
Bi Murni sudah sangat ketakutan dari tadi,Diana sendiri juga sama,dia tidak tahu harus menelepon siapa,tidak ada satupun yang mengangkat teleponnya,akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Angga.
"Ya,ada apa Di?"
"Ga,kamu di mana sekarang?" tanya Diana,suaranya terdengar seperti orang yang sedang ketakutan.
"Aku baru aja sampai di rumah."
"Tolong hubungi tante Andriana dong,bilang kalau aku tidak bisa tinggal lagi di sini,orang suruhan om Indra sudah ada di sini,nyawa aku dan bibi sedang dalam bahaya sekarang."
Klik! telepon di matikan.
"Halo Di,kamu masih-- "Ah sial! Teleponnya di matiin lagi." Angga sangat khawatir saat itu,dia langsung menghampiri mama dan papanya yang kebetulan siang hari itu ada di rumah.
"Mama!" teriak Angga saat keluar dari kamarnya,dia terlihat begitu panik.
"Papa,ini gawat pa,nyawa Diana dan bi Murni sedang dalam bahaya sekarang."
"Maksud kamu bagaimana? Coba bicara yang jelas!" pak Johan dan istrinya ikutan khawatir.
"Itu anak buahnya om Indra sudah tahu di mana Diana bersembunyi,dan Diana bilang sekarang mereka sedang mengawasinya dari luar rumah,sepertinya menunggu Diana keluar dari rumah itu.
"Pa,cepat hubungi Andra dan Andriana!" suruh bu Melinda.
\*\*\*\*\*
Andriana yang saat itu sudah berada di kantor Andra,hanya bersikap santai saja saat mendengar kabar dari Johan dan istrinya.
"Andriana,kita harus bergerak ke sana sekarang,Diana tidak boleh hilang lagi dari samping kita," Andra begitu panik.
"Sejak kapan kamu begitu peduli mas,akhir-akhir ini aku melihat kamu sangat santai dengan hidupmu,kamu malah melimpahkan semua urusan ini sama aku," Andriana masih juga tidak terlihat panik.
"Sudahlah,aku juga tidak ingin berdebat sama kamu,aku mau ke sana menjemput Diana dan membawanya ke rumah kita,dia itu sudah menjadi tanggung jawab kita,kalau kamu tidak mau ikut terserah." Pak Andra langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Andriana.
__ADS_1
"Mas Andra,aku sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk berjaga-jaga di sekeliling rumahnya bi Murni,jadi mereka tidak akan kenapa-napa!" seru Andriana,namun sia-sia saja dia mengatakannya,sebab pak Andra sudah tidak ada lagi di sana.
"Yah,mas Andra keburu pergi lagi."
\*\*\*\*\*\*
"Halo Kev,kalian di mana? Masih mengawasi rumah bi Murni kan?" tanya Andriana saat menghubungi anak buahnya.
"Kami semua di rumah sakit nona,sepertinya ada yang memasukkan obat ke dalam makanan yang kami makan."
"Kurang ajar,ini pasti ulah Indra." Andriana langsung mematikan handphonenya dan segera pergi ke kampung bi Murni,perjalanannya juga butuh waktu sejam lebih lagi,sepertinya dia nggak bakalan sampai tepat waktu di sana.
\*\*\*\*\*\*\*
Diana tidak bisa lagi menunggu mereka datang untuk menjemputnya,karena kelihatannya orang suruhan pak Indra sudah bergerak menuju rumah mereka,benar saja tampak dari luar mereka sudah turun dari mobilnya,jadi bi Murni segera mengajak Diana keluar lewat pintu belakang.
"Kita akan pergi lewat jalan mana bi?" tanya Diana.
"Lewat jalan setapak itu nak,tapi kita harus melewati hutan ini dulu,nanti sampai di sana baru kelihatan jalan rayanya,semoga saja ada mobil yang lewat," jelas bi Murni.
\*\*\*\*\*\*\*
"Mereka sudah kabur duluan bro,coba deh lo cek pintu belakang!" suruh lelaki itu pada salah satu temannya.
"Wah,mereka lewat belakang bos," ungkap temannya yang bertubuh sedikit gemuk itu.
"Suruh Edi dan Bimo yang mengejar mereka melewati hutan itu! Kita lewat jalan raya saja,cepat!" perintahnya dengan suara keras.
Setelah membagi tugas,mereka pun berpencar,dua orang mengejar dengan melewati hutan sedangkan dua lainnya melewati jalan raya,sepertinya mereka akan menunggu Diana di sana.
\*\*\*\*\*\*\*
"Bi, sepertinya mereka mengejar kita deh." Ucap Diana,karena perasaannya saat itu semakin tidak enak.
__ADS_1
"Aduh nak,bibi sebenarnya sudah tidak kuat lagi untuk berlari,sebaiknya kamu pergi saja duluan,bibi sudah tua kaki bibi sudah sangat lemah," bi Murni mulai terlihat menyerah,wanita tua itu memang sudah tidak sanggup lagi melanjutkan langkahnya,mereka sudah berlari cukup jauh dan bibi sudah benar-benar kelelahan.
"Diana!!"
"Diana! Kamu tidak akan bisa lolos kali ini!" seru anak buahnya pak Indra,dan suara mereka menggema di hutan itu. Diana dapat mendengarnya dengan jelas.
"Bi,itu mereka bi! Kita harus secepatnya pergi dari sini,sebentar lagi juga akan sampai di jalan raya,ayo bi!" bujuk Diana memberi semangat dia menangis tidak mungkin juga dia meninggalkan bi Murni di sana,mereka pergi berdua dan dua-duanya harus selamat.
Akhirnya bi Murni kembali berdiri,menguatkan diri untuk terus berlari,ya mereka harus selamat,harus!
"Diana.!!"
Orang suruhan pak Indra terus memanggil dan Diana dapat merasakan bahwa langkah mereka semakin dekat. Diana dan bi Murni semakin mempercepat langkah mereka,kini di depan mata mereka mulai terlihat jalan raya dan ada sebuah mobil yang menunggu di sana,mereka benar-benar harus berhati-hati jangan sampai masuk dalam jebakan pak Indra.
"Diana cepat!!" seru gadis itu melambaikan tangannya dan itu ternyata Ariska.
Mengetahui bahwa itu adalah Ariska membuat Diana semakin semangat,hingga dia lupa bahwa bi Murni ketinggalan di belakangnya. "Bi,cepat! Itu Ariska!" Diana masih menunggu bi Murni mempercepat langkahnya.
"Hei berhenti di sana!!!" suruh seorang lelaki,mereka bertubuh besar terlihat sangat menakutkan.
"Bi cepat!" Diana masih menunggu,Ariska juga masih di sana.
"Bibi tidak kuat,pergi saja dulu selamatkan diri kamu!" seru bi Murni saat di rasa kakinya semakin sakit.
Diana bimbang,meninggalkan bi Murni jelas saja dia tidak mau,namun lelaki itu juga semakin dekat dengan bi Murni.
Sebuah mobil datang lagi,kini pengendaranya pun Ariska tidak kenal sama sekali,dia memakai topi,menutup sebagian wajahnya yang terlihat hanya matanya saja,penampilan dari luar bahkan tidak bisa di tebak itu lelaki atau wanita.
"Kamu bawa Diana pergi dari sini,biar saya yang menghadapi lelaki itu," suruh orang yang tidak di kenal itu,Ariska langsung pergi dan menarik Diana untuk ikut bersamanya.
Bi Murni sekarang sudah di tangkap oleh suruhannya pak Indra.
"Dasar nenek tua,kamu sudah melakukan kesalahan besar sebentar lagi kamu akan merasakan akibatnya,karena sudah berani bermain-main dengan bos kami!" ucap lelaki itu,dia menarik kasar lengan bi Murni,wanita itu hanya merintih menahan sakitnya dalam hati dia berharap Diana selalu dalam lindungan-Nya.
__ADS_1
"Hei botak! Lepaskan wanita itu!" seru seseorang,siapa dia?