Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Saling Memikirkan


__ADS_3

Tiga jam sudah berlalu,tapi Diana masih belum sadar juga,Angga cemas begitu pula dengan Ariska dan Dea. ini sudah malam,tante Sofi sudah berkali-kali menelfon,Ariska terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau dia sedang makan malam bersama teman-temannya.



"Dea... Dea," panggil Diana begitu dirinya sudah sadar,namun ini aneh seharusnya yang dia panggil Ariska bukan Dea.



Mendengar Diana menyebut namanya,Dea langsung duduk di sisi Diana. Dea senang akhirnya Diana sadar juga.


"Anterin aku pulang Dea!" pinta Diana,suaranya masih terdengar lemah,dia menarik selang infus di tangannya,ingin segera keluar dari sana.


"Kenapa begitu terburu-buru,apa kamu takut mereka akan menyakiti kamu lagi?" tanya Dea dengan pandangan tajam seperti sedang menyelidiki kasus pembunuhan saja.



"Apa maksud kamu?" Diana balik nanya,sebenarnya saat itu tubuhnya masih terasa sangat lemah,tapi karena mendengar pertanyaan Dea seperti itu,rasa sakit di tubuhnya hilang begitu saja.



"Di punggung mu,luka sebanyak itu bisa kamu jelaskan bagaimana kamu mendapatkannya?" sepertinya kali ini Dea benar-benar menyelidiki masalah pribadi sahabatnya.



"Apa ada orang yang menyakiti kamu Diana,siapa orang itu? Katakan pada kami!" pinta Angga,dia terlihat khawatir.



"Kamu katakan saja Diana,aku juga sudah muak sejak tadi mereka terus menyalahkan aku," adu Ariska,dia bahkan tidak berpikir bagaimana kalau orang yang telah menyiksa Diana itu adalah mamanya sendiri. Itu sama saja dengan mendorong mamanya sendiri ke dalam jurang kematian.



"Itu luka saat aku kecil." Diana tidak menjawab jujur,dia terpaksa berbohong,meski dia tahu kalau Dea tidak akan percaya dengan omongannya,karena Dea adalah sahabat kecilnya,Diana pikir Dea tidak akan menyangkalnya sebab di sana ada Ariska dan Angga.



"Itu bukan bekas luka saat kamu kecil,itu bekas luka beberapa minggu yang lalu," ternyata bukan Dea yang menyangkal omongannya melainkan Angga,cowok itu bagaimana bisa dia mengetahui hal ini.?



"Bagaimana kamu bisa tahu soal luka itu?" tanya Dea heran.


"Aku tadi juga melihatnya!" jawab Angga santai.


"Apa yang kalian lakukan padaku,saat aku tidak sadar?" Diana marah merasa dirinya di lecehkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus marah? Tidak ada yang salah,kan? Lagian kita semua juga perempuan." Tambah Ariska.



"Perempuan? Lalu bagaimana dengan Angga?" Diana masih tidak terima,dia merasa sangat malu,mereka pikir tubuhnya itu pajangan apa?



"Jangan terlalu dipikirkan Diana,aku hanya melihatnya sedikit."


"Cukup!" ucap Dea tegas,jangan berbelit Diana,jelaskan pada kami bagaimana luka itu bisa ada? Siapa yang telah melakukan hal ini!" Dea sangat ingin mengetahui siapa yang sudah berani-beraninya melukai sahabatnya itu.


Dea sedikit lebih mendekat ke arah Diana,dia berbisik ke telinga Diana,saat itu Ariska sengaja keluar,entah apa yang sedang dia rencanakan,sepertinya dia sengaja memberikan ruang untuk Diana mengobrol dengan Dea.



"Katakan padaku siapa yang telah melakukan hal ini!" bisik Dea,Angga sendiri bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.



"Dea lebih baik setelah malam ini kamu tidak usah bertemu dengan aku lagi,aku sudah bisa menduga sejak awal apa yang kamu rencanakan,jangan terlalu ikut campur akan hal ini,atau kamu akan bernasib lebih parah dariku." Ujar Diana,dia tidak ingin Dea masuk ke dalam masalahnya lebih jauh lagi,tante Sofi bukanlah orang baik.



"Oke,aku tidak akan mencampuri urusan kamu lagi,asal kamu mau mengatakan padaku siapa yang telah melakukan hal sekejam ini padamu."


Angga tidak berani mendengarkan pembicaraan mereka yang sepertinya sangat rahasia.



"S dan a."


Begitu Diana selesai mengatakan inisial nama orang tersebut,Ariska masuk dan langsung mengajaknya pulang.


"Diana ayo kita pulang!" ajak gadis itu.


"Ariska kamu masih ingat apa yang aku katakan padamu,kan?" Dea memastikan.


"Iya aku ingat," raut wajah Ariska tampak serius.


"Biar aku saja yang mengantarkan mereka Dea,kamu sebaiknya langsung pulang!" suruh Angga,Diana memperhatikan wajah mereka satu persatu,semuanya terlihat serius,mereka tampaknya sedang merencanakan sesuatu,apa yang sebenarnya mereka lakukan saat Diana sedang tak sadarkan diri?


Diana semakin penasaran,mereka adalah orang yang sama,tapi sisi yang berbeda.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*



Ariska berusaha untuk memejamkan matanya,tapi perkataan Dea terus terlintas di pikirannya.



"Aish... Dea ini benar-benar seperti hantu, sepertinya dia tidak akan membiarkanku tidur nyenyak," omel Ariska seorang diri.


Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut,berharap suara Dea menghilang tapi masih saja sama,akhirnya dia bangun dan duduk di kasurnya dengan tegap,gadis itu mulai merangkai kejadian demi kejadian yang menurutnya aneh,dari mulai Dea yang meminta untuk bertemu dengan Diana,mereka berdua yang terlihat akrab meski baru bertemu dan Dea tampak begitu peduli dengan Diana. Dea dan Diana mungkinkah mereka saling kenal?


Bahkan yang lebih anehnya lagi Dea menyuruh Ariska untuk terus memantau segala apa yang di lakukan Diana.



"Perhatikan apakah dia makan dengan teratur,kamu juga harus mencari tahu siapa orang yang telah melakukan hal sekejam itu pada Diana,atau enggak kamu juga akan aku anggap sebagai tersangkanya," permintaan itu sampai sekarang masih membuat Ariska tidak habis pikir kenapa dia harus melakukan semua yang di perintahkan Dea.


"Heh! Seenaknya aja nyuruh orang,dia pikir dia itu siapa? Polisi atau detektif? Kenapa nggak jadi detektif aja sekalian!" Ariska kesal,dia mengacak-acak rambutnya sendiri dan kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur,kepalanya di buat pusing oleh Dea.


"Tapi,bagaimana kalau mama yang melakukannya? Mama yang telah memukulnya dan mama juga yang membuat Diana kelaparan." Batin Ariska,perasaannya kini menjadi semakin kacau,dia tidak ingin mamanya melakukan hal seburuk itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Di kamarnya Diana juga melakukan hal yang sama seperti Ariska. Diana tidak tahu apa Ariska juga bisa di percaya seperti sahabatnya Dea atau tidak. Ariska anaknya tante Sofia,dia pasti akan melindungi ibunya,sekalipun dia tahu kalau ibunya sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya dia lakukan.



"Seharusnya aku sudah harus keluar dari rumah ini,aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini,entah apa yang sekarang tengah mereka rencanakan,bahkan aku tidak tahu siapa musuh sebenarnya." Diana merasakan kalau selama ini tante Sofi hanya menjalankan tugas dari seseorang,mungkinkah orang itu ayahnya? Sebab dia sempat mendengar tante Sofi memanggil lelaki itu dengan sebutan papa,ya bisa jadi tante Sofi menerima perintah dari ayahnya,yang tak lain adalah kakek Diana sendiri.


"Kamu belum tidur Angga?" pak Johan papanya Angga datang menghampiri cowok itu yang masih duduk di teras depan sambil memainkan gitar di tangannya.


"Angga belum ngantuk pa," jawabnya tidak bersemangat. Pak Johan sudah dapat menebak kalau Angga seperti ini dia pasti sedang memiliki masalah.


"Sudah jam 11:00 malam kenapa belum ngantuk,kamu lagi punya masalah ya?" tebak papanya. "Ayo ceritakan sama papa! Siapa tahu papa bisa bantu."



"Ini tentang teman aku,kami satu sekolah dulu,dan hari ini aku bertemu dengan dia lagi,waktu tadi sore saat Angga pergi menikmati suasana di pantai,papa tahu apa yang terjadi?" tanya cowok itu,pertanyaannya memang sangat konyol,tidak di kasih tahu ya bagaimana bisa papanya tahu.


"Tidak! Kan kamu belum ngasih tahu papa."


"Dia tidak kenal sama aku." Ucap Angga dengan wajah sedihnya. Papanya ingin tertawa,tapi dia menahannya,jadi pak Johan hanya tersenyum saja. "Tapi bukan itu yang membuat aku kepikiran sama dia," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Lalu apa yang kamu pikirkan?" pak Johan kelihatannya semakin tertarik dengan kelanjutan cerita Angga.


__ADS_2