
"Prang!!!
Suara gelas yang sengaja di lempar begitu saja,hingga jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Ada beberapa lelaki yang bertubuh besar berpakaian serba hitam masih berdiri tegak di sana,sepertinya mereka sudah terbiasa menyaksikan pemandangan seperti itu.
"Maafkan saya tuan, sepertinya kali ini kita tidak bisa menghancurkan perusahaan pak Andra,dia rupanya sudah membuat persiapan yang matang." Kata lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Kamu cari cara lain,lakukan apa yang bisa kamu lakukan!" perintah lelaki itu sambil menyembulkan asap rokoknya.
"Saya akan mencari cara lain lagi,kalau begitu saya pergi dulu," pamit lelaki itu sebelum keluar.
"Saya bersumpah akan menghancurkan seluruh keluarga kamu Daniel,kamu sudah merebut Damara dari aku,dan juga membuat istriku meregang nyawa di depan mataku." Lelaki tua itu kemudian tertawa,tawanya terdengar mengerikan,dia terlihat seperti pembunuh saja,tatapan matanya lebih menakutkan dari pada singa yang hendak menerkam mangsanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Dea sengaja tidak masuk kuliah hari ini,entah apa yang akan di lakukannya dengan Andriana di dalam cafe itu,mereka kelihatannya sih sedang menyamar.
"Tante,kita ini sudah tidak mirip seperti detektif lagi,kita sudah seperti seorang pencuri yang sedang menunggu korbannya lengah" ucap Dea mengomel,dia tidak nyaman dengan pakaian yang di pakainya sekarang,jas hitam yang kebesaran di tubuhnya itu dan juga kumis palsu untuk menyempurnakan penyamarannya. Semua itu benar-benar tidak nyaman,sangat menggangu.
"Sssttt... Diam! Kalau kamu tidak bisa diam maka pergi saja! Biar tante sendiri yang akan menguping pembicaraan mereka." Ucap andriana
Wanita itu tahu bahwa dirinya tidak adil,Dea disuruh berpakaian layaknya seorang lelaki,sedangkan dia sendiri hanya memakai rambut palsu,kaca mata dan juga sedikit polesan pada wajahnya,agar tidak ada yang mengenalinya sebagai nona Andriana.
"Tuan Abraham menyuruh saya mencari cara lain untuk menghancurkan perusahaan pak Andra." Ucap pria berbaju hitam.
"Saya heran dengan bos kamu,zaman sekarang masih saja menyimpan dendam,tidak ada habisnya dengan balas dendam dia," lelaki itu berkata sinis,sepertinya dia tidak mau bekerja sama dengan pak Abraham.
"Mau atau tidak?" lelaki berpakaian serba hitam itu bertanya lagi.
"Saya sudah tidak berkecimpung di dunia kotor seperti itu lagi.
"Kamu tidak takut,jika tuan Abraham melakukan sesuatu yang buruk terhadap keluargamu?"
"Saat ini kamu memang sedang menjadi anjing kesayangannya,tapi sebentar lagi kamu juga akan di jadikan tumbal seperti ssaya. Saya baru keluar dari penjara, dan tidak ingin lagi masuk ke sana,kalau kamu mau bantu,bantu saja sana! Saya tidak mau lagi menjadi anjing si tua bangka itu." Lelaki itu sangat marah,sampai dia menggebrak meja begitu saja tanpa peduli dengan orang di dalam cafe itu yang menatap ke arah mereka berdua.
"Kalau tidak mau ya tidak mau saja,tidak perlu marah-marah." Ucap lelaki yang berpakaian hitam itu,saat melihat temannya pergi begitu saja.
__ADS_1
\[\[\[\*\*\*\*\*\]\]\]
Dea dan tante Andriana kini sudah berada di dalam mobil,Andriana terus mengatur nafasnya yang mulai memburu,dia tidak bisa bernafas dengan baik,amarahnya sekarang benar-benar sudah berada di ubun-ubun kepalanya.
"Jadi,dalang di balik ini semua adalah tuan Abraham?" Dea tidak dapat menyembunyikan keingintahuannya.
"Ya,tuan Abraham Alexander,kakeknya Diana." Jawab Andriana,pandangannya masih menatap jalanan dengan kendaraan yang berlalu lalang.
"Beberapa hari yang laluDea sempat bertanya ke Diana siapa yang sudah memukulnya,dan dia bilang nama orang itu S dan a."
"Itu sudah pasti Sofia,mamanya teman kamu itu rupanya dia memang tidak menginginkan Diana hidup tenang." Andriana sangat marah,kemarahannya itu tampak jelas,dia tidak menyangka kalau sofia yang juga seorang wanita,tega berlaku kejam kepada Diana.
Andriana baru saja menghidupkan mesin mobilnya tapi tiba-tiba...
"Dor !!
Terdengar dua kali suara tembakan,dan itu terjadi tepat di depan mobil mereka. Dea terpaku sejenak,matanya tidak berkedip sama sekali,dia melihat seorang lelaki di tembak tepat di depannya.
"Gawat... Itu lelaki tadi,bagaimana bisa dia di tembak,si-siapa yang telah melakukannya,?" Andriana jadi bingung,dia langsung keluar dari mobilnya dan berusaha masuk ke dalam kerumunan orang-orang. Mereka sibuk menelpon ambulance,ada juga yang menghubungi polisi,melihat keadaan pria itu,jelas dia tidak bisa bertahan lama,jadi Andriana bertindak cepat dengan menyuruh orang-orang untuk memasukkan pria itu ke dalam mobilnya. "Pak,bu tolong bantu saya memasukkan lelaki ini ke dalam mobil,saya akan membawanya ke rumah sakit,kalau menunggu di sini yang ada dia akan mati." Pinta wanita itu,dia sangat khawatir.
"Iya,iya benar"
"Ayo di bantu ! Suruh beberapa orang di sana.
Dea masih di dalam mobil tidak berani keluar,dia hanya melihat Andriana yang sibuk menyuruh orang untuk memasukkan pria itu ke dalam mobilnya.
"Dea,kamu yang nyetir!" suruh Andriana,dia duduk di belakang untuk memastikan kondisi pria itu. Darahnya mengalir cukup banyak,dua kali tembakan yang mengenai dada dan tangan kanannya.
__ADS_1
"Ya Allah,tolong selamatkan nyawa pria ini." Mohonnya dengan penuh keyakinan.
"Tante,kenapa tidak biarkan polisi saja yang bertindak,kenapa tante harus menolongnya dan sok menjadi pahlawan,kita benar-benar dalam bahaya kali ini." Dea khawatir,apalagi lelaki itu dulunya pernah bekerja dengan tuan Abraham.
"Jangan ke rumah sakit,kita ke rumahnya tante winda,"
\*\*\*\*\*
Beberapa hari ini Diana hidup dengan cukup damai,tante Sofia tidak mengusiknya sama sekali. Tapi keadaan seperti inilah yang membuatnya semakin berhati-hati,bisa jadi setelah ketenangan,ombak besar akan datang menghantamnya.
"Kamu di panggil papa,Diana." Ujar Ariska,kala itu Diana baru saja selesai mencuci piring.
"Katakan saja aku masih..." tanpa menunggu Diana menyelesaikan omongannya,Ariska langsung menarik tangannya,dia tahu Diana hendak mencari alasan lagi,selalu seperti itu,dia seperti sedang menghindari om Indra.
"Nah,sekarang duduk yang manis di sini! Dengarkan apa yang mau di omongin pdiana Ariska menekan kedua pundak Diana agar duduk di depan papanya. "Sekarang apa yang mau papa katakan? Kebetulan yang punya badan lagi ada di sini." Tambah Ariska dia duduk di samping Diana.
"Kamu selalu menghindar setiap kali om cari kamu,kenapa? Apa om punya salah?" tanya om Indra lembut,lelaki itu memang selalu memperlakukannya dengan baik,jadi tidak mungkin Diana terus mengabaikan omnya.
"Om mau ngomong apa?" bukannya menjawab pertanyaan om Indra,Diana malah balik nanya.
"Diana... Diana,kamu selalu seperti ini." Om Indra menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sikap Diana yang tidak suka basa basi dan langsung ke topik pembicaraan.
"Kalau seandainya om mengizinkan kamu untuk lanjutin studi kamu,kamu mau tidak?"
"Diana nggak mau om,lagian sudah nganggur dua tahun untuk apa kuliah lagi." Jawaban Diana membuat Ariska dan papanya salah tingkah sendiri. Apa yang dikatakan Diana memang benar,kalau memang mau menyuruhnya kuliah kenapa tidak dari dulu saja.
"Iya kamu benar,mestinya saat itu om tidak perlu mendengarkan perkataan tante Sofia,kalau om tidak mengikuti omongan tante pasti kamu sudah bisa mencapai impian kamu sekarang." Lelaki itu terlihat bersedih,dia menyesal. Melihat ekspresi di wajah om Indra,membuat Diana merasa tidak enak hati,sebenarnya om Indra memihak siapa? Ini semakin membingungkan.
Diana kemudian tersadar dari pikirannya yang melayang-layang entah kemana,dia baru menyadari tadi om Indra menyebut nama tante Sofia,bagaimana kalau wanita jahat itu ada di sana dan mendengar ucapan om Indra,apa yang akan terjadi,pasti dia yang kena imbasnya.
"Om tidak perlu merasa bersalah,Diana memang tidak ingin kuliah kok,Diana tidak memiliki impian apapun." Ucapnya jujur,Ariska semakin merasa bersalah mendengar perkataan Diana.
"Kamu jangan ngomong gitu dong Diana,kamu bikin kita sedih aja." Ariska yang dari tadi hanya duduk diam dan mendengarkan ikut mengomentari ucapan Diana.
__ADS_1