Kasih Yang Hilang

Kasih Yang Hilang
Pertengkaran


__ADS_3

"Mas,kamu yakin Diana bakalan aman di sana?" Andriana bertanya setelah Dea dan mamanya sudah pulang.



"Kita bisa apa,Na? jawab pak Andra sekilas,lelaki itu kembali menghisap rokoknya,pikirannya saat ini telah di penuhi macam-macam masalah.



"Aku khawatir bahkan sangat khawatir,dengan keadaan anak itu. Kita yang bersalah tidak mau merawatnya dulu,hingga dia di rawat oleh Anita dan suaminya...



"Dan kemudian di bawa paksa oleh keluarga Indra," sambung pak Andra lelaki itu tersenyum kecut.



"Sampai detik ini aku masih sangat membenci Sofia dan seluruh keluarganya,kalau nanti ketemu mereka aku akan memberikan balasan yang setimpal." Andriana terlihat serius dengan ucapannya.



"Menurut aku Indra bisa jadi pengecualian,sepertinya apa yang di katakan Dea bisa saja benar."



"Benar? Jadi mas percaya kalau Indra itu tidak bekerja sama dengan papanya yang brengsek itu untuk melenyapkan Diana?"



"Ya,aku percaya 100%," jawab pak Andra mantap.



\*\*\*



Hari sudah malam,Angga masih belum beranjak dari rumah bi Murni,padahal Diana sudah menyuruhnya untuk segera pulang.


"Ini sudah malam,kamu tidak takut kalau nanti aku kenapa-napa di jalan?" tanya Angga,itu hanya alasannya saja sebenarnya dia sangat ingin menghabiskan waktu beberapa hari bersama diana di sana,apalagi pemandangan di kampung bi Murni sangat indah.


"Itu cuma alasan kamu aja kan? tebak Diana." Kamu pasti punya niat lain," lanjutnya lagi.


Angga tersenyum saja dan melihat ke arah bi Murni,berharap wanita itu mengizinkan dirinya untuk nginap di sana,meski cuma semalam saja.


"Iya,boleh." Jawab bi Murni,wanita itu sudah tahu apa yang yang ingin Angga tanyakan kepadanya hanya dengan melihat tatapan matanya saja



\*\*\*\*\*

__ADS_1



Di malam yang sama di rumah kediaman keluarga pak Doni sedang terjadi keributan besar.


Pak Indra dan anak buahnya memaksa masuk ke rumah mereka,hingga terjadilah hal yang tidak di inginkan,hanya beberapa menit saja,orang suruhan pak Indra berhasil mengalahkan penjaga di kediaman mereka.


Dea yang mendengar keributan di luar langsung keluar dari kamarnya untuk memastikan apa yang terjadi.



Begitu sampai di lantai bawah dia sangat tercengang melihat kedua orang tuanya duduk dengan tenang di sana,seolah tidak terjadi apa-apa dan tiba-tiba pintu rumah mereka terbuka,tampak sosok lelaki dengan tubuhnya yang masih tampak gagah berdiri di sana,dia pak Indra papanya Ariska.



Dea berdiri mematung di sana,tidak bergerak sama sekali,dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan dengan cepat tinjunya om Indra sudah melayang ke wajah papanya.



"Bukk!! Lelaki itu memukul pak Doni,Anita yang duduk di depan suaminya hanya melihat saja,wanita itu terlihat sedang menikmati pertunjukan yang di pertontonkan oleh kedua orang di depannya.



"Brengsek kamu Doni,berani-beraninya kamu menyembunyikan Diana,kamu bawa kemana dia?" tanya pak Indra masih dengan amarah yang menggebu-gebu.



"Mas Indra duduk dulu,kita bicara baik-baik," ajak Anita masih dengan nada bicaranya yang santai.




"Kenapa mencari Diana ke sini?" tanya pak Doni saat Indra sudah duduk di sampingnya.


Pak Indra menarik nafas panjang sebelum menceritakan masalah yang telah terjadi.


"Kalian pasti sudah tahu kalau Diana sudah kabur dari rumah aku."



"Tentu saja kami tahu,tapi kamu jangan menanyakan di mana dia sekarang,kami juga tidak tahu." Pak Doni berbohong,dia tidak ingin keberadaan Diana di ketahui oleh lelaki di sampingnya itu.



"Lalu,mas Indra kenapa datang ke sini? Apa karena mas Indra mencurigai kalau kami telah menyembunyikan Diana di sini?" tebak Anita.



"Tentu saja bukan,aku ke sini sengaja membuat keributan karena papa sudah mengincar kalian,anak buahnya sedang memata-matai rumah ini,jadi aku sengaja masuk ke sini dan membuat seolah-olah aku juga mencurigai kalian,tapi ternyata Diana tidak ada di sini,dengan begitu nama kalian akan hilang dari daftar orang yang papa curigai," ungkap pak Indra.

__ADS_1



"Bagaimana kamu tahu kalau mereka sedang memata-matai kami?" entah kenapa kini pak Doni mulai curiga sama pak Indra.



"Istriku yang mengatakannya,papa tidak tahu kalau Sofi sudah tidak bisa di ancamnya lagi."


Dea yang sejak tadi berdiri di dekat tangga langsung kembali ke kamarnya,dia ingin menelpon tante Andriana,tantenya itu pasti sangat ingin meninju wajah pak Indra.


\*\*\*\*\*\*



Benar saja,20 menit kemudian tante Andriana sudah tiba di rumahnya,wanita itu tidak ada sopan-sopannya,main nyelonong masuk gitu aja. Pak Indra yang tidak menyadari akan kedatangan Andriana merasa sangat kaget saat tiba-tiba sebuah tinju sudah mendarat di wajahnya.



"Bukk!!"



"Bukk!!!" cukup dua kali,Andriana sudah merasa puas sekarang,pak Indra tidak bisa berkata apa-apa,dia hanya bisa menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.



"Saya tidak menyadari kedatangan kamu Andriana,heh..." Lelaki itu tersenyum sinis.



"Duduk dulu An! Kebetulan kita sekarang berkumpul di sini,saat yang tepat untuk menjelaskan tentang kesalahpahaman di masa lalu." Ujar Anita,wanita itu tahu saat ini Andriana paling tidak bisa di provokasi,bisa-bisa keinginannya untuk membunuh pak Indra saat itu juga terlintas lagi di pikirannya.



"Ini baru permulaan Indra,aku sebenarnya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberi pelajaran kepada istrimu." Jawabnya jujur



"Aku sebenarnya datang ke sini hanya untuk mengatakan yang sebenarnya kenapa dulu aku membawa Diana pergi secara paksa." Pak Indra berusaha menjelaskan.



"Berarti kamu juga yang sengaja mengunci aku di toilet hari itu?" tanya Anita penuh selidik.


"Soal itu aku tidak tahu,hari itu aku baru saja selesai menemani Sofia berbelanja,kami singgah sebentar di cafe itu,dan aku tidak sengaja melihat orang suruhannya papa ada di luar cafe,jadi aku merasa heran kenapa mereka berkeliaran di sana. Begitu melihat di sana ada Diana,aku baru sadar kalau mereka sedang mengincar Diana,dan aku mengajak dia pergi bersamaku."


"Tapi saat itu dia tidak mau,kenapa mas Indra sangat memaksanya,setelah mengambil dia dari aku kamu juga tidak bisa menjaganya dengan baik." Mata bu Anita tampak berkaca-kaca,dia teringat cerita Diana semalam bahwa gadis itu selalu merindukannya,bahkan selalu berharap mereka datang untuk menjemputnya.


"Kamu tahu siapa yang mengunci kamu kan? Dia juga orang suruhan papa,kalau aku tidak mengambil Diana hari itu,apa kalian yakin masih bisa melihatnya tumbuh dewasa seperti sekarang?" pak Indra marah,wajahnya kembali memerah,nada bicaranya pun tidak selembut tadi.

__ADS_1


"Kamu memang pantas di salahkan Indra. Diana memang sangat menderita,belasan tahun hidup dengan kalian sudah membuat setengah jiwanya terguncang." Tambah pak Doni ikut menyalahkan.


"Lalu bagaimana dengan Andra dan Andriana? Mereka bahkan tidak datang ke pemakaman adiknya dan tidak mau merawat keponakannya," sindir pak Indra,dia melihat Andriana dengan ujung matanya,Andriana diam saja dia menyadari akan kesalahannya.


__ADS_2