
Hujan gerimis membasahi kota. Kendaraan berlalu lalang meninggalkan bekas air di trotoar jalan. Pelabuhan mati dipenuhi oleh anggota organisasi gangster kelas kakap. Mereka berkumpul untuk melakukan transaksi besar dengan organisasi dari negara tetangga.
Kapal kontainer merapat, melemparkan tali, mengikatnya di pelabuhan. Dengan serentak, seluruh anggota menunduk begitu tetua organisasi Cruz keluar. Dengan tampang ganasnya dia turun dari kapal. Rambutnya yang diikat mulai memutih tetapi tubuhnya tetap gagah.
tetua organisasi Cruz bersalaman dengan ketua organisasi Buntar'.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Alvan."
orang paruh baya itu tersenyum.
"Sudah lama juga saya tidak bersalaman dengan anda, tuan Sog."
Mereka melanjutkan percakapan di kantor Alvan dengan diikuti oleh lebih 200 anak buah. Pertemuan yang sangat penting ini dilakukan untuk membahas bisnis rempah-rempah yang akan dikirim ke negara China. Pesanan bukan hanya 2 atau 3 ton, tetapi lebih dari 20 ton rempah rempah akan siap dikirimkan. Alvan meminta Tetua Sog untuk bertemu dan membahas hal ini agar berjalan dengan lancar.
Rapat berjalan dengan lancar. Sog menandatangani kontrak dari Alvan.
"saya harap dengan begini bisnis kita makin lancar, Alvan."
Alvan tidak menjawab kalimat Sog, dia hanya tersenyum. Sog sudah masuk ke dalam mobil sedan hitamnya, meninggalkan gerbang kantor Alvan.
Jam menunjukan pukul dua belas malam. Alvan menyuruh anak buahnya menolak seluruh tamu yang datang, mau itu presiden sekalipun, dia sudah terlalu lelah setelah rapat panjang bersama Tetua Sog.
Belum kering bibir Alvan, anak buahnya menelpon Alvan, berkata ini sangat penting. Alvan akhirnya membuka pintu, menyuruh anak buah itu masuk.
"Dewan 4 mati malam ini."
Tangan kanan Alvan yang duduk di depan Alvan menyibakkan jaketnya yang basah karena hujan.
Alvan yang tadinya mengantuk jadi membuka matanya lebar-lebar. Apa yang barusan di dengarnya? Dewan 4 dibunuh?
"apa kau serius, Vladimir?"
Alvan menyalakan televisi.
Benar saja, malam ini tepat pukul jam 23.30, Dewan 4 ditemukan sudah tidak bernyawa di ruangan sel-nya dengan keadaan digantung. Kemungkinan bunuh diri setelah dirinya diketahui korupsi sebesar dua milyar seminggu yang lalu.
Dewan 4 bernama Chain sangat berpengaruh dalam dunia organisasi gangster, keluarga mafia, dan geng-geng lainnya. Dalam tanda kutip "buruk". Chain tidak mau disuap oleh organisasi dan selalu mengusulkan undang-undang untuk menyusahkan organisasi. Seperti, menambah hukuman penjara bagi orang yang suka melakukan pungutan liar, lahan parkir secara ilegal dan lain-lain.
Undang-undang yang terakhir diusulkan oleh Chain yaitu menangkap seluruh pelaku organisasi sebelum akhirnya dia ditangkap karena dirinya diketahui korupsi dua milyar.
"dia dibunuh."
"oleh?"
"yang pasti oleh organisasi besar."
__ADS_1
"Cruz?"
"Kemungkinan bukan dia. Seperti yang kau tahu, barusan aku baru saja rapat dengan tetua Sog, membahas transaksi rempah-rempah ke negara China. Dia dari negri sebrang, tidak ada kaitannya dengan negara kita ini."
"mungkin saja dia sedikit risih mendengar Chain selalu berisik."
Alvan menghela napas, televisi dimatikan.
Cruz jelas tidak ada kaitannya sama sekali dengan ini. Mereka selalu tutup telinga jika ada masalah sepele, apa lagi ikut campur yang jelas bukan urusan dia. Ini ulah organisasi besar yang sudah muak dengan perilaku Chain hingga terpaksa membuatnya tutup mulut.
Organisasi gelap dunia ada enam dan petingginya adalah tetua Sog, pemimpin organisasi Cruz. Sisanya organisasi yang hampir sama besarnya tetapi yang sangat dihormati adalah organisasi Cruz. Jika kalian adalah anggota Cruz lalu datang ke toko kelontong, begitu menyebutkan nama Cruz maka mereka akan segera memberikan apapun secara gratis, bahkan jika itu emas batangan sekalipun. Pertama, karena Cruz dihormati dan yang kedua karena mereka takut dengan centeng yang berasal dari Cruz.
Alvan menyuruh Vladimir untuk menyelidiki kasus ini. Vladimir sudah melemparkan berkas ke atas meja.
"Apa ini?"
"Bukti yang sudah dikumpulkan."
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Polisi, dari mana lagi?"
Alvan membuka berkas, melihat satu persatu foto yang ditampilkan. Terlihat jelas mayat Chain yang sudah kaku tergantung di langit-langit sel.
Alvan sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hal ini, tetapi Chain adalah teman baiknya saat sekolah menengah pertama. Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi pemimpin.
"Kau mau jadi apa kalau sudah besar, Van?"
Chain membuka tempat bekel yang dia bawa dari rumah.
"Apakah itu urusan mu?"
Alvan menjawab dingin.
"Loh, sebagai teman sebangku mu, aku berhak saja menanyakan hal tersebut bukan?"
"Bukan."
Chain tersenyum.
"Kalau aku memiliki cita-cita menjadi pemimpin,"
Chain menatap keluar jendela di sebelahnya. Alvan masih tidak peduli.
Saat itu Alvan adalah anak baru pindahan dari sekolah luar kota. Ayahnya ditangkap polisi karena kasus korupsi besar-besaran yang mengharuskan Alvan pindah ke rumah kakeknya. Satu sekolah sudah tahu ayahnya Alvan tetapi Alvan tidak peduli, dia hanya peduli tentang dirinya agar tidak jadi seperti ayahnya.
__ADS_1
Kakeknya Alvan selalu memberikan nasihat, "tidak semua di dunia ini abadi tetapi yang namanya masalah hidup itu pasti abadi. Jadi, seberat apapun cobaan hidupmu, jangan pernah menyerah, Alvan."
Langit senja terlihat indah di belakang rumah Alvan. Rumah panggung kayu di tengah padang rumput dan danau kecil di sampingnya, bagian belakangnya tepat menghadap ke barat di mana mata hari mulai pamit pergi.
Kopi hitam di gelas mengepul, panas.
Alvan masih membaca buku tebalnya. Dari sekian banyak buku yang tertumpuk di sebelahnya, itu adalah buku yang ke 34 yang dia baca.
"Terkadang terlalu menjadi pintar itu tidak baik, Alvan."
Kakeknya datang dari bingkai pintu.
Alvan masih membaca buku, tidak menoleh.
"Kau tahu, orang-orang bejat di luar sana adalah orang-orang pintar. Krisis ekonomi, nuklir, peperangan, itu semua adalah ulah orang yang terlalu pintar,"
Kakek Alvan menyiapkan makan malam.
Kali ini Alvan tertarik, dia menutup bukunya lalu membalikan kursi.
"Apa yang membuat mereka bisa seperti itu? Sedangkan mereka adalah orang-orang pintar." Alvan bertanya penasaran.
"Mereka melupakan satu ilmu,"
Alvan mengusap dagu, berpikir. Hampir setiap orang yang terlalu pintar, mereka memiliki semua ilmu.
"Namanya ilmu iman, Alvan."
Alvan mulai tidak tertarik, dia langsung balik badan. Setiap kakeknya membicarakan agama, dia tidak tertarik untuk membahasnya. Lihat ayahnya, dia adalah pemuka agama, anggota dewan, apa lagi yang kurang? Dia tetap menjadi manusia bejat tidak memiliki akal.
"Mereka semua berbeda dengan ayahmu, Alvan."
Kakek Alvan berbicara sambil memotong sayuran.
"Ayah mu itu adalah orang yang hebat, dan dia tidak salah."
"Tidak salah dari mana?"
"Ayahmu itu-"
"DIA JELAS-JELAS SEPERTI ANJING! BAHKAN ANJING SAJA BISA LEBIH BAIK DARI PADA DIA!"
Alvan membereskan buku-bukunya. Pergi meninggalkan teras belakang rumah.
Kakek Alvan hanya bisa diam melihat Alvan masuk ke dalam kamar. Azan Maghrib berkumandang. Kakek Alvan melaksanakan shalat dan makan malam sendiri tanpa ditemani cucunya.
__ADS_1
Waktu menunjukan jam 23.30 Alvan memutuskan keluar kamar, perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Saat mengendap-endap, Alvan melihat kakeknya tidur d sofa ruang tamu dengan buku di dadanya, berjudul, "hukum tetap hukum". Awalnya Alvan tidak peduli dengan buku itu sampai dia melihat nama pena di buku itu yang bukan lain adalah ayahnya sendiri.