
Halo sekali lagi penulis ingatkan, ini hanya karangan saja bukan dari kejadian nyata. Bacalah di waktu luang, tapi jangan sampai menghabiskan waktu anda.
-----------------------
Arya mengantongi smartphone dan melihat sang papa yang berjalan santai meninggalkan mereka. Pria itu melirik sang adik yang sudah tersenyum dengan sangat lebar. Nindia sendiri hanya diam dan mengalihkan pandangan darinya.
Arya mengerutkan alis dengan reaksi Nindia, tapi itu hanya sebentar saja. Dia berjalan di belakang kedua gadis itu tanpa tahu tujuan mereka sebenarnya.
"Kak Arya diminta papa nemenin kita kan?" tanya Aya tiba-tiba.
"Tentu saja, jika tidak kenapa kakak harus mengikuti kalian," jawab Arya dengan santai. Matanya yang tajam menatap setiap wahana yang belum ia lihat sedari tadi.
Kedua tangannya masuk ke dalam celana. Wajah yang tampan dan datar menjadi daya tarik Arya. terbukti semua orang tengah memperhatikan pria itu dengan tatapan memuja.
Arya yang semula berjalan dengan tenang di belakang tiba-tiba saja menjadi mematung. Rahangnya mengeras melirik sang adik yang sudah menahan tawa. Dia ingin meninggalkan kedua gadis itu sebelum Aya berkata dengan agak keras, "Katanya tadi diminta papa buat ikut kita. Kak Arya nggak boleh bohong sama papa lho."
Mendengar itu, Arya meneguhkan tekadnya. Tanpa kata laki-laki itu berjalan mendahului. Menunggu dengan tangan terlipat, entah karena jengkel atau sedang menyiapkan mental.
Nindia menyerahkan 3 buah tiket kepada petugas yang berjaga. Mereka bertiga pun masuk ke dalam wahana rollercoaster. Arya bukannya takut dengan wahana yang mengandalkan kecepatan dan ketinggian ini. Dia hanya tidak suka dengan reaksi akhir yang diakibatkan oleh wahana ini.
__ADS_1
Dulu dia pernah menaiki ini saat masih sekolah dengan teman-temannya. Begitu turun ia menjadi sangat pusing dan perut yang seakan di aduk-aduk. Tentu hal yang seperti itu bukan termasuk ke dalam hal yang dikategorikan takut bukan.
Petugas membantu Aya ke kursi dan memasangkan sabuk pengamannya. Setelah selesai, gadis kecil itu berterima kasih. Nindia datang dan akan duduk di sampingnya, tapi di tolak begitu saja.
"Kak Nin di belakang saja menemani kak Arya," ucap gadis itu dengan senyum yang merekah hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih.
Nindia mengangguk dan berjalan ke belakang. Arya tampak terlihat tenang dan santai. Gadis cantik itu duduk dengan tenang dan mengenakan alat keamanan. Dia menoleh ke arah Arya yang juga tengah melihatnya. Keduanya tersenyum seakan memberi kekuatan masing-masing.
Petugas Wahana memberikan peringatan untuk menjauhi arena rollercoaster, karena sebentar lagi akan segera di mulai.
Sesampainya di luar Arya bisa melihat Wildan yang tengah duduk dengan senyum yang lebar. Dia sangat jengkel, tapi tentu tidak bisa melampiaskannya.
Berjalan dengan tertatih karena sudah tidak memiliki tenaga lagi. Arya duduk di samping Wildan dengan kaki yang lemas. Ayah dua anak itu memberikan satu botol air mineral yang diterima sang putra dengan cepat.
Arya memelototi Aya yang nampak senang dengan penderitaannya. Merasa bersalah gadis itu menyatukan kedua tangan sebagai tanda permintaan maafnya.
"Kau ini jahil sekali," ucap Arya yang sudah mulai bertenaga kembali.
Ia berdiri dan mengacak rambut Aya dengan brutal. Gadis itu tidak terima dan memukul kedua lengan itu dengan keras. Ia berucap dengan lantang, "Siapa suruh Kak Arya penakut sekali."
__ADS_1
"Kakak itu tidak takut, hanya sedikit tidak suka saja," sangkal Arya yang tidak suka dikatai penakut oleh Aya.
"Aya tahu kok tadi kakak sampai membeku pas di dalam." Gadis itu berucap tanpa melihat raut wajah Arya yang mulai garang kembali.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita lanjutkan ke wahana yang lain?" Wildan menyela pembicaraan mereka.
pria paruh baya itu bisa melihat sang putra yang sepertinya tidak akan mau mengalah dengan sang adik begitu saja. Mereka mengitari taman bermain itu dengan senang.
Hingga siang menjadi terik mereka memutuskan untuk berhenti di salah satu stand makanan terlebih dahulu. Arya memesan makanan, sedangkan Aya berceloteh panjang lebar dengan Nindia seperti biasanya.
"Lain kali kita harus kemari lagi ya kak," seru Aya memegang kedua telapak tangan Nindia.
"Tentu saja. Tapi, jangan melakukan hal seperti tadi ya. Kasihan Kak Arya kan menjadi takut," nasehat Nindia dengan perlahan agar tidak membuat Aya menjadi tersinggung.
"Tapi seru sekali melihat kak Arya seperti itu." Aya menyanggah walau dalam hatinya membenarkan perkataan dari Nindia.
"Aya tidak boleh seperti itu. Tidak baik senang jika orang yang kita sayang sedang tidak dalam keadaan baik. Memang Aya mau jika sedang sakit, Kak Arya justru bahagia?" tutur Nindia.
"Nggak suka, tapi kan Kak Arya tidak akan seperti itu," jawab Aya dengan lesu.
__ADS_1
"Kalau begitu Aya tidak boleh jahil seperti itu ya. Aya juga benar, Kak Arya pasti sedih ya kalau kamu sakit. Jadi harus jadi gadis yang baik dan sehat, mengerti?"
Aya mengangguk begitu saja. Wildan tersenyum melihat interaksi sang anak. Mungkin sebagai ayah dia terlalu memanjakan sang putri. Dia bersyukur Nindia datang di tengah-tengah mereka.