ekornya menyentuh kaki Diana.
Diana sangat ketakutan ingin sekali dia menjerit,berteriak dan meminta tolong pada bi Murni,mang Haris,atau pak Bondan satpam di rumah itu,karena biasanya malam-malam begini, lelaki itu sering lewat di depan gudang,untuk melihat keadaan sekitar yang mungkin ada yang mencurigakan.
"Sudah malam begini,tumben itu anak nggak kelihatan batang hidungnya? Memangnya dia ke mana sih ma?" Ariska bertanya pada mamanya,yang saat itu tengah fokus melihat siaran tv.
"Dia tidak ada di rumah" wanita itu menjawab singkat.
"Iya,Riska tahu tapi dia kemana?" Ariska mulai penasaran,Sofia tidak langsung menjawab dia menatap anaknya sebentar,dan mulai memikirkan jawaban apa yang harus di berikannya.
Jika mengatakan Diana pergi ke luar kota untuk bertemu keluarganya,jelas saja tidak mungkin,karena Ariska pasti akan menelpon papanya dan menanyakan tentang kebenaran omongannya,dan kalau mengatakan Diana di kunci di gudang,anak itu pasti akan pergi dan melihatnya sendiri,kalau ini terjadi maka Ariska akan tahu,kalau mamanya telah melakukan hal yang sangat kejam kepada Diana. Sebab selama ini yang dia tahu mamanya itu tidak pernah memukul Diana,dia hanya tahu kalau sang mama tidak menyukai gadis itu dan sering mengomelinya saja.
"Mama kenapa diam?"
"Diana ada di gudang,mama mengunci dia di sana" jawab wanita itu setelah lama berpikir akhirnya dia lebih memilih mengatakan hal ini pada anaknya.
"Mama mengunci dia disana? Sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi saat kamu pergi kuliah" bu Sofia menjawab santai.
"Kalau dia kenapa-napa gimana,terus kalau papa tahu bagaimana?" Ariska mulai panik,dia takut dengan apa yang mamanya lakukan.
__ADS_1
"Papa kamu nggak bakalan tahu,kalau mulut ember kamu itu bisa di jaga,lagian papa juga sudah berangkat ke luar negeri untuk ngurusin pekerjaannya di sana" jelas bu Sofia.
Ariska kemudian bangkit dari duduknya,dan keluar rumah,tapi belum sampai di pintu luar,mamanya itu sudah memanggilnya lagi, "Kamu mau pergi kemana lagi? Mau ngeluarin dia?"
"Cuma mau ngeliatin doang kok ma"
"Bukankah dari dulu kamu sudah tahu,setiap kali dia tidak ada di sini,berarti dia di gudang dan lagian kamu juga tidak pernah tu datang ke sana untuk melihatnya,sekarang kamu ingin ke sana kamu ingin membantunya hah...?" tanya bu Sofia sinis.
"Mama kenapa jadi sinis gini sih sama aku?" tanya Ariska dalam hatinya,karena tidak mau kena omelan mamanya,gadis itu langsung masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal.
Malam masih belum berlalu,Diana masih juga di sana tidak ada yang datang dan membukakan pintu untuknya,tubuhnya terasa perih tak tertahan,dia terus menangis,sepertinya daging di punggungnya itu benar-benar terluka parah,dia dapat merasakan darah yang sudah membeku dan ada yang masih terus mengalir ditubuhnya.
Diana pernah merasakan hal seperti ini,dua tahun yang lalu,saat itu dia harus menerima dua puluh lima kali pukulan dari tante Sofi,karena menghilangkan uang satu juta yang diberikan omnya untuk membayar uang bulanan sekolahnya,agar dia bisa mengikuti ujian semester,tapi karena kecerobohannya uang itu hilang.
"Ibu,Diana takut... Diana rindu ibu" rintih Diana pilu.
"Tante,om,Dea..." dia terus menyebut satu persatu orang-orang yang tak pernah hilang dari ingatannya.
Diana masih menunggu,berharap ada yang tiba-tiba datang dan membuka pintu gudang itu,di sana sangat gelap,dia bahkan tidak bisa melihat secercah sinar.
Dia merasa dunianya tidak pernah berputar lagi,semenjak jauh dari keluarga Dea,di tinggal pergi ayah saat masih kecil dan kemudian ibunya juga ikut meninggalkannya,sepertinya kebahagiaan belum berpihak kepadanya,di mana ada tempat untuk dia pergi.
__ADS_1
Diana berharap matanya bisa terpejam,dia tidak ingin merasakan sakit itu lagi,tertidur sebentar atau selamanya juga dia tidak masalah,kali ini harapannya benar-benar musnah,dia ingin mati saja,tapi itu bukan jalan yang terbaik.
Diana tidak ingin menambah dosa. Lalu apa yang bisa di lakukannya sekarang? Dia hanya bisa meringis menahan sakit dan perih di tubuhnya,dia juga kelaparan karena seharian tidak makan.
Dia sendiri di sana dengan wajahnya yang muram,tatapan matanya terlihat tidak bersemangat,dunia ini terlalu kejam untuknya,tak ada tempat ataupun teman untuknya,tak ada tempat untuk dia berteduh,dan tak ada teman untuk dia mengeluh.
Sudah dua hari Diana di kurung di gudang itu,tante Sofi bahkan tidak membawakannya minuman,atau pun makanan. Diana kelaparan,tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan,tubuhnya pun harus segera di obati,lukanya cukup parah.
Diana akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri lagi,tubuhnya ambruk begitu saja ke atas lantai. Tapi sesaat sebelum pingsan dia masih sempat melihat seseorang yang masuk ke gudang,dan membawanya keluar,entah siapa dia pun tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut,yang pasti itu adalah seorang lelaki.
....
"Kamu sudah terlalu lama menunggu ibu di sini nak,ibu tahu kamu ingin pergi,tapi sekarang belum saatnya. Hidup ini memang penuh dengan cobaan,tapi kamu harus bisa menghadapinya,ibu tahu kamu bisa,jangan pernah menyerah. Di sini memang gelap,namun di ujung sana sudah ada sinar yang menantimu,dia masih di sana menunggu kamu,menunggu untuk kamu raih,kamu harus kuat! Kamu harus bangkit,ibu percaya kamu pasti bisa." Suara itu semakin lama terdengar semakin kecil dan akhirnya menghilang.
"Ibu... ibu" lirih Diana,ternyata hanya mimpi.
Diana cuma bermimpi,tapi gadis itu bisa merasakan kehadiran ibunya seperti sangat nyata,suara itu seolah tidak berasal dari alam bawah sadarnya. Diana kemudian memutar pandangannya ke sekeliling ruangan itu,tidak gelap lagi,dia ternyata sudah berada di kamarnya sendiri,sepertinya lelaki tadi lah yang telah membawanya ke sini.
"Akh..." Diana meringis kesakitan saat tanpa sengaja punggungnya menyentuh bantal,dia bahkan sangat kesulitan untuk tidur telentang,pantas saja lelaki itu merebahkan tubuhnya dengan posisi telengkup.
"Siapa lelaki itu?" batin Diana penasaran
__ADS_1
....