
"Pagi penuh dengan keceriaan. Sinar sang Surya menghangatkan setiap insang yang akan memulai hari. Berharap kebahagiaan akan datang menyelimuti hati ...."
"Tolong jangan sok puitis. Ini masih pagi," sela Andra yang dari belakang.
Ia merasa telinganya akan tuli jika mendengar suara sang kembaran. Mencoba menjadi puitis dengan nada yang mendayu-dayu, padahal suaranya cempreng.
Mereka baru saja sampai di sekolah. Hari ini si kembar harus berangkat di antar, karena motor yang biasa digunakan sedang berada di bengkel. Membuat mood Andra menjadi sedikit anjlok.
Andra baru saja akan masuk ke lobi sekolah, jika saja Indra tidak menarik pegangan tas. Ia berbalik dan akan memukul saudara kembarnya, namun urung dilakukan. Menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihat.
Arya baru saja masuk gerbang sekolah menggunakan motor Honda CB150X. Bukan karena kendaraan yang membuat Andra melongo, tapi orang yang duduk di kursi belakang. Siapa lagi kalau Sukma.
Ia tidak menyangka sahabatnya itu akan mendengarkan saran saudara kembarnya. Apa mungkin Arya itu polos atau yang lebih parahnya kurang pandai? Bagaimana mungkin ia menuruti perkataan Indra yang merupakan keusilan.
Menunggu mereka berdua datang, Andra memukul bahu Indra. Menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah. Memberikan peringatan kepada sang saudara.
Bukannya terintimidasi, Indra justru tersenyum mengejek. Padahal niat nya kemarin ia hanya ingin jahil kepada Arya. Tidak dia sangka pagi ini dia bisa melihat sarannya dipergunakan langsung.
Sebelum pulang kemarin ia berkata kalau Arya harus menjemput Sukma. Hal itu agar lebih memperkuat bukti bahwa keduanya tengah berpacaran. Sehingga tidak ada lagi gadis yang akan mengganggu Arya.
Mana tahu kalau Arya akan menuruti perkataannya. Lagi pula rumah Sukma searah dengan laki-laki itu. Bukan sebuah kerugian juga memberi tumpangan pada teman yang sudah membantu kan?.
"Halo pasangan baru," ucap Indra dengan lantang ketiak Arya dan Sukma mulai mendekat.
Semua orang memperhatikan mereka. Andra langsung saja menyerat sang kembaran untuk segera masuk ke kelas. Malu karena suara keras Indra, mereka menjadi pusat perhatian. Arya maupun Sukma pun mengikuti dari belakang.
Baru seperempat perjalanan, Indra mulai jahil lagi. Laki-laki itu memutar tubuh dan mendekati Arya.
"Gandeng dong tangan Sukma!" Indra melirik tangan Arya dan Sukma yang bersebelahan, namun berjarak.
Arya mengkerutkan dahi. Ia bertanya, "kenapa harus bergandengan?"
__ADS_1
Indra berdecak gemas dengan keluguan Arya. Sebenarnya apa benar jika orang di depan ini laki-laki. Atau memang cowok satu ini yang terlalu polos karena tidak pernah berpacaran?
"Gemes deh lama-lama. Kalau pacaran ya emang gandengan." Indra berdecak. Ia menyambar tangan keduanya dan langsung di satukan begitu saja.
Sepanjang jalan menuju kelas, semua memandang tidak percaya. Bagi yang tidak melihat langsung kejadian kemarin, pasti mengira bahwa berita yang beredar adalah gosip. Namun, melihat Arya dan Sukma saling menautkan jari membuat mereka menghela nafas tidak rela.
Sampai di kelas Sukma di tarik oleh Alma. Para ratu gosip dari berbagai kelas mulai mengerubungi. Arya jadi merasa bersalah karena melibatkan teman gadisnya itu.
"Apa aku sepopuler itu?" tanya Arya yang merinding karena banyak pasang mata yang berjajar di sepanjang jendela kelas.
"Kamu beneran nggak tahu kalau populer, ku kira cuma sok nggak peduli aja." Indra bersidekap di depan Arya. Bagaimana mungkin selama ini ia tidak sadar banyak yang suka padanya.
Arya menggeleng kepala. Membuat semua cowok disana mendesah lelah. Menjadi incaran cewek satu sekolah, tapi tidak pernah mengetahuinya.
Bel tanda pelajaran pertama di mulai. Semua kembali ke kelas masing-masing. Sukma mengambil nafas lega karena terlepas dari jeratan pertanyaan yang tidak ada habisnya.
Semua berjalan damai selama waktu belajar mengajar. Tapi, keriyuhan kembali terjadi saat waktu jam makan siang. Di tambah dengan Indra yang semakin gencar membuat pasangan baru itu semakin mesra.
Arya melirik Sukma yang juga sedang makan somay milikinya sendiri. Menyipit kan mata ke arah Indra yang seperti sangat antusias dengan hubungan pura-pura ini.
"Kenapa?" Indra menggeser kursi ke belakang ketika melihat tatapan Arya yang intens kepadanya. Alarm tanda bahaya membuatnya menjauh dari jangkauan sang teman.
Arya kembali mengalihkan pandanganya kepada mangkok mie ayam. Sedangkan Indra menghembuskan nafas lega. Entah kenapa tatapan temannya itu sangat mematikan.
"Makanya jangan jahil," ujar Andra setelah menendang kaki kembarannya yang terhalang meja.
Arya menggulung mie, lalu mengarahkannya ke depan. Sukma yang tiba-tiba saja di sodori menjadi terperanjat. Mencoba melihat situasi di sekelilingnya.
Semua pasang mata melirik kemari. Pasti akan canggung jika ia tak menerima suapan Arya itu. Sukma menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Wajahnya maju ke depan agar dapat menggapai suapan Arya. Mata Sukma melebar, tapi bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman.
__ADS_1
Ia saling memaku pandang dengan Arya. Tiba-tiba tangan laki-laki itu terjulur ke depan. Semua menahan nafas dengan apa yang akan di lakukan Arya selanjutnya.
Semua menanti kejadian seperti adegan romansa di film-film. Sukma bahkan ikut menahan nafas, hingga lupa untuk mengunyah.
Arya menepuk pipi Sukma yang menggembung karena mie yang belum di telan. Gadis itu bernafas lega ketika laki-laki di depannya kembali terfokus dengan makanan.
Indra mangangkat tangan seolah menyerah. Ia menggeleng keras di hadapan Andra. Tadi memang ia meminta Arya untuk menyuapi Sukma, tapi kejadian yang barusan sungguh bukan ia yang meminta.
Semangkuk mie ayam habis di lahap Arya. Ia mengulurkan tangan membantu Sukma berdiri. Mereka jalan berdampingan sepanjang lorong sekolah.
"Kau tahu, jika tidak nyaman kita bisa mengakhirinya." Arya memulai perbincangan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja tolong beritahu aku jika ingin melakukan sesuatu." Sukma berhenti dan memberikan senyum tipis.
Arya menganggukan kepala paham. Ia memandang ke tangan Sukma yang berayun bebas. Menggaruk kepala sebentar dan memandang arah lain.
"Kalau aku menggandeng tanganmu?" tanya tiba-tiba Arya setelah sekian lama terdiam.
"Tentu, silakan." Sukma mengangkat tangannya di depan wajah Arya. Laki-laki itu dengan senang hati menautkan tangan mereka berdua.
Keduanya tersenyum bersenda gurau. Tidak memperhatikan banyaknya orang yang berpapasan dengan mereka. Jika mereka pasangan asli, pasti akan ada yang bilang, "Serasa dunia milik berdua, yang lainnya hanya mengontrak."
Flashback off
"Jadi, kalian ingin mencoba kembali bersama?" tanya Indra yang masih penuh dengan makanan.
Arya melotot dengan raut wajah datar. Jika di ingat, kenapa ia bisa sepolos itu ya. Mengikuti setiap yang dikatakan Indra begitu saja.
Ya, setidaknya masa SMA jadi lebih tenang. Ia jadi tidak menerima surat atau pernyataan cinta lagi dari para gadis.
Setelah lulus pun dia dan Sukma memperjelas hubungan mereka lagi. Semua yang terjadi adalah bentuk bantuan antar teman. Tidak ada hubungan romansa di antara keduanya.
__ADS_1