
Rembulan menghiasi langit malam. Gemerlap bintang ikut memperindah bersama sang bulan. Waktu untuk beristirahat dari penatnya aktivitas.
Tapi, ada pula yang masih berkeliaran di luar. Tentu karena hanya waktu malam mereka bisa berjalan-jalan di hari kerja. Selebihnya hanya orang-orang yang ingin mengisi perut sebelum tidur.
Seperti dua anak manusia ini yang masih melanjutkan makan. Lebih tepatnya Nindia yang belum menyelesaikan makannya. Arya bahkan sudah membersihkan tangannya.
Arya memperhatikan gadis itu dalam waktu yang lama. Bagaimana cara makannya, mulutnya yang bergerak menguyah makanan. Semua diperhatikan oleh laki-laki itu.
Saat ibu penjual tadi berkata mereka seperti pengantin baru, entah kenapa dia tidak marah sama sekali. Dia justru tertawa geli. Bagaimana mungkin dirinya yang sudah berumur 25 tahun dikatakan pasangan gadis muda seperti Nindia.
Uhuk uhuk
Nindia terbatuk dengan kencang ketika tidak sengaja bertemu tatap dengan Arya. Ia segera menyambar minum di sampingnya. Meminum dengan rakus hingga tandas.
Beberapa tetes air itu mengalir di sela bibir. Membasahi dagunya yang kecil. Ia mencoba mengelap sisa air dengan tangan.
"Pelan-pelan aja, nggak akan kakak tinggal kok," ucap Arya memberikan tisu untuk membersihkan mulut Nindia.
Gadis itu menerima tisu yang diberikan oleh Arya. Pipinya bersemu merah entah karena apa. Padahal belum tentu laki-laki itu benar-benar menatapnya. Siapa tahu ada sesuatu yang menempel di wajahnya bukan?
Ia mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan makan. Tidak ada pembicaraan yang dilakukan. Nindia melihat langit malam yang semakin larut, tapi justru makin ramai orang berlalu lalang.
"Ngomong-ngomong umur kamu berapa sih Nin?" tanya Arya karena merasa bosan diam saja. Ia penasaran dengan usia gadis yang pernah diusili ini.
Nindia menelan terlebih dahulu makanan yang masih di mulut. Kemudian dia berkata, "Umur Nindia 18 kak."
"Masih muda banget. Maaf ya dulu kakak pernah jahat sama kamu," ujar Arya lagi dengan tulus.
Nindia menggelengkan kepalanya lalu mulai tersenyum lebar. "Nggak papa kak. Wajar kalau kakak khawatir dengan Aya. Nindia juga kadang cemas kalau adik Nin dijahili orang," kata Nindia lagi.
__ADS_1
Gadis itu mencuci tangan di mangkuk berisi air hangat. Mengambil beberapa lembar tisu. Gadis itu meletakan bekas makannya di pojok meja agar penjualnya mudah untuk mengambil.
Menunggu beberapa menit bagi Arya. Hanya keterdiaman yang kembali merajai diantara mereka. Aya yang mencoba mencari udara karena kekenyangan, sedangkan Arya yang menatap jalan yang ramai.
"Mau pulang sekarang?" tanya Arya yang diberi anggukan oleh Nindia. Keduanya bergegas ke luar dan naik motor untuk pulang.
Entah memang sejak awal sudah mendung, atau nasib mereka yang kurang baik, hujan turun dengan deras begitu saja. Arya menepikan motornya di bawah ruko yang tutup.
"Ah, kita nggak mungkin menerobos kalau tiba-tiba hujan deras seperti ini," kata Arya memberi pengertian kepada Nindia.
"Padahal sebentar lagi kita sampai rumah," keluh Nindia.
Gadis itu menengadahkan tangan menampung tetesan hujan. Air itu begitu dingin mengalir di sela-sela jari jemarinya.
Awalnya keduanya hanya diam tanpa suara. Namun, Arya mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. Daripada kedinginan karena suhu suara dan kecanggungan, lebih baik mencari topik pembicaraan bukan?
Nindia menganggukan kepala. Tangannya bertaut satu smaa lain, menghalau rasa dingin yang mulai datang. Arya menengok ke arah gadis di sampingnya ketika tidak mendapat jawaban.
Melihat Nindia yang kedinginan, laki-laki itu bergegas mengambil jaket yang ada di jok belakang motor. Sepertinya ia ingat pernah meninggalkan jaket kulitnya saat akan mengservis motor nya ini.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Arya memakaikan ke bahu ringkih Nindia. Gadis itu menoleh ke kanan dimana Arya berada. Ia berterima kasih karena merasa lebih baik.
"Nindia punya adik. Seumuran dengan Aya." Nindia menjawab dengan agak panjang setelah merasa lebih hangat.
Angin bercampur air hujan menerpa wajah Nindia. Rambutnya berantakan menutupi wajah gadis itu. Arya tertawa dan membantu meminggirkan rambut itu. Menyelipkan beberapa helai rambut ke telinga.
"Pantas kau sangat dekat dengan Aya." Arya tetap terkekeh pelan karena gadis itu belum selesai merapikan rambut, angin kembali menghembuskannya.
"Mereka bahkan memiliki sifat yang sama," ucap Nindia menerawang kenangan bersama sang adik.
__ADS_1
Keduanya memiliki umur yang sama dan sifat yang persis. Karena itu ia merasa nyaman dengan Aya. Hanya saja Sasya memiliki perawakan yang lebih besar dibanding dengan adik Arya.
Tiba-tiba ia merasa sesak karena mengingat keluar di kampung. Gadis itu rindu dengan rumahnya. Ia ingin pulang, tapi ia harus bekerja. Ia sebisa mungkin menahan air mata yang mendesak ke luar.
Hujan mulai berhenti bersama hati Nindia yang mulai di tertekan. Arya mengajak gadis itu untuk segera pulang. Laki-laki itu takut jika terlalu lama di luar akan menyebabkan demam.
Keduanya kembali menaiki motor untuk pulang ke rumah. Bertepatan mereka di gerbang, mobil Wildan juga berhenti di belakangnya. Mereka akhirnya masuk bersama-sama.
Nindia izin untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Arya yang juga terkena hujan melenggang masuk ke dalam kamar. Ia tidak ingin kembali sakit, saat ia baru saja sembuh dari diarenya.
Di kamar Nindia mulai melepas setiap pakaian yang melekat di tubuh. Menyalakan air hangat dan berendam beberapa saat. Menghayati setiap kehangatan yang membuatnya nyaman.
Gadis itu mulai terisak. Air mata meleleh di pipinya yang tirus. Ia sungguh sangat merindukan rumah. Dia ingin kembali merasakan pelukan ibunya.
Walapun Arya tidak lagi jahil dan mengganggu, setiap anak pasti merindukan rumah tempat ia dibesarkan. Di mana ia bermain dan memulai mempelajari semua yang ada di hidup.
Ia mengusap air mata yang mengalir deras. Ia seperti manusia yang tidak bersyukur. Di mudahkan dalam pekerjaan yang menganggapnya anggota keluarga sendiri. Dimana lagi ia bisa menemukan rumah sehangat ini.
Tok tok
Suara ketukan pintu terdengar samar. Nindia bangkit dan bergerak cepat untuk mengganti baju. Saat ia membuka pintu, wajah Aya membuat gadis itu kembali tersenyum.
Remaja itu membawa secangkir teh hangat di pangkuannya. Nindia menerima itu dengan senang hati dan mulai meminumnya dengan hati yang lapang. Ia harus bertahan untuk masa depan Sasya.
Di lain tempat, Arya baru saja selesai mandi. Ia merebahkan tubuh dan memandang langit-langit kamar. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika mengingat semua tentang Nindia.
Ia menggelengkan kepala beberapa kali menghilang bayangan gadis itu. Bagaimana mungkin ia bisa menyukai gadis yang bahkan belum berumur 20 tahun.
Sepertinya ia akan gila jika terus begini. Berguling ke kanan dan ke kiri mencoba mengusir bayangan Nindia di otaknya. Laki-laki itu menutup seluruh wajahnya dan mencoba untuk tidur. Menyambut hari esok, berharap dapat menenangkan hatinya.
__ADS_1